Fiqih

Shalat Qashar Ketika di Rumah Keluarga di Luar Kota

Shalat Qashar Ketika di Rumah Keluarga di Luar Kota

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan: Shalat Qashar Ketika di Rumah Keluarga di Luar Kota. Selamat membaca.


Pertanyaan:

Bagaimana kaifiat shalat wajib ketika kita menjadi musafir. Semisal musafir berasal dari Jakarta, safar beberapa hari di kota Yogyakarta, di mana di Yogyakarta kita tinggal beberapa hari di rumah keluarga (misal rumah orang tua).

Selama beberapa hari di Yogyakarta, jika tidak berjama’ah dengan imam muqim, apakah :

1. Shalat 5 waktu di waktu shalat masing-masing, mengqashar yang 4 menjadi 2?

2. Shalat 5 waktu dijamak Dzuhur dan Ashar, Maghrib dan Isya masing-masing 2 raka’at?

3. Shalat 5 waktu di waktu shalat masing-masing tanpa mengqashar yang 4 menjadi 2.

Syukron tadz.

(Ditanyakan oleh Santri Kuliah Islam Online Mahad BIAS)


Jawaban:

Bismillahirrahmanirrahim.

Syariat Mengqashar dan Menjamak Shalat

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa seorang muslim diberikan keringanan bahkan disunnahkan untuk mengqashar shalatnya dan menjamaknya bila membutuhkan jamak, baik jamak taqdim ataupun jamak takhir.

Dalil Bolehnya Mengqashar

Sebagaimana firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidak mengapa kamu mengqashar shalat(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir.” (An Nisaa’: 101)

Dari Ya’la bin Umayyah, bahwa ia pernah bertanya kepada Umar bin Khaththab tentang ayat ini, “Jika kamu takut diserang orang-orang kafir,”sedangkan manusia telah berada dalam keamanan, maka Umar menjawab, “Aku juga heran seperti kamu heran, lalu aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentangnya, maka Beliau bersabda:

صَدَقَةٌ تَصَدَّقَ اللَّهُ بِهَا عَلَيْكُمْ فَاقْبَلُوا صَدَقَتَهُ

Itu adalah sedekah yang disedekahkan Allah kepadamu, maka terimalah sedekah itu.” (HR. Muslim, Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Majah dan Tirmidzi)

عَنِ ابْنِ عُمَرَ، يَقُولُ: «صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانَ لاَ يَزِيدُ فِي السَّفَرِ عَلَى رَكْعَتَيْنِ، وَأَبَا بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ كَذَلِكَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ»

Dari Ibnu Umar, dia berkata: “Aku telah menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau dahulu di dalam safar tidak pernah menambah dari dua raka’at. Aku juga telah menemani Abu Bakar, Umar, dan Utsman, mereka juga demikian”. (HR. Bukhari, no: 1102; Muslim, no: 689)

Dalil Bolehnya Menjamak

Dasar hukum bolehnya menjamak sebagaimana riwayat berikut:

عَنْ مُعَاذٍ قَالَ خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ فَكَانَ يُصَلِّي الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا وَالْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ جَمِيعًا

Dari Mu’adz, dia berkata: “Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam perang Tabuk, maka beliau melakukan shalat zhuhur dan ashar dengan jama’, serta maghrib dan isya’ dengan jama’”. (HR. Muslim, no. 706; Ibnu Majah, no. 1070; dan lainnya)

Melihat dari dasar dasar yang ada, maka diperbolehkan untuk mengaashar shalatnya ketika dalam keadaan safar. Walaupun sebagian ulama berpendapat bahwa bila seseorang melebihi dari 4 hari maka shalatnya seperti mukim, dengan melakukan shalat secara sempurna.

Terputusnya Safar Jika Sudah Mukim Lebih dari 4 Hari

Sebagaimana yang disebutkan dalam islam web no fatwa 427408, “menurut mayoritas para ulama dan fatwa yang ada di web ini bahwa seseorang yang ingin tinggal di suatu daerah yang lebih dari 4 hari maka safarnya telah terputus.

Karenanya jika Anda berniat tinggal 5 hari di tempat kerja Anda, maka tidak boleh melakukan qashar dan juga jamak di tengah Anda bertempat tinggal di tempat kerja. Namun boleh menjamak ketika di tengah perjalanan, baik pergi atau kembali, karena Anda safar dengan jarak yang diperbolehkan mengqashar, seperti yang nampak di pertanyaan Anda.” (https://www.islamweb.net/ar/fatwa/427408/%)

Juga pada fatwa no 375982 dengan mengutip pernyataan Imam Nawawi di dalam kitab Almajmu disebutkan di dalamnya,”

مَذْهَبنَا أَنَّهُ إنْ نَوَى إقَامَةِ أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ غَيْرِ يَوْمَيْ الدُّخُولِ وَالْخُرُوجِ، انْقَطَعَ التَّرَخُّصُ، وَإِنْ نَوَى دُونَ ذَلِكَ، لَمْ يَنْقَطِع

“madzhab kami ( syafi`I) bahwa seseorang yang niat untuk tinggal lebih dari 4 hari selain dari dua hari yang dipergunakan untuk perjalanan masuk atau keluar maka rukhsak /keringanan menjadi hilang, dan jika niatnya kurang dari itu maka belum terputus (boleh mengqashar), ini adalah pendapat dari Utsman bin Affan, Ibnu Musayyib, Imam Malik dan abi Tsaur” (https://www.islamweb.net/ar/fatwa/375982/%)

Berkata syekh Ibnu Baz rahaimahullah ta`alaa menjawab pertanyaan senada yang tinggal di suatu tempat untuk belajar dalam waktu yang lama, apakah boleh untuk menjamak dan mengqashar dalam waktu yang lama, beliau menjelaskan,”

الواجب أن يصلي مع الناس أربعاً، يصلي مع الناس أربعاً في المساجد، ما دام نوى الإقامة أكثر من أربعة أيام عند جمهور أهل العلم يجب أن يصلي مع الناس أربعاً، ويسن له أن يصلي الرواتب

“wajib baginya untuk shalat bersama manusia yang lain 4 rakaat, shalat berjamaah di masjid, selama ia berniat untuk tinggal lebih dari 4 hari menurut pendapat mayoritas ulama….” (https://binbaz.org.sa/fatwas/28508/)

Kapan Dibolehkan Menjamak, Kapan Dibolehkan Mengqashar?

Terkait dengan menjamak shalat maka pada dasarnya jamak diberlakukan karena suatu kebutuhan, misalnya di tengah safar yang membutuhkan jamak untuk kemudahan, atau karena sakit, hujan deras, ketiduran, atau kebutuhan lainnya untuk menjamak shalatnya. Selama ada masyaqaah/kesulitan maka diperbolehkan untuk menjamak shalat.

Dan maksud masyaqqah atau kesulitan di sini adalah keadaan yang tidak biasa di temui dalam kebiasaan kesehariaannya. Sehingga Allah memberikan keringan dengan apa yang didapatkannya, sebagaimana firman Allah ta`alaa:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Allah menghendaki kemudahan atas kalian, dan tidak menghendaki kesulitan.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Sebagaimana perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah :

والقصر سببه السفر خاصة ، لا يجوز في غير السفر. وأما الجمع فسببه الحاجة والعذر

Dibolehkannya menqasar salat hanya ketika safar secara khusus, tidak boleh dilakukan pada selain safar. Adapun menjamak salat, dibolehkan ketika ada kebutuhan dan uzur.” (Majmu’ Al Fatawa, 22/293).

Artinya jamak dilakukan kapan pun ada udzur dan kebutuhan. Sedangkan qashar sebabnya hanya safar dan tidak boleh yang tidak safar ia melakukan qashar. Misalnya bila seseorang sakit atau karena ketiduran, padahal ia tidak dalam safar maka ia boleh menjamak shalatnya namun tidak boleh mengqasharnya.

Shalat Qashar Ketika Tinggal Lama di Luar Kota

Maka, lebih amannya dalam kasus di atas, seseorang yang tinggal lebih lama di suatu tempat untuk tidak melakukan qashar bila niatnya ingin tinggal lama dan tidak ada kepentingan ia mengqasharnya, karena memang waktu dan kesempatan memungkinkan untuk melakukan shalat secara sempurna. Hal ini juga berdasarkan dengan maksud dari rukhsah itu sendiri bahwa ia digunakan karena sebab kesulitan dalam menjalankannya, bila kesulitan maka hukum kembali kepada asalnya. Dan boleh menjamak shalatnya baik dengan qashar atau tidak mengqasharnya ketika ia membutuhkan.

Wallahu a`lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله
Rabu, 17 Rabiul Akhir 1443 H/ 24 November 2021 M


Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi BimbinganIslam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله klik disini

Baca Juga :  Hukum Vaksin MR (Measles and Rubela)

Ustadz Mu’tasim, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid

Related Articles

Back to top button