Qodho Sholat Magrib Dikerjakan Di Waktu Isya’

Qodho Sholat Magrib Dikerjakan Di Waktu Isya’

Qodho Sholat Magrib Dikerjakan Di Waktu Isya’

Pertanyaan :

بسم اللّه الرحمن الر حيم
السلام عليكم ورحمةالله وبركاته

Titipan pertanyaan dari member.

Ana mau tanya, jika kita meng-qodho sholat magrib dikerjakan di waktu isya. Bolehkah kita sholat magrib ikut berjamaah dengan jamaah sholat isya yang 4 rakaat, sedangkan kita 3 rakaat? (begitu pula jika kita masbuk kepada orang mengerjakan sholat sunnah) ?

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

(Disampaikan oleh R Adits Admin N05)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in.

Bisa melakukan dua atau tiga cara

1. Ia ikut shalat isya dengan niat shalat maghrib.

Ketika sampai rakaat ketiga ia bertasyahud, berdoa, dan langsung salam.

2. Ia ikut shalat isya dengan niat shalat maghrib.

ketika sampai rakaat ketiga ia cukup duduk terlebih dahulu. Saat imam bertasyahud untuk shalat isyanya, baru ia ikut bertasyahud juga. Lalu salam bersama imam.

Dan disana ada cara yang lain, dan untuk dua cara ini cukup simple, dan insyaAllah sudah bisa untuk beramal.

Cara tersebut disebutkan oleh imam An-Nawawi, namun beliau memakai contoh shalat shubuh dengan shalat dhuhur

Beliau berkata :

وَلَوْ نَوَى الصُّبْحَ خَلْفَ مُصَلِّي الظُّهْرِ وَتَمَّتْ صَلَاةُ الْمَأْمُومِ فَإِنْ شَاءَ انْتَظَرَ فِي التَّشَهُّدِ حَتَّى يَفْرَغَ الْإِمَامُ وَيُسَلِّمَ مَعَهُ وَهَذَا أَفْضَلُ وَإِنْ شَاءَ نَوَى مُفَارَقَتَهُ وَسَلَّمَ وَتَبْطُلُ صَلَاتُهُ هُنَا بِالْمُفَارَقَةِ بِلَا خِلَافٍ لِتَعَذُّرِ الْمُتَابَعَةِ وَكَذَا فِيمَا أَشْبَهَهَا مِنْ الصُّوَر

Jika ada seorang berniat shalat shubuh dibelakang imam yang sedang shalat dhuhur. (maka boleh), ketika makmum telah berada dirakaat kedua (tinggal tasyahud dan salam) ia menunggu imam, kemudian bertasyahud bersama imam.

Dan ini lebih utama

Namun, (ia juga boleh ketika selesai shalat shubuhnya, langsung bertasyahud sendiri lalu salam, walaupun tidak bersama imam) atau yang dinamakan “mufaraqah”.

Dan shalatnya tidak batal, walaupun ia tidak mengikuti imam (mendahului imam dalam salamnya).

Karena memang orang tersebut tidak bisa mengikuti imam untuk menambah rakaatnya.

Dan hal ini boleh tanpa ada khilaf.

Kemudian gambaran ini bisa diqiyaskan dengan shalat yang semisalnya.

selesai penukilan
(Al-Minhaj 4/247)

Wallohu A’lam
Wabillahittaufiq.

Dijawab dengan ringkas oleh:
👤 Team Tanya Jawab Bimbingan Islam
📆 Selasa, 14 Jumadal Akhir 1440H / 19 Februari 2019M

CATEGORIES
Share This

COMMENTS