Ibadah

Sholat Sunnah Tahajud Haruskah Tidur Dahulu?

Pendaftaran Grup WA Madeenah

Sholat Sunnah Tahajud Haruskah Tidur Dahulu?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang Sholat Sunnah Tahajud Haruskah Tidur Dahulu? selamat membaca.

Pertanyaan:

Bismillah Izin bertanya ustadz Apakah shalat tahajjud diwajibkan untuk tidur terlebih dahulu? Jazakumullahu khairan

Ditanyakan oleh Santri Mahad Bimbingan Islam


Jawaban:

Waalaikumsalam warahmatullah wabarokatuh

Tidak mensyaratkan seseorang yang akan menjalankan shalat tahajjud untuk tidur terlebih dahulu, walaupun kondisi terbaik untuk menjalankannya adalah setelah ia tertidur.

Sebagaimana di sebutkan di dalam kitab hasyiyah ad Dasuqi, “Shalat tahajud adalah semua shalat sunah yang dikerjakan setelah isya, baik sebelum tidur maupun sesudah tidur,” (Hasyiyah Ad-Dasuqi, 7/313).

Karena tahajjud memiliki arti mujanabatul hajud (menjauhi tempat tidur). Dan semua shalat malam bisa disebut tahajud jika dilakukan setelah bangun tidur atau di waktu banyak orang tidur.

Ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ,
“Sebarkanlah salam, berilah makanan, sambung silaturahmi, dan kerjakan shalat malam ketika manusia sedang tidur, kalian akan masuk surga dengan selamat,” (HR. Ahmad, Ibn Majah, dan dishahihkan Syuaib Al-Arnauth).

Memang ada perbedaan dalam masalah ini antara yang mensyaratkan tidur terlebih dahulu atau tidak, sebagaimana yang dinyatakan dalam pendapat madzhab syafiI yang mu’tamad ( yang dijadikan sandaran) , seperti perkataan imam Ar-Rafi’i – ulama madzhab Syafii –. Dalam bukunya As-Syarhul Kabir, beliau menegaskan,

التَّهَجُّدُ يَقَعُ عَلَى الصَّلَاةِ بَعْدَ النَّوْمِ ، وَأَمَّا الصَّلَاةُ قَبْلَ النَّوْمِ ، فَلَا تُسَمَّى تَهَجُّدًا

“Tahajud istilah untuk shalat yang dikerjakan setelah tidur. Sedangkan shalat yang dikerjakan sebelum tidur, tidak dinamakan tahajud.”

Imam Romli dalam karyanya Nihayatul Muhtaj Ila Syarhil Minhaj menyebutkan :

ويسن (التهجد) بالإجماع لقوله تعالى {ومن الليل فتهجد به نافلة لك} [الإسراء: 79] ولمواظبته – صلى الله عليه وسلم – وهو التنفل ليلا بعد نوم

Artinya : Shalat Tahajjud disunnahkan dengan kesepakatan ulama berdasarkan firman Allah Taala (dan pada sebagian malam hari shalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu (QS. Al-Isra’ ; 79)) dan juga berdasarkan ketekunan nabi Muhammad ﷺ, dalam melaksanakannya. Shalat Tahajjud adalah shalat sunnah di malam hari setelah tidur. (Syihabuddin Al-Ramli, Nihayatul Muhtaj Ila Syarhil Minhaj, Beirut-Dar al fikr, 1404 H., hal. 131 juz 2.)

Dengan nada yang sama Syekh Sulaiman Ibn Muhamad ibn Umar Al-Bujairomi menyebutkan :

وتهجد- أي: تنفل بليل بعد نوم قوله: بعد نوم- ولو يسيرا، ولو كان النوم قبل فعل العشاء، لكن لا بد أن يكون التهجد بعد فعل العشاء، حتى يسمى بذلك وهذا هو المعتمد

Artinya : Dan sunnah melaksanakan shalat tahajud, yaitu shalat sunnah setelah tidur.

Shalat tahajjud setelah tidur lebih banyak pahalanya.

Sebagaimana yang disebutkan di dalam islam web fatwa no 252877 ketika menjawab terkait masalah keutamaan shalat tahajjud setelah tidur, di sebutkan didalamnya,”

فقيام الليل بعد النوم من أفضل أنواع نافلة الصلاة, جاء في تفسير ابن رجب الحنبلي: ويدخل فيه من نام ثم قام من نومه بالليل للتهجد، وهو أفضل أنواع التطوع بالصلاة مطلقًا. انتهى

Maka shalat malam setelah tidur adalah paling utamanya shalat sunnah, disebutkan di dalam tafsir Ibnu Rajab alhambali,” Dan masuk dalam katagori tersebut adalah orang yang tidur kemudian shalat malam untuk tahajjud, dan secara umum ia adalah shalat sunnah yang paling utama.”

وفي تفسير القرطبي: والتهجد التيقظ بعد رقدة، فصار اسمًا للصلاة؛ لأنه ينتبه لها، فالتهجد القيام إلى الصلاة من النوم، قال: معناه الأسود، وعلقمة، وعبد الرحمن بن الأسود، وغيرهم، وروى إسماعيل بن إسحاق القاضي من حديث الحجاج بن عمر صاحب النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: أيحسب أحدكم إذا قام من الليل كله أنه قد تهجد! إنما التهجد الصلاة بعد رقدة ثم الصلاة بعد رقدة ثم الصلاة بعد رقدة. كذلك كانت صلاة رسول الله صلى الله عليه وسلم. انتهى

“Di dalam tafsir Qurtubi di sebutkan,” dan tahajjud adalah terjaganya setelah tidur, sehingga ia menjadi nama untuk suatu shalat, karena ia perhatian dengannya. Maka tahajjud adalah menjalankan shalat setelah tidur….dan diriwayatkan oleh Ismail bin ishaq alqodi dari hadist Alhajjaj bin Umar sahabat nabi Shallahu alaihi wasallam ia berkata,” apakah kalian mengira bila salah seorang dari kalian shalat malam seluruhnya bahwa ia telah melakukan tahajjud! Sungguh hanyalah shalat tahajjud itu adalah setelah tidur kemudian shalat setelah tidur kemudian shalat setelah tidur. Begitulah shalatnya Rasulullah shallahu alaihi wasallam.”

وقال أيضًا : وقالت عائشة، وابن عباس أيضًا، ومجاهد: إنما الناشئة القيام بالليل بعد النوم. ومن قام أول الليل قبل النوم فما قام ناشئة. انتهى

Dan ia juga berkata,” dan berkata Aisyah, dan juga Ibnu Abbas dan Mujahid,” sungguh hanyalah Nasyiah (bangun malam ) itu dengan melakukan shalat malam setelah tidur. Dan barang siapa yang shalat di awal malam sebelum tidur maka tidaklah di anggap shalat nasyi`ah( malam, sebagaimana yang di maksudkan dalam ayat,”

إِنَّ نَاشِئَةَ ٱلَّيْلِ هِىَ أَشَدُّ وَطْـًۭٔا وَأَقْوَمُ قِيلًا

Sungguh, bangun malam itu lebih kuat (mengisi jiwa); dan (bacaan pada waktu itu) lebih berkesan. (QS. Al-Muzzammil: 6), pent)

وبناء على ما سبق فمن الأفضل قيام الليل بعد النوم, ومن تعمد الاستيقاظ ثم قام الليل في آخره من غير نوم يحصل على ثواب قيام الليل إضافة إلى ثواب قصده، وحرصه على عدم فوات هذه العبادة العظيمة.

والله أعلم.

“Menurut apa yang telah disebutkan diatas, maka yang lebih utama adalah melakukan shalat malam setelah tidur. Barang siapa yang terjaga/tidak tidur kemudian ia melakukan shalat malam di waktu malam yang terakhir dengan tanpa tidur maka ia tetap mendapatkan pahala shalat malam dengan pahala niat dan motivasinya untuk tidak kehilangan kesempatan dalam menjalankan ibadah yang agung tersebut. Wallahu a`lam.”

https://www.islamweb.net/ar/fatwa/252877/

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله

Kamis, 9 Sya’ban 1444H / 2 Maret 2023 M 


Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi BimbinganIslam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله klik di

Ustadz Mu’tasim, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid

Related Articles

Back to top button