FiqihKonsultasi

Setelah Sholat Di Masjid Lalu Mengimami Istri di Rumah

Setelah Sholat Di Masjid Lalu Mengimami Istri di Rumah

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang bolehkah setelah sholat di masjid lalu mengimami istri di rumah?

selamat membaca.

Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Ustadz dan keluarga selalu dalam kebaikan dan lindungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Ustadz mohon izin bertanya.

Istri selalu ingin sholat berjamaah di rumah, karena selalu lupa rakaat. Sedangkan suami itu diwajibkan sholat wajib di masjid. Lalu, bagaimana solusinya, Ustadz? Apakah boleh setelah sholat di masjid kemudian sholat lagi mengimami istri di rumah?

Syukran.

(Disampaikan sahabat BiAS).

Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Hukumnya Boleh 

Diperbolehkan bagi suami selepas menunaikan sholat jama’ah di masjid untuk kemudian pulang dan menjadi imam sholat untuk isterinya.

Sholat Pertama Terhitung Wajib, Sholat Kedua Terhitung Sunnah

Sholat suami yang pertama terhitung sebagai sholat wajibnya, adapun untuk sholat yang kedua dia niatkan sebagai sholat sunnah. Dalil perbuatan ini sebagaimana pernah dilakukan oleh sahabat Muadz dalam hadits berikut,

عن جابرٍ رَضِيَ اللهُ عنه، قال: (إنَّ مُعاذَ بنَ جَبلٍ كان يصلِّي مع رسولِ الله صلَّى اللهُ عليه وسلَّم العِشاءَ الآخِرةَ، ثمَّ يرجِعُ إلى قَومِه، فيصلِّي بهم تلك الصَّلاةَ)

“Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, “Sesungguhnya dahulu Muadz bin Jabal rodiyallahu ‘anhu mengikuti solat isya berjamaah bersama Rasul sallallahu alaihi wa sallam, kemudian setelahnya beliau pulang menuju kaumnya dan mengimami mereka untuk solat isya” (HR. Bukhari, 4686).

Dalam riwayat yang lain dikatakan,

كان معاذٌ يُصلِّي مع النبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم العِشاءَ، ثم يَطلُع إلى قومِه فيُصلِّيها لهم؛ هي له تطوُّعٌ، ولهم مكتوبةُ العِشاءِ

“Dahulu Muadz melakukan solat isya bersama Nabi sallallahu alaihi wa sallam, kemudian menuju kaumnya dan melakukan solat isya lagi bersama mereka, solat isya yang kedua ini terhitung nafilah untuk Muadz, dan terhitung solat wajib untuk kaumnya” (HR. Syafii dalam al-Musnad, 237).

Kesimpulan

Dari keterangan dua hadits di atas menunjukkan kebolehan melakukan sholat dua kali jika memang ada kemaslahatannya, yang pertama terhitung sholat wajib baginya, sholat yang kedua terhitung sebagai sholat sunnah, dan hadits ini juga menunjukkan bahwa tidak adanya persyaratan harus sama antara niat imam dan ma’mum ketika pelaksanaan sholat jama’ah, boleh saja imam meniatkan sholat sunnah sedangkan ma’mum berniat sholat wajib, sebagaimana boleh imam seorang musafir yang meng-qashar sholatnya sedangkan ma’mumnya para orang yang mukim yang tidak meng-qashar sholat.

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh:

Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله

Selasa, 08 Ramadhan 1442 H/ 20 April 2021 M

Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله

Beliau adalah Alumnus S1 Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta dan S2 Hukum Islam di Universitas Muhammadiyah Surakarta

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله  klik disini

 

Baca Juga :  Meraih Keberkahan Ilmu Agama

Ustadz Setiawan Tugiyono, Lc., M.HI

Beliau adalah Alumni D2 Mahad Aly bin Abi Thalib Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Bahasa Arab 2010 - 2012 , S1 LIPIA Jakarta Syariah 2012 - 2017, S2 Universitas Muhammadiyah Surakarta Hukum Islam 2018 - 2020 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah, Dauroh Masyayikh Ummul Quro Mekkah di PP Riyadush-shalihin Banten, Daurah Syaikh Ali Hasan Al-Halaby, Syaikh Musa Alu Nasr, Syaikh Ziyad, Dauroh-dauroh lain dengan beberapa masyayikh yaman dll | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Belajar bersama dengan kawan-kawan di kampuz jalanan Bantul

Related Articles

Back to top button