Status Hadits Cinta Nabi, Ahlul Bait & Membaca Al-Qur’an

Status Hadits Cinta Nabi, Ahlul Bait,& Membaca Al-Qur’an

Pertanyaan :

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Ustadz mau bertanya tentang hadist berikut apakah shohih?

“Ajarilah anak- kalian  tiga perkara, cinta kepada Nabi, cinta kepada keluarga Nabi, dan membaca Al- qur’an.” (HR Thabrani, Ibnu Majah, dan Ad- Dailami).

Saya diajak kerjasama dengan salah satu penerbit buku yang saya sendiri takut jika penerbit tersebut condong ke syi’ah.

(Dari Nur Anggota Grup WA Bimbingan Islam T04-50)

Jawaban :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Terimakasih atas pertanyaannya semoga Allah senantiasa menambahkan kepada kita ilmu sehingga kita diberikan kemampuan melalui perantara ilmu tersebut untuk membedakan mana yang haq dan mana yang batil. Kemudian Allah anugrahkan kepada kita kekuatan untuk menjauhinya.

Hadits di atas derajatnya DHA’IF JIDDAN.

Dan perlu diklarifikasi lebih lanjut tentang status penerbit tersebut, kalau dia banyak menerbitkan buku-buku dengan judul ‘ahlul bait’ atau yang senada, maka kita harus waspada, karena ini merupakan (salah satu, -ed) ciri khas syi’ah.

Pertama hadis yang ditanyakan tersebut dha’if jiddan/lemah sekali, ia datang dengan redaksi sebagai berikut :

 

أدبوا أولادكم على ثلاث خصال: على حب نبيكم، وحب أهل بيته، وعلى قراءة القرآن، فإن حملة القرآن في ظل الله يوم لا ظل إلا ظله، مع أنبيائه

 

“Didiklah anak-anak laian tiga hal ; cinta kepada nabi, cinta kepada keluarga nabi, dan membaca Al-Qur’an. Karena sesungguhnya para pembawa Al-Qur’an akan berada di bawah naungan Allah bersama para nabi pada hari tiada naunganlain selain naungan Allah”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Ad-Dailami (1/1/24) dari Ja’far bin Muhammad Al-Husain, mengatakan kepada kami Al-Hasan bin Al-Husain, mengatakan kepada kami Shalih bin Abil Aswad, dari Makhariq bin Abdurrahman, dari  Ja’far bin Muhammad dari ayahnya dari Ali secara marfu’.

Sanad dari hadits ini dha’if jiddan/lemah sekali karena di dalamnya terdapat banyak sekali masalah diantaranya :

  1. Makhariq bin Abdurrahman tidak ditemui adanya data tentang dirinya.

  2. Shalih bin Abil Aswad ini dikomentari oleh Al-Imam Adz-Dzahabi : Banyak salahnya.

  3. Hasan bin Al-Husain ini dikomentari oleh Al-Imam Ibnu Abi Hatim : Bukan rawi yang bisa dipercaya.

  4. Ja’far bin Muhammad bin Al-Husain, tampak ia adalah sosok yang tertulis di Al-Mizan dengan nama Ja’far bin Muhammad bin Ja’far bin Ali bin Al-Husain bin Ali, ia dikomentari oleh Imam Al-Jaurqani di dalam kitab Al-Abatil : dia ini di jarh/dicela. (Lihat Silsilah Ahadits Adh-Dha’ifah : 5/181 hadits No. 2162).

Dari pengalaman membaca yang sudah-sudah, memang kita dapati banyak orang-orang syiah yang mengulas hadis di atas dalam bentuk makalah-makalah, tulisan-tulisan dan itu banyak tersebar di kalangan mereka. Itu dilakukan dalam rangka menjaring pengikut yang lebih banyak lagi. Karena metode syiah pertama kali dilakukan dalam merekrut pengikut ialah dengan cara bersembunyi di balik doktrin cinta kepada ahlul bait, bahkan mereka mengklaim satu-satunya kelompok yang paling mencintai dan paling mengikuti ajaran ahlul bait.

Tapi semua ini kedustaan, karena setelah itu mereka akan mengobarkan api dendam dan kebencian kepada setiap orang yang ia anggap tidak cinta pada ahlul bait. Yaitu ahlis sunnah wal jama’ah, yaitu setiap orang yang tidak mau ikut bergabung bersama mereka, maka tidak heran jika dimana saja syiah berada biasanya akan timbul pertumpahan darah di sana na’udzubillah min dzalik. Syaikh Zaid Al-’Utaibi berkata menjelaskan cinta palsu orang syiah kepada ahlul bait :

 

فأهل السنة محبون لآهل البيت يتولونه ويحفظون فيهم وصية رسول الله صلى الله عليه و سلم لا محبة الشيعة المزعومة التي قد حصرت آل البيت في أشخاص معدودين وكفروا ولعنوا وعادوا البقية وانحرفوا عن سنة الرسول صلى الله عليه و سلم وحادوا عن نهج عن سلفه رضي الله عنهم وأرضاهم وأن من لم يتبع سنة رسول الله صلى الله عليه و سلم ليس له حظ في محبته ولا محبة آل بيته رضي الله عنهم وقد ربط الله تعالى محبته بالإتباع لرسوله صلى الله عليه وسلم فقال تعالى : قل إن كنتم تحبون الله فاتبعوني يحببكم الله ويغفر لكم ذنوبكم والله غفور رحيم

 

“Maka ahlis sunnah wal jama’ah sangat mencintai ahlul bait nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, berloyalitas kepada mereka serta menjaga wasiat nabi shalallahu a’alihi wa sallam untuk tetap menjaga ahlul bait. Tidak seperti kecintaan palsu orang Syiah kepada ahlul bait. Mereka membatasi ahlul bait dengan jumlah yang terbatas (Hanya Ali, Fatimah, Hasan dan Husain yang sering mereka sebut Ashabul Kisa’), kemudian mereka mengkafirkan ahlul bait nabi yang lainnya, mencaci mereka, melaknat mereka serta memusuhinya. Hingga mereka menyimpang dari sunnah rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam serta menyimpang dari manhaj para sahabat radhiyallahu ‘anhum.

Orang-orang yang tidak mengikuti sunnah nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mereka tidak berhak untuk mencintai nabi dan ahlul bait nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Karena Allah mensyaratkan kecintaan kepada nabi untuk mengikuti sunnah nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, Allah ta’ala berfirman :

“Katakanlah hai Muhammad, jikakalian mengaku mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian, mengamouni dosa-dosa kalian dan Allah itu Zat yang MahaPengampun Lagi Maha Penyayang”. (QS. Ali Imran : 31). (Wasa’il Wa Asalib Syiah Imamiyah Itsna Asy’ariyah Fi Nasyri Madzhabihim Wa Subulu Muwajahatihim : 156-157 Zaid bin Abdillah bin Qa’id Al-’Utaibi).

Namun itu saja tidak cukup menjadi bukti bahwa seseorang menganut ajaran syiah hanya karena menge-share hadits tersebut. Karena bisa jadi ia belum faham akan status keshahihan hadits tersebut. Karena memang secara makna hadits ini benar, seorang muslim harus memiliki rasa cinta kepada nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga beliau dan juga gemar membaca Al-Qur’an. Perlu ada penelitian lebih lanjut serta tabayyun lebih banyak. Dan jika kita ragu apakah penerbit ini syiah atau bukan, lebih baik mencari penerbit lain yang sudah jelas aqidahnya.

Wallahu a’lam.

Referensi :

  • Silsilah Ahadits Adh-Dha’ifah oleh Al-Imam Al-Albani

  • Wasa’il Wa Asalib Syiah Imamiyah Itsna Asy’ariyah Fi Nasyri Madzhabihim Wa Subulu Muwajahatihim oleh Zaid bin Abdillah bin Qa’id Al-’Utaibi.

 

Konsultasi Bimbingan Islam

Ustadz Abul Aswad Al Bayati

Reviewed oleh Ustadz Dr. Sufyan Baswedan Lc MA