Qadha Puasa Ramadhan Ratusan Hari dengan Puasa Setiap Hari bimbingan islam
Qadha Puasa Ramadhan Ratusan Hari dengan Puasa Setiap Hari bimbingan islam

Qadha Puasa Ramadhan Ratusan Hari dengan Puasa Setiap Hari

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang qadha puasa ramadhan ratusan hari dengan puasa setiap hari.
selamat membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla selalu menjaga ustadz dan keluarga.

Ustadz izin bertanya terkait Fiqih puasa. Jika seorang memiliki hutang puasa Ramadhan dalam jumlah banyak, terhitung ratusan hari, apakah bisa membayarnya (qadha) dengan puasa setiap hari?
Jadi bukan dengan pola puasa Daud, atau puasa sunnah lainnya. Mohon pencerahannya. جزاك الله خيراً

(Disampaikan oleh Sahabat Belajar Bimbingan Islam)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Pada dasarnya mengganti puasa wajib (Qadha Ramadhan) tidak harus berurutan, walaupun jika dilakukan secara berurutan adalah yang terbaik.
Dalam Fatawa Syeikh Ibn Baz nomor 15/352 disebutkan,

إذا أفطر يومين أو ثلاث أو أكثر وجب عليه القضاء ولا يلزمه التتابع ، إن تابع فهو أفضل ، وإن لم يتابع فلا حرج عليه

“Jika seseorang berbuka selama dua hari atau tiga atau lebih, maka wajib baginya mengqadha dan tidak diharuskan terus menerus, meskipun jika dilakukan terus menerus lebih baik, namun jika tidak, tidak mengapa”

Kenapa berurutan lebih baik? Karena sejalan dengan firman Alloh yakni bersegera dalam kebaikan

أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ

“Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya”
(QS Al Mu’minun 61)

Selain itu qodho puasa juga tidak termasuk puasa Dahr yang terlarang, karena yang dimaksud puasa Dahr adalah puasa sunnah yang dilakukan terus menerus. Sebagaimana hadits dari Anas bin Malik rodhiallohu ‘anhu

جَاءَ ثَلاثُ رَهطٍ إِلَى بُيُوتِ أَزوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَسأَلُونَ عَن عِبَادَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ ، فَلَمَّا أُخبِرُوا كَأَنَّهُم تَقَالُّوهَا ، فَقَالًوا : وأَينَ نَحنُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ ؟ قَد غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ ، قَالَ أَحَدُهُم : أَمَّا أَنَا فَإِنِّي أُصَلِّي الَّليلَ أَبَدًا ، وَقَالَ آخَرُ : أَنَا أَصُومُ الدَّهرَ وَلَا أُفطِرُ ، وَقَالَ آخَرُ : أَنَا أَعتَزِلُ النِّسَاءَ فَلَا أَتَزَوَّجُ أَبَدًا ، فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : أَنتُمُ الَّذِينَ قلُتُم كَذَا وَكَذَا ؟ أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخشَاكُم للَّهِ وَأَتقَاكُم لَه ، لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفطِرُ ، وَأُصَلِّي وَأَرقُدُ ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ ، فَمَن رَغِبَ عَن سُنَّتِي فَلَيسَ مِنِّي

“Ada tiga orang mendatangi rumah istri-istri Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam bertanya tentang ibadah Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam. Ketika disampaikan pada mereka, seakan-akan mereka merasa masih kurang, hingga mereka mengatakan, “Dimana kita dari (ibadahnya) Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam? Beliau telah diampuni oleh Alloh dosa yang lalu maupun yang akan datang.

Salah satu di antara mereka mengatakan, “Sementara saya akan sholat malam selamanya.” Yang lain mengatakan, “Saya akan berpuasa selamanya dan tidak berbuka.” Dan lainnya mengatakan, “Saya akan menjauhi wanita dan tidak menikah selamanya.”

Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam datang dan bersabda, “Apakah anda semua yang mengatakan ini dan itu?
‘Demi Alloh, sejatinya saya adalah yang paling takut kepada Alloh dan paling bertakwa kepada-NYa. Akan tetapi saya berpuasa dan berbuka, saya sholat (malam) dan beristirahat dan saya menikahi wanita. Siapa yang tidak menyukai sunahku (kebiasaanku), maka dia bukan dari (golongan)ku”
[HR Bukhori 5063 dan Muslim 1401]

Akan tetapi, tetap saja ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dan mendorong untuk tidak melakukan qodho secara terus menerus dalam waktu yang lama, selain karena bisa bertabrakan dengan hari-hari terlarangnya puasa, juga bertabrakan dengan kondisi tidak bolehnya seseorang berpuasa.
Seperti bertepatan dengan hari raya, Imam An-Nawawi rohimahulloh menjelaskan;

قد أجمع العلماء على تحريم صوم هذين اليومين بكل حال، سواء صامهما عن نذر أو تطوع أو كفارة أو غير ذلك

Ulama sepakat haramnya puasa di dua hari raya, apapun puasanya. Baik puasa karena nadzar, sunnah, kafaroh, dan yang lainnya”
(Syarh Shohih Muslim 8/15)

Atau hari tasyrik, Al-Hafidz Ibn Rojab rohimahulloh menjelaskan sebab larangan puasa di hari tasyrik;

إنما نهى عن صيام أيام التشريق لأنها أعياد المسلمين مع يوم النحر

“Dilarang berpuasa hari tasyrik karena hari tasyrik sejatinya termasuk hari raya kaum muslimin, bersambung dengan hari raya kurban”
(Lathoiful Ma’arif 292)

Atau kondisi dimana suaminya ada di rumah, khususnya jika penanya adalah wanita atau seorang istri, maka saat sedang berpuasa lalu suami mengajak bercumbu terlarang baginya untuk menolak. Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda;

إِذَا الرَّجُلُ دَعَا زَوْجَتَهُ فَلْتَأْتِهِ وَ إِنْ كَانَتْ عَلَى التَّنُّوْرِ

“Apabila seorang suami mengajak istrinya untuk berkumpul hendaknya wanita itu mendatanginya sekalipun dia berada di dapur”
[HR Tirmidzi 4/387, Shohihut Targhib 2/199]

Juga sabda Beliau yang terkenal;

إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا المَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ

“Apabila suami mengajak istrinya untuk berhubungan, lalu istri menolak dan suami marah kepadanya maka dia (istri) akan dilaknat para malaikat sampai subuh”
[HR Bukhori 3237, Muslim 1436]

Berdasarkan hadis ini, para ulama melarang keras para wanita yang menolak ajakan suaminya dalam batas yang dibolehkan. Imam Zakariya Al-Anshori rohimahulloh mengatakan;

ويحرم عليها أي على زوجته أو جاريته منعه من استمتاع جائز بها تحريما مغلظا لمنعها حقه مع تضرر بدنه بذلك

“Terlarang bagi istri untuk menolak ajakan suami untuk bercumbu dengannya dalam batas yang dibolehkan. Karena istri yang demikian berarti menolak hak suami, juga membahayakan badan suami”
(Asnal Mathalib 15/230)

Syeikh Ibnu Utsaimin rohimahulloh juga berkata;

ولعن الملائكة يعني أنها تدعو على هذه المرأة باللعنة، واللعنة هي الطرد والإبعاد عن رحمة الله، فإذا دعاها إلى فراشه ليستمتع بها بما أذن الله له فيه فأبت أن تجيء، فإنها تلعنها الملائكة والعياذ بالله

“Bentuk laknat Malaikat adalah bahwa malaikat tersebut mendoakan seorang istri tersebut dengan laknat, dan makna laknat adalah dijauhkan dari rahmat Alloh. Jika seorang suami mengajaknya untuk berjima’ (bercumbu) dengannya, yang mana hal itu dibolehkan oleh Alloh lalu dia (istri) menolaknya, maka malaikat akan melaknatnya wal’iyyadzubillah”
(Syarah Riyadhus Shalihin 3/141)

Catatan

Dan yang terakhir, sedikit catatan tambahan bagi yang ingin qodho puasa dalam jumlah banyak seperti saudara penanya, tentu saja ini berarti akumulasi dari beberapa puasa romadhon. Selain kami sarankan untuk menyegerakan qodho dengan memperhatikan beberapa poin yang kita sebutkan diatas, bisa dengan puasa daud, atau puasa beberapa hari dengan jeda misalnya 3 hari lalu jeda sehari untuk memberikan hak suami, juga dengan menghindari hari-hari terlarangnya puasa, hal yang tak kalah penting lainnya adalah menyertai qodho dengan fidyah serta taubat.
Karena menurut pendapat Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, Abu Huroiroh rodhiallohu ‘anhum dan juga yang lainnya bahwa ketika seseorang menunda qodho Romadhon hingga melampaui romadhon berikutnya hendaknya ia meng-qodho dan membayar fidyah (memberi makan kepada orang miskin untuk setiap hari puasa). Fidyah ini dilakukan karena sebab menunda, adapun taubat adalah karena malas atau tidak bersegera melakukan kebaikan.
qadha puasa ramadhan setiap hari

Wallohu A’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله
Kamis, 15 Muharram 1442 H/ 03 September 2020 M



Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI IMAM SYAFI’I Kulliyyatul Hadits, dan Dewan konsultasi Bimbingan Islam,
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله  
klik disini