Status Darah Kering Pada Luka Atau Pembedahan

Status Darah Kering Pada Luka Atau Pembedahan

Status Darah Kering Pada Luka Atau Pembedahan

Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُه

Afwan Ustadz…
Saya ingin bertanya tentang status darah kering disebabkan luka dalam atau pembedahan. Sekiranya darah tersebut belum 100% hilang kesannya kerana lama dalam balutan, adakah wudhu atau mandi wajib masih sah? Mohon pencerahannya.

Jazaakallohu khoyron atas penjelasannya.

(Disampaikan oleh Fullanah Sahabat BiAS)


Jawaban :

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.

Sah wudhunya insyaAllah, yang demikian karena kami secara pribadi meyakini bahwa pendapat yang lebih benar dalam masalah ini bahwa darah manusia itu tidak najis. Akan tetapi yang najis adalah darah haidh. Adapun darah yang keluar dari luka maka tidak najis, Imam Asy-Syaukani menyatakan :

أقول: لم يصح في كون كل الدم نجسا شيء من السنة

“Aku katakan ; tidak ada sunnah yang shahih sedikitpun yang menjelaskan najisnya seluruh darah.”

(As-Sailul Jarar : 1/30).

Imam Al-Albani menyatakan :

قد ثبت عن بعض السلف ما ينافي الإطلاق المذكور، بل إن بعض ذلك
في حكم المرفوع إلى الرسول صلى الله عليه وسلم.
1 – قصة ذلك الصحابي الأنصاري الذي رماه المشرك بثلاثة أسهم وهو قائم يصلى
فاستمر في صلاته والدماء تسيل منه. وذلك في غزوة ذات الرقاع، كما أخرجه
أبو داود وغيره من حديث جابر بسند حسن كما بينته في ” صحيح أبي داود ” (192)

“Telah sah dari sebagian salaf apa-apa yang menafikan kemutlakan di atas (najisnya darah). Bahkan sebagian riwayat-riwayat ini memiliki hukum marfu’ sampai kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

1. Kisah shababat dari kalangan Anshar yang dipanah oleh orang musyrik dengan tiga anak panah dalam kondisi ia sedang shalat. Hingga darahnya mengalir deras akan tetapi ia tetap melanjutkan shalatnya.

Kejadian ini ada pada saat peperangan Dzatur Riqa’ sebagaimana dikeluarkan oleh Imam Abu Dawud dan yang lainnya dari hadits Jabir dengan sanad hasan sebagaimana telah aku jelaskan di dalam kitab Shahih Abi Dawud : 192.”

(Silsilah Ahadits Ash-Shahihah : 1/605).

Wallahu a’lam
Wabillahit taufiq

Dijawab dengan ringkas oleh:
👤 Ustadz Abul Aswad Al Bayati, حفظه الله تعالى
📆 Kamis, 12 Sya’ban 1440 H / 18 April 2019 M

CATEGORIES
Share This

COMMENTS