ArtikelIbadah

Ringkasan Thaharah: Cara Wudhu, Tayammum dan Mandi Besar sesuai Sunnah

Ringkasan Thaharah: Cara Wudhu, Tayammum dan Mandi Besar sesuai Sunnah

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan: Ringkasan Thaharah: Cara Wudhu, Tayammum dan Mandi Besar sesuai Sunnah.  Selamat membaca.


1. WUDHU

a. Keutamaan Wudhu: Bisa Merontokkan Dosa Hingga Tetes Terakhir

Sobat Hijrah, ini bukan tentang susu, tapi ini tentang wudhu. Ibadah yang bisa merontokkan dosa hingga tetes terakhir. Mari kita simak hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam berikut:

“Tidak ada seorang pun di antara yang mendekatkan air wudhu’nya lalu dia berkumur, memasukkan air ke hidungnya lalu mengeluarkannya kecuali akan berjatuhan kesalahan-kesalahan wajahnya, kesalahan- kesalahan mulutnya dan kesalahan-kesalahan hidungnya.

Jika dia mencuci wajahnya sebagaimana yang diperintahkan oleh Allâh, kesalahan-kesalahan wajahnya akan berjatuhan bersama tetesan air dari ujung jenggotnya.

Kemudian mencuci kedua tangannya sampai siku, kecuali kesalahan-kesalahan tangannya akan berjatuhan bersama air lewat jari-jemarinya.

Kemudian jika ia mengusap kepala, maka kesalahan-kesalahan kepala-nya akan berjatuhan melalui ujung rambutnya bersama air.

Lalu jika dia mencuci kakinya sampai mata kaki, maka kesalahan kedua kakinya akan berjatuhan melalui jari-jari kakinya bersama tetesan air.

Jika kemudian, ia berdiri lalu shalat, kemudian dia memuji Allah menyanjung dan mengagungkan- Nya dengan pujian dan sanjungan yang menjadi hak-Nya dan mengosongkan hatinya hanya untuk Allah kecuali dia terlepas dari kesalahan-kesalahannya seperti pada hari ia dilahirkan dari perut ibunya.” (Muttafaqun ’alaihi).

b. Cara Wudhu sesuai Sunnah

Bagaimana tatacara berwudhu sesuai sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam?

Mari kita simak hadits berikut (yang artinya): ‘Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu anhu minta diambilkan air wudhu lalu berwudhu. Dia basuh kedua telapak tangannya tiga kali. Kemudian berkumur-kumur dan menghirup air ke hidung lalu mengeluarkan- nya.

Lalu membasuh wajahnya tiga kali, kemudian membasuh tangan kanannya hingga ke siku tiga kali, begitupula dengan tangan kirinya. Setelah itu, ia usap kepalanya lantas membasuh kaki kanannya hingga ke mata kaki tiga kali, begitupula dengan kaki kirinya.

Dia kemudian berkata, ‘Aku pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu se- bagaimana wudhuku ini.

Kemudian Rasulullah bersabda, ‘Barangsiapa berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian shalat dua raka’at dan tidak berkata-kata dalam hati,(Tentang urusan-urusan dunia, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam Syarh Muslim. -ed) dalam kedua raka’at tadi, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu.’” (Muttafaqun ‘Alaih)

c. Kapan disyariatkan wudhu?

Sobat hijrah, ada 2 kondisi disyariatkan wudhu: yang wajib dan sunnah. Apa saja? Berikut poin-poinnya:

  1. Hendak sholat (wajib)
  2. Hendak thowaf (wajib)
  3. Hendak berdzikir (sunah)
  4. Hendak tidur (sunah)
  5. Setelah berjima’dan ingin ber- aktivitas lain (sunah)
  6. Setiap berhadats (sunah)
  7. Setiap hendak sholat, walaupun masih punya wudhu (sunah)
  8. Setelah makan makanan yang langsung dibakar api (sunah)
  9. Setelah muntah (sunah)
  10. Setelah menggotong jenazsh (sunah)

2. TAYAMMUM

Sobat Hijrah, ketika seseorang tidak bisa berwudhu/mandi besar, maka dia boleh untuk bertayamum.

a. Cara Tayammum

Bagaimana tayammum yang benar sesuai tuntunan Nabi shallallahu alaihi wa sallam? Mari kita simak: Dari ‘Ammar bin Yasir Radhiyallahu anhu, ia berkata,

“Aku junub dan tidak memiliki air. Aku lantas berguling-guling di atas tanah lalu shalat.

Kuceritakan hal itu kepada Nabi. Lalu beliau berkata: (Artinya) : “Sesungguhnya, cukuplah kau lakukan begini. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menepukkan kedua telapak tangannya ke atas tanah lalu meniupnya. Kemudian beliau usap dengannya wajah dan kedua telapak tangan beliau”

Cukup simpel bukan?

b. Pembatal Wudhu & Tayammum

Sobat hijrah, sebenarnya pembatal wudhu sama dengan pembatal tayammum, hanya ada sedikit perbedaan. Berikut poin- poinnya:

  1. Semua yang keluar dari 2 jalan (kencing, buang air besar, kentut dan lain-lain),
  2. Tidur nyenyak,
  3. Hilang kesadaran karena mabuk atau sakit,
  4. Menyentuh kemaluan tanpa penghalang dengan syahwat
  5. Makan daging unta,
  6. Sebab tayamum hilang (ada air yang bisa digunakan, sakitnya sembuh, dan lain-lain)

3. MANDI BESAR

a. Cara Mandi Besar

Sobat Hijrah yang dirahmati Allah. Setelah kita belajar tentang wudhu, mari kita mengetahui bagaimana tata cara mandi besar yang ini bertujuan untuk menghilangkan hadats besar. Berikut ini haditsnya (yang artinya) :

Dari Maimunah binti Al-Harits radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan:

“Saya menyiapkan air bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mandi junub. Kemudian beliau menuangkan (air tersebut) dengan tangan kanannya di atas tangan kirinya sebanyak dua kali – atau tiga kali.

kemudian beliau cuci kemaluan-nya, lalu menggosokkan tangannya di tanah atau di tembok sebanyak dua kali–atau tiga kali.

Selanjutnya, beliau berkumur- kumur & beristinsyaq (menghirup air), kemudian beliau cuci mukanya dan dua tangannya sampai siku.

Kemudian beliau siram kepalanya lalu seluruh tubuhnya.

Kemudian beliau mengambil posisi/tempat, bergeser, lalu mencuci kedua kakinya.

Kemudian saya memberikan kepadanya kain (semacam handuk, pen.) tetapi beliau tidak menginginkannya, lalu beliau menyeka air (di tubuhnya) dengan menggunakan kedua tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

b. Yang Menyebabkan Harus Mandi Besar

Sobat hijrah yang dirahmati Allah, adapun mandi besar dilakukan karena sebab-sebab berikut:

  1. Keluarnya air mani dengan syahwat
  2. Bertemunya 2 kemaluan, walau tidak keluar air mani
  3. Masuk Islam
  4. Wanita yang baru selesai haidh & nifas
  5. Mandi untuk sholat Jumat atau hari raya.

Disusun oleh:
Ustadz Amrullah Akadhinta, ST.  حفظه الله
Senin, 26 Shafar 1443 H/ 4 Oktober 2021 M


Ustadz Amrullah Akadhinta, ST.
Beliau adalah Sekretaris jenderal KIPMI, direktur operasional BimbinganIslam (BiAS), direktur TwitUlama, dan aktif di yayasan dan lembaga lainnya.
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Amrullah Akadhinta حفظه الله  
klik disini

Baca Juga :  Catatan Penting Tentang Larangan Puasa pada Hari Jumat

Ustadz Amrullah Akadhinta ST

Beliau adalah Alumni S1 Teknik Sipil UGM, Alumni Ma'had Al-'Ilmi, | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial sebagai Pengasuh Twitulama. Ketua Yayasan Bimbingan Islam. Sekretaris KIPMI. Pembina Yayasan Muslim Merapi

Related Articles

Back to top button