Sikap Seorang Mukmin Ketika Ditimpa Musibah dan Krisis

Sikap Seorang Mukmin Ketika Ditimpa Musibah dan Krisis

Sikap Seorang Mukmin Ketika Ditimpa Musibah dan Krisis

Islam merupakan agama yang sempurna, tidak ada suatu kebaikan melainkan telah ada anjurannya dalam islam, dan tidak ada keburukan melainkan telah ada peringatannya. Demikian juga, tidak ada permasalahan melainkan telah dijelaskan jalan keluarnya dalam islam.

Ketika suatu krisis menerpa kita, maka ada empat hal yang perlu kita tanamkan pada diri kita masing-masing:

Yang pertama: Krisis dan Musibah adalah Ujian dari Allah

Krisis ini terjadi sebagai ujian dari Allah subhanahu wa ta’ala untuk orang-orang mukmin dan istidraj bagi orang-orang munafik dan kafir. Maka hendaknya, kita sebagai seorang mukmin menyikapinya dengan sabar.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

 وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ۝ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ۝ أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ۝

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.

Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (Q.S. Al Baqarah 2: 155-157)

Dalam ayat di atas jelas-jelas Allah menyebut krisis harta, kelaparan, dan kekurangan buah-buahan merupakan salah satu ujian buat kita. Dan Allah juga menjelaskan bagaimana hendaknya seorang mukmin menyikapinya, yaitu dengan bersabar. Allah berjanji akan membalas orang yang bersabar dengan tiga balasan,yaitu: keberkahan yang sempurna, rahmat, dan mendapat petunjuk dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Yang kedua: Krisis dan Musibah terjadi disebabkan perbuatan manusia

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (Q.S. Ar-Ruum 30:41).

Maka sudah selayaknya bagi kita untuk tidak mencari kambing hitam karena sesungguhnya noda hitam itu ada pada diri kita sendiri. Sejatinya itu semua merupakan ulah penyimpangan kita sendiri. Jika noda hitam itu sudah hilang dari diri kita niscaya Allah akan angkat musibah-musibah dan krisis-krisis yang menimpa kita. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (Q.S. Al-A’raaf 7:96).

Yang ketiga: Mengadu, memohon, dan berserah diri hanya kepada Allah

Perlu kita yakini bahwa tidak ada yang mampu mengangkat dan menghilangkan krisis ini kecuali Allah subhanhu wa ta’ala maka hanya kepadaNya kita mengadu, memohon, dan berserah diri.

Akan tetapi yang terjadi di sekitar masyarakat kita sangat memprihatinkan, ketika kemiskinan melanda mereka justru semakin jauh dari Allah subhanahu wa ta’la. Mereka mendatangi klinik-klinik perdukunan, meminta pesugihan, dan mengamalkan amalan-amalan yang mengandung kesyirikan. Maka percayalah tidaklah semua itu menambah mereka kecuali rasa lemah dan kesengsaraan.

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwasanya jimat merupakan kesyirikan dengan membawakan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ  وَالتِّوَلَةَ  شِرْكٌ

Dari, ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya jampi-jampi, jimat, dan tiwalah adalah syirik.” (HR. Abu Dawud No. 3883, dan Ibnu Majah No. 3530)

Yang keempat: Mencari solusinya

Sebagaimana setiap penyakit pasti ada obatnya, demikian juga setiap permasalahan pasti ada jalan keluarnya. Sedangkan tugas kita hanyalah mencarinya.

Secara umum solusi dari setiap permasalahan yang kita hadapi dan krisis yang ada di tengah kita saat ini adalah dengan kembali kepada ajaran-ajaran islam. Karena sesungguhnya setiap kebaikan akan kita dapatkan ketika kita mengikuti ajaran-ajaran Islam dengan benar dan setiap keburukan akan menimpa kita ketika kita menyekisihi petunjuk-petunjuk Allah dan RasulNya. Dan tidaklah setiap masalah yang kita hadapi sekarang ini melainkan solusinya ada dalam kitab dan sunnah.

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ، لَنْ تَضِلُّوا مَا مَسَكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللَّهِ، وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ

“Aku meninggalkan untuk kalian dua perkara dan kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang teguh dengan keduanya, yaitu kitabullah (Al-Qur’an) dan sunnahku.” (HR. Tirmidzi No. 3075, Ahmad No. 311, 362)

Adapun yang mencari solusi pada selain Al-Qur’an dan Sunnah maka akan semakin membawanya jauh dari jalan keluar permasalahannya dan kehidupannya akan semakin sempit. Dan ini sudah janji Allah subhanahu wata’ala.

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ۝قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَىٰ وَقَدْ كُنتُ بَصِيرًا۝ قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا ۖ وَكَذَٰلِكَ الْيَوْمَ تُنسَىٰ۝

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta”.

Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam Keadaan buta, Padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?”

Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, Maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan.” (Q.S. Thoha 20:124-126)

Solusi Krisis Ekonomi Zaman Ini

Diantara solusi islami dalam mengatasi krisis

  • Meninggalkan semua bentuk mu’amalah ribawiyah

Telah kita ketahui bersama bahwasanya riba merupakan salah satu sebab terjadinya krisis ekonomi maka sudah seharusnya bagi seorang muslim meninggalkannya.

  • Meninggalkan semua sumber pendapatan yang haram

Ada dua kaedah pokok dalam bermu’amalah maaliyah (kegiatan yang berhubungan dengan harta, seperti berdagang, berhutang, menyewa, dan lain sebagainya) dalam islam, yang mana keduanya harus dijaga dan jangan sampai melanggar batasan-batasan syari’at.

Dua kaedah pokok ini tercantum dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لا تزول قدما عبد يوم القيامة حتى يسأل عن اربع خصال، عن عمره فيما أفناه، وعن شبابه فيما أبلاه، وعن ماله من أين اكتسبه وفيما أنفقه، وعن علمه ماذا عمل فيه

Tidak akan bergeser telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ditanya tentang empat hal: tentang umurnya untuk apa dia habiskan, tentang masa mudanya untu apa dia habiskan, tentang hartanya dari mana dia dapatkan dan untuk apa dia habiskan, dan tentang ilmunya dalam hal apa dia amalkan. (HR. Ad Darimi No. 556)

Yang pertama adalah pemasukan, hendaknya seorang muslim memperhatikan dari mana dia mendapatkan hartanya. Apakah dari jalan yang halal atau dari jalan yang haram. Karena pemasukan dari yang haram merupakan salah satu sebab tidak adanya keberkahan dalam harta. Ketika harta tidak ada lagi berkah maka sebanyak apapun harta tersebut, pemiliknya akan tetap merasa kekurangan.

Harta yang haram adalah harta yang kotor. Allah subhanahu wa ta’ala tidak menyukai suatu yang kotor. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قُل لَّا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ ۚ فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Katakanlah: “tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, Maka bertakwalah kepada Allah Hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.” (Q.S. Al-Maidah 5:100)

Ketika harta haram sudah menyebar dan manusia sudah terbiasa dengan penghasilan yang haram maka yang terjadi adalah kerusakan. Ketika kerusakan sudah terjadi akibat ulah tangan manusia maka yang terjadi selanjutnya adalah adzab Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana Allah firmankan:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (Q.S. Ar-ruum 41).

Yang kedua adalah pengeluaran, untuk apa harta tersebut dikeluarkan. Tanpa kita sadari ternyata pengeluaran yang tidak benar ternyata ikut andil dalam terjadinya krisis ekonomi. Jika kita melihat Negara penganut sistem kapitalis yang sekarang dilanda krisis seperti Amerika. Kita akan dapati kebanyakan pengeluaran mereka untuk hal-hal yang merusak, seperti: untuk memerangi kaum muslimin, produksi khamr, prostitusi, dan lain sebagainya

Zakat disamping merupakan tabungan bagi seorang muslim untuk hari akhir kelak, juga merupakan kekuatan yang dahsyat dalam membangun perekonomian ummat. Kita dapati masyarakat yang selalu menunaikan zakatnya, masyarakat tersebut berada dalam kondisi ekonomi yang stabil. Sejarah telah membuktikan hal ini, pada zaman Bani Umayyah dan Bani Abbasiyyah masyarakat muslim berada dalam perekonomian yang bagus, bahkan pada zaman Umar bin Abdul Aziz sudah tidak terdapat lagi faqir miskin.

Penulis
Ustadz Al-iskandar Bahr, Lc
(Kontributor Bimbinganislam.com)

———————————————————————————————————

– Lulusan S1 LIPIA Fak. Syariah
– Sedang menempuh program pasca sarjana LIPIA jurusan fiqh dan ushul Fiqh
– Telah mendapatkan Ijazah Qiroah Sab’ah beserta riwayat-riwayatnya

 

CATEGORIES
Share This

COMMENTS