Ibadah

Seputar Dzikir ‘Istighfar’ Dan Hakikatnya

Seputar Dzikir ‘Istighfar’ Dan Hakikatnya

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan Seputar Dzikir ‘Istighfar’ Dan Hakikatnya, selamat membaca.


Pertanyaan:

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

izin bertanya kepada ustadz, kita dianjurkan utk banyak beristighfar, apa saja lafadz istighfar yg shahih? Dan apakah istighfar itu harus dilafadzkan atau bisa dalam hati saja? Jazakallah khairan atas kesempatan bertanya ini.

جزاك الله خيرا

(Dari Fulan Anggota Grup Whatsapp Sahabat BiAS)


Jawaban:

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Wa’alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh

1. Makna Istighfar

Apa makna istighfar? الإستغفار

Lafaz (Al-Istighfar) diambil dari kata إستغفر (Istaghfara) yang berarti memohon kepada Allah Ta’ala maghfirah (ampunan). Maknanya ada keadaan;

1. Kita meminta agar Allah Ta’ala menutup aib-aib kita di dunia dan di akhirat.

Sungguh sangat celaka orang yang dibongkar aibnya oleh Allah Ta’ala di dunia. Orang-orang akan meninggalkannya, menghinakannya, dan menjatuhkannya ketika aibnya terbongkar di dunia. Dan terlebih mengerikan lagi jika aib itu terbongkar di akhirat kelak, di hadapan khalayak banyak, maka sungguh itu adalah tanda kebinasaan. Maka seseorang tatkala beristighfar, maka bermakna bahwa dia meminta untuk ditutupkan aib dan dosa-dosanya dari hadapan manusia.

2. Kita meminta kepada Allah Yang Maha Pemurah agar dosa-dosa kita tidak menimbulkan dampak yang buruk bagi diri kita.

Sejatinya tidak satu dosa pun kecuali pasti menimbulkan dampak. Dan dampak yang paling minimal dari dosa ada membuat hati kita menjadi hitam. Sebagaimana sabda Nabi yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ

“Apabila eorang hamba melakukan suatu dosa, maka di titikkan dalam hatinya sebuah titik hitam dan apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan dan apabila ia kembali maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutup hatinya.” (HR. At Tirmidzi, no. 3334, Ibnu Majah no. 4244, dan lainnya. Imam At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).

2. Istighfar Adalah Zikir Yang Agung

Di antara dzikir yang sangat agung adalah dzikir istighfar. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang orang yang banya memohon ampun,

طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا

“Beruntunglah bagi orang yang mendapatkan didalam catatan amalnya istighfar yang banyak.” (HR. Ibnu Majah, no. 3818).

Orang yang banyak beristighfar kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang beruntung, di dunia maupun di akhirat. Karena orang yang beristighfar, akan dikurangi dosa-dosanya (diampuni) oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, dan dengan istighfar dia akan mendapati banyak kemudahan di dunia dan di akhirat.

3. Perintah Dan Anjuran Agar Banyak Beristighfar

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah mencontohkan pada umatnya untuk memperbanyak zikir istighfar (permohonan ampun). Karena manusia tidaklah luput dari kesalahan dan dosa, sehingga istighfar dan taubat mesti dijaga setiap saat.

Sahabat mulia Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,

وَاللَّهِ إِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

“Demi Allah, aku sungguh beristighfar pada Allah dan bertaubat pada-Nya dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR. Bukhari, no. 6307).

Dari sahabat lain Al Aghorr Al Muzanni mengisahkan bahwa Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda,

إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِى وَإِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِى الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Ketika hatiku malas, aku beristighfar pada Allah dalam sehari sebanyak seratus kali.” (HR. Muslim, no. 2702).

Patokannya adalah bila manusia itu memang banyak dosa dan khilaf, maka ia harus selalu memohon ampun.

4. Lafal-Lafal Istighfar

Semua lafal dalam ayat al Qur’an dan Hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang bermakna permohonan ampun maka termasuk lafal istighfar. Dan lafal ini sangatlah banyak. Di antaranya adalah,

أسْتَغْفِرُ اللهَ

أسْتَغْفِرُ اللهَ وَأتُوبُ إلَيهِ

رَبِّ اغْفِرْ لِي، وَتُبْ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْم

Lafal Istighfar, jika disebut sendirian, maka maknanya adalah menutup dosa-dosa, menghilangkan dampak dari dosa, dan memohon ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karenanya jika istighfar disebut secar sendirian, maka maknanya sama dengan taubat. Demikian pula jika taubat disebut sendirian maka maknanya sama dengan istighfar. Akan tetapi jika istighfar digabung dengan taubat, sebagaimana dalam beberapa lafal di antaranya,

أسْتَغْفِرُ اللهَ وَأتُوبُ إلَيهِ

Maka taubat kedudukannya menjadi lebih tinggi daripada istighfar. Oleh karenanya di dalam Alquran disebutkan,

وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ

Dan (Hud berkata), “Wahai kaumku! Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya.” (QS. Hud : 52)

Ayat ini menggambarkan bahwa kedudukan taubat seakan-akan lebih tinggi daripada istighfar.

Lalu apa bedanya istighfar dan taubat jika digabungkan? Taubat melazimkan seseorang meninggalkan dan berhenti dari maksiat. Adapun istighfar, bisa jadi seseorang mengucapkannya sementara dia masih melakukan suatu dosa. Ini menunjukkan bahwa apakah seseorang mampu meninggalkan dosa-dosanya atau tidak, tetap dia harus beristighfar dan terus memohon ampun kepada Allah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dan ucapan zikir istighfar ini dibenarkan dalam hati dan diucapkan dengan lisan, tidak cukup dengan hati saja, dan lebih sempurna lagi jika dibarengi dengan bukti amalan, dan ini adalah fase menuju taubat nasuha.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Selasa, 26 Rabiul Awal 1443 H/ 2 November 2021 M


Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik disini

Baca Juga :  Pahala Membaca Al Quran Mengalir Kepada Keluarga?

Ustadz Fadly Gugul, S.Ag

Beliau adalah Alumni S1 STDI Imam Syafi’I Jember Ilmu Hadits 2012 – 2016 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Takhosus Ilmi di PP Al-Furqon Gresik Jawa Timur | Beliau juga pernah mengikuti Pengabdian santri selama satu tahun di kantor utama ICBB Yogyakarta (sebagai guru praktek tingkat SMP & SMA) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Dakwah masyarakat (kajian kitab), Kajian tematik offline & Khotib Jum’at

Related Articles

Back to top button