Remaja Dalam Sorotan Dakwah bimbingan islam
Remaja Dalam Sorotan Dakwah bimbingan islam

Remaja Dalam Sorotan Dakwah

Masa remaja adalah masa peralihan, dikenal juga dengan masa transisi. Pada waktu dini ini rentan terjadi ketidakstabilan, baik itu emosi maupun kejiwaan. Kata orang : darah mereka sedang bergejolak mencari jati diri sebagai seorang remaja.

Oleh karenanya, dunia remaja merupakan salah satu objek kajian penting, terus berkembang, dan bersifat dinamis. Tak ketinggalan para pegiat dakwah di kampus, atau pun penanggung jawab kerohanian Islam (Rohis) di sekolah-sekolah umum berusaha mencuri perhatian, mengambil langkah strategis sembari  memotivasi mereka para remaja, agar generasi muda penerus bangsa ini sebagai agent of change (agen pembaharu) hidupnya lebih terarah sembari berharap mereka benar-benar  membawa perubahan ke arah kebaikan dan bukan sebaliknya.

Kita tentu sangat prihatin tatkala melihat adanya pemberitaan negatif di berbagai  media tentang  remaja yang bergaul bebas, mengumbar syahwat atas nama cinta, menjadi  pengedar dan pengguna narkoba, tawuran dan masih banyak lagi problem remaja di era digital ini.  Padahal remaja seharusnya tumbuh dengan  perkembangan yang positif dan produktif.

Definisi Remaja

Dalam dunia modern, kata remaja berasal dari bahasa latin “adolescere” yang berarti tumbuh kearah kematangan. Maksud dari kematangan adalah bukan hanya kematangan fisik, akan tetapi juga kematangan sosiologis dan psikologis.
Batasan usia remaja menurut WHO adalah 12 sampai 24 tahun, agak berbeda dengan versi Depkes RI dan BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) bahwa seorang remaja itu,  jikalau  rentang usianya antara usia 10 sampai 19 tahun. (lihat artikel; Kesehatan Refroduksi Remaja, dalam www.rahima.or.id).

Paradigma Barat Dan Solusi Islam

Menurut perspektif  Barat,  Masa remaja itu adalah  masa peralihan dari masa kanak-kanak ke dewasa yang cenderung berperilaku negatif, dan mereka juga tidak memiliki tempat. paradigma inilah yang menyimpulkan, bahwa remaja yang bermasalah  dianggap wajar dan biasa  akibat masa pubertas tersebut.
Hal ini tentu memiliki perbedaan yang mendasar dengan apa yang ada di dalam konsep agama Islam.

Ajaran Islam yang hanif  (condong kepada kebenaran) tidak pernah membenarkan seratus persen adanya penyimpangan moral atau perilaku negatif, termasuk di kalangan remaja.
Islam memposisikan umur sebagai suatu fase pertumbuhan atau tahapan kehidupan manusia yang sangat potensial untuk penanaman nilai-nilai kebaikan serta memiliki hikmah yang agung. Perhatikanlah firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala,

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ يُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ ثُمَّ لِتَكُونُوا شُيُوخًا ۚ وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّىٰ مِنْ قَبْلُ ۖ وَلِتَبْلُغُوا أَجَلًا مُسَمًّى وَلَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang (anak), kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai (tua), di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya).”
(QS. Al Mu’min : 67).

Baca:  Cara Bersabar Dari Musibah Pertama

Ayat tersebut mengingatkan kita sebagai makhluk Allah Ta’ala yang memiliki akal untuk mengenal sang penciptanya dan juga memberi pengertian bahwa secara garis besar fase manusia selama hidup dibagi menjadi tiga fase,  yaitu masa anak-anak, dewasa dan tua.
Jadi dalam perkembangan jiwa manusia menurut konsepsi Islam tidak dikenal adanya  fase remaja yang menjadi fase pertengahan antara usia kanak-kanak dan dewasa. Apalagi jika fase pertengahan tersebut dikaitkan dengan hal-hal yang cendrung negatif dan destruktif (merusak). Adakah yang mau berpikir?

Problematika Remaja

Allah Yang Maha Kuasa menciptakan setiap makhluk di dunia ini dengan sifat fisik dan karakteristik masalah masing-masing, tak terkecuali bagi mereka yang memasuki usia remaja. Problematika yang sering muncul ialah masalah yang bersinggungan dengan jati dirinya sendiri.

Proses pencarian jati diri inilah yang kemudian terkadang sering dimanfaatkan oleh sebagian besar media-media dengan menyajikan tontonan-tontonan atau budaya yang bukan membantu remaja dalam upaya menemukan jati dirinya akan tetapi justru malah sebaliknya, mereka menjerumuskan kaum remaja ke dalam hal negatif  karena orientasi mereka adalah keuntungan materi.
Hal ini tentunya di dasari karena mereka mengetahui bahwa watak para remaja lebih cenderung kepada hal-hal yang sifatnya memeberikan kesenangan ataupun bersifat happy fun (santai lagi santuy).

Keadaan-keadaan tersebut memang sangat memperhatikan dan membuat hati miris, akan tetapi demikianlah realita yang kita hadapi saat ini. Oleh karena itu, sangat dibutuhkan akan adanya perhatian lebih dari berbagai pihak, baik dari pemerintah, orangtua, dan terlebih khusus adalah mereka pewaris para Nabi alias juru dakwah yang nashih.

Pegiat Dakwah Menghadapi Remaja

Seorang da’i atau juru dakwah memiliki peran yang sangat sensitif dalam pembentukan mental dan pola pikir remaja untuk memahami tentang hakikat dan tujuan hidup mereka di dunia ini.
Mengetahui metode atau cara yang tepat bagaimana seharusnya berinteraksi dengan para remaja adalah di antara kunci sukses setelah Taufiq dari Allah Yang Maha Pemberi Hidayah. Jalan para Nabi dan metode dakwah mereka adalah contoh yang terbaik.

Baca:  Pengantar Fiqih Jual Beli : Hukum, Rukun, dan Syarat

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. 
(QS. Yusuf : 108).

Dalam berdakwah dan mengajarkan Islam kepada manusia, seorang da’i perlu memperhatikan dua metode yang diajarkan dalam syariat, yaitu metode menarik simpati dan targhib (menganjurkan/memberikan kabar gembira), dan metode hajr (memboikot/menjauhi) dan mengancam.
Akan tetapi hendaknya ditempuh metode yang paling berguna dan sesuai terhadap orang yang akan didakwahi, sehingga lebih besar harapan untuk ia dapat menerima kebenaran, dan kembali kepada jalan yang lurus.

Rambu-Rambu Dakwah

Berikut ini akan disebutkan beberapa kiat atau rambu-rambu dakwah yang dapat membantu untuk menyampaikan nasehat dan risalah dakwah kepada para remaja, diantaranya:

1. Mengikhlaskan  niat  di dalam  berdakwah

seorang juru dakwah memulai nasehat atau dakwah yang ingin disampaikan, hendaknya untuk selalu mengiklaskan niatnya hanya untuk Allah Ta’ala, mengajak manusia kepada agama Allah Ta’ala dan bukan untuk mencari penggemar, simpatisan dan lainnya, akan tetapi semuanya dipersembahkan Untuk Sang Maha Esa, Allah Ta’ala semata.

قُلْ أَتُحَاجُّونَنَا فِي اللَّهِ وَهُوَ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ وَلَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُخْلِصُونَ

Katakanlah: “Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami, dan bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan (ibadah).”
(QS. Al-Baqarah : 139).

2. Memiliki  ilmu  syar’i  yang  mapan

Sebelum memulai berdakwah, hendaknya seorang da’i harus memiliki pengetahuan yang mapan tentang apa yang akan disampaikannya, sehingga ia tidak berbicara atas nama Allah dan Rasul-Nya tanpa berdasarkan ilmu, Allah Ta’ala berfirman:

Baca:  Khutbah jum’at Beriman Terhadap Azab Kubur

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”
(QS. Al Isra : 36)

Syaikh Bin Baz rahimahullah salah seorang ulama besar Saudi Arabiya menyebutkan tentang arti dari ayat di atas, beliau berkata (yang artinya), “Ayat ini menerangkan tentang metode berdakwah, yaitu dengan hikmah, yakni harus dengan ilmu. Allah dan Rasul-Nya menyebut ilmu itu dengan sebutan hikmah, karena ilmu itu menyangkal kebatilan dan membantu manusia untuk mengikuti yang hak.”
(Majmu’ fatawa Syaikh Ibnu Baz, juz 4/240).

3. Bersikap  lemah  lembut  di dalam  berdakwah

Perintah untuk berlaku lemah lembut, banyak dijelaskan di dalam Al-qur’an dan Sunnah, di antaranya adalah firman Allah Ta’ala ketika memerintahkan Nabi Musa dan Harun untuk menemui Fir’aun, Allah Ta’ala berfirman,

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

 “Maka berbicalah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut mudah-mudahan ia ingat atau takut.”
(QS. Thaha: 44)

Di dalam sebuah hadis, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi  wasallam  pernah bersabda,

مَنْ يُحْرَمِ الرِّفْقَ يُحْرَمِ الْخَيْرَ

“Barangsiapa yang tidak terdapat kelembutan padanya, maka tidak ada kebaikan padanya.” (HR. Muslim, no. 2592).

Jika seorang da’i mendapati ada seorang remaja melakukan pelanggaran, hendaknya jangan langsung berfikiran negatif atau berperasangka buruk. Akan tetapi kenalilah kepribadiaannya lebih jauh, dan tanyakan alasannya kenapa dia berbuat demikian, kemudian ajaklah ia untuk berfikir dan berikan masukan.
Dengan sikap seperti itu, ia akan merasa lebih dihargai dan nasehat yang diberikan pun akan mudah untuk diterima.

(bersambung di bagian tulisan ke-2,  Insyaallah,  Wallahu Ta’ala A’lam).

 

Disusun oleh:
Ustadz Fadly Gugul حفظه الله
(Dewan Konsultasi Bimbinganislam.com)



Ustadz Fadly Gugul حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik disini