Sihir untuk mengetahui apa saja isi hati kita baik isi hati yang terlintas, maupun yang tidak (pikiran kita sendiri), kemudian mereka ungkapkan itu ....

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum , Ustadz..

Saya pernah membaca bahwa Allah akan mengampuni apa yang terlintas di hati kita. Bagaimana jika ada orang yang menggunakan sihir untuk mengetahui apa saja isi hati kita baik isi hati yang terlintas, maupun yang tidak (pikiran kita sendiri), kemudian mereka ungkapkan itu melalui lisan mereka? Apakah kita tetap berdosa?

Terima kasih sebelumnya.

Dari Hamba Alloh di Tangerang Selatan / Grup di BIAS: T04 G-15

Jawaban :

Wa’alaikumussalaam warahmatullah wabarakaatuh

Akhi, perlu diketahui bahwa apa yg terlintas dalam hati maupun pikiran kita termasuk ilmu ghaib yg tidak diketahui, kecuali oleh Allah, sebagaimana dalam FirmanNya (يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ) “Dia (Allah) mengetahui pandangan mata yg berkhianat, dan apa yg disembunyikan dalam dada.” (Ghafir: 19). Demikian pula firman-Nya (قُلْ إِنْ تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ) “Katakan (wahai Muhammad), bila kalian menyembunyikan apa yg ada dalam dada kalian, atau menampakkannya; maka Allah mengetahuinya.” (Ali Imran: 29). Dan masih banyak lagi ayat lainnya yang menegaskan bahwa semua yang ghaib di langit maupun di bumi hanya diketahui oleh Allah (An Naml: 65). Lihat juga QS. Al An’am: 59 dan Al Jin: 25-26.

Penggunaan sihir untuk tujuan apa pun berarti menjerumuskan pelakunya dalam kufur akbar, alias menjadikannya murtad. Sebab dalam QS. Al Baqarah: 102, Allah menjelaskan salah satu sebab kafirnya syaithan, yaitu karena mereka mengajarkan sihir, dan menukil ucapan Harut dan Marut ketika hendak menjelaskan kepada manusia tentang manakah yang dianggap sihir dan mana yang bukan, “Tidaklah Harut dan Marut tadi mengajari seorang pun, melainkan ia berpesan: ‘Sesungguhnya kami ini adalah ujian, maka janganlah kamu sampai kafir”. Ini menunjukkan bahwa orang yang mengajari maupun mempraktikkan sihir adalah sama-sama kafir alias murtad.

Oleh karena itu, kita tidak boleh memberi kesempatan kepada orang lain untuk membaca isi hati kita, karena itu berarti kita memberinya peluang untuk mempraktikkan sesuatu yang tergolong sihir/kekafiran.
Bahkan kita harus menghindar dari mereka dan meyakini bahwa mereka adalah pendusta belaka, sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi shālallahu ‘alayhi wassalam.

Konsultasi Bimbingan Islam
Dijawab oleh Ustadz Dr. Sufyan Baswedan Lc MA