Saya Tidak Tahu !

Saya Tidak Tahu !

Saya Tidak Tahu !

Dikisahkan dalam sebuah atsar, suatu ketika Masruq bin Al-Ajda rahimahullah seorang tabi’in bersama para tabi’in yang lain pergi menemui Abdullah bin Mas’ud. Ketika berjumpa sebagaimana kebiasaan para salaf mereka selalu saling memberi nasehat satu sama lain, maka pada kesempatan itu Abdullah bin Mas’ud menyampaikan nasehatnya kepada para tabi’in yang pada saat itu mereka adalah murid-muridnya, beliau radhiyallu ‘anhu berkata:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، مَنْ عَلِمَ شَيْئًا فَلْيَقُلْ بِهِ، وَمَنْ لَمْ يَعْلَمْ فَلْيَقُلِ اللَّهُ أَعْلَمُ، فَإِنَّ مِنَ العِلْمِ أَنْ يَقُولَ لِمَا لاَ يَعْلَمُ اللَّهُ أَعْلَمُ، قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لِنَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنَ المُتَكَلِّفِ{

‘Wahai sekalian manusia, siapa yang mengetahui tentang sesuatu, sampaikanlah. Dan jika tak tahu, ucapkanlah, ‘Allahu a’lam’. Karena, sungguh, termasuk bagian dari ilmu, jika engkau mengucapkan terhadap sesuatu yang tidak kau ketahui dengan ucapan: ‘Allahu a’lam’. Allah berfirman kepada Nabi-Nya: ‘Katakanlah (hai Rasul): ‘Aku tidak meminta upah sedikit pun pada kalian atas dakwahku dan bukanlah Aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan. (Q.S. Shad  38:86) (Atsar riwayat Al-Bukhori dalam shahihnya 4/1809 no 4531)

Sebuah nasehat yang indah yang dilontarkan seorang guru kepada murid-muridnya, nasehat yang keluar dari hati yang dalam, nasehat yang tidaklah dilontarkan kecuali sebagai tanda sayang seseorang kepada orang yang diberi nasehat.

Pada atsar di atas, sahabat Abdullah bin Mas’ud mengajarkan kepada kita, bahwa seseorang jika ditanya tentang sesuatu yang tidak dia ketahui maka sebaiknya dia tidak berbicara kecuali mengatakan ‘saya tidak tahu’ dan ‘Allahu a’lam’. Karena sesungguhnya perkataaan tersebut adalah termasuk bagian dari ilmu.

Muncul pertanyaan kenapa perkataan seseorang ‘Allahu a’lam’ terhadap sesuatu yang dia tidak ketahui adalah bagian dari ilmu? bukankah pengakuan atas ketidaktahuan adalah penafian atas ilmu?

Alasan Ucapan Allahu A’lam Bagian dari Ilmu

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan, ada dua poin yang menjadikan perkataan tersebut bagian dari ilmu.

  1. Seseorang yang mengatakan ‘saya tidak tahu’ dan ‘Allahu a’lam’ berarti dia mengetahui bahwa dia adalah bukan seseorang yang tahu. Dia memiliki ilmu atas keadaan dirinya dan mengetahui derajat dirinya bahwa dia adalah seorang yang bodoh. Maka pengakuan atas kebodohannya dengan mengatakan ‘saya tidak tahu’ dan ‘Allahu a’lam’ itu adalah bagian dari ilmu, karena dia memiliki ilmu tentang kemampuan dirinya.
    Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah menulis sebuah risalah, yang didalam risalah tersebut ada sebuah ungkapan yang sangat indah, sampai-sampai sebagian ulama mengatakan ungkapan itu berhak ditulis dengan tinta emas. Ungkapan tersebut adalah ‘semoga Allah Ta’ala merahmati seseorang yang mengetahui keadaan dirinya.’
  2. Seseorang jika berkata ‘saya tidak tahu’ dan ‘Allahu a’lam’, maka dia telah membiasakan dirinya untuk berserah diri kepada kebenaran dan tidak sembarang menjawab apa yang tidak diketahuinya. Maka penyerahan diri kepada kebenaran adalah ilmu yang ada pada dirinya, maka jelaslah pengakuan ‘saya tidak tahu’ dan ‘Allahu a’lam’ adalah bagian dari ilmu.

Maka sudah sepantasnya seseorang jika ditanyakan sesuatu apa yang tidak diketahuinya maka hendaknya mengatakan ‘saya tidak tahu’ dan ‘Allahu a’lam.’ Sebagian orang malu mengatakan ‘saya tidak tahu’ karena menganggap apa yang dikatakannya itu akan menurunkan derajatnya. Padahal para Malaikat tidak pernah malu mengungkapkan pernyataan tersebut.

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ۝وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ۝قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ۝

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!”

Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (Q.S. Al-Baqarah 2:30-32)

Didalam Al-Qur’an ketika Allah Ta’ala berkata kepada para malaikat : ‘Sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar!’. Maka para Malaikat menjawab : ‘Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui, Mahabijaksana.’

Wallahu A’lam

Maka janganlah malu katakan ‘Aku Tidak Tahu’ atau ‘Allahu A’lam’

(Sumber bacaan : Bahjatun Naadziriin Syarah Riyadlus Sholihin dan Syarah Riyadus Sholihin Lilutsaimin)

Penulis
Ustadz Gigih Nugraha bin Abidin
(Kontributor Bimbinganislam.com)
Beliau adalah Mahasiswa semester 3 jurusan Ahwal Syakhsiyah STDI Imam Syafi’i Jember
CATEGORIES
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )