Pusaka Keris, Tosan Aji, Serta Kesyirikan bimbingan islam
Pusaka Keris, Tosan Aji, Serta Kesyirikan bimbingan islam

Pusaka Keris, Tosan Aji, Serta Kesyirikan

Para pembaca Bimbinganislam.com yang mencintai Allah ta’ala berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang pusaka keris, tosan aji, dan kesyirikan.
selamat membaca.


Pertanyaan :

بسم اللّه الرحمن الر حيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Semoga Allah ta’ala melindungi ustadz dan tim bimbingan Islam.

Ngapunten Ustadz Abul Aswad, saya mau bertanya perihal tosan aji.
Saudara saya punya warisan keris dari bapaknya yang katanya dulu keris tersebut warisan turun temurun dan ada khodamnya. Lalu saudara saya berniat memelihara kembali keris tersebut, dibersihkan dengan cara ikut kumpulan komunitas tosan aji yang mana orang-orang kumpulan tersebut mayoritas bukan orang yang paham ilmu agama, saudara saya memelihara keris dengan alasan hanya untuk melestarikan budaya, untuk pajangan koleksi dan sebagai simpanan senjata saja, tidak ada niatan untuk kesyirikan sekaligus diniatkan dakwah kepada orang-orang di komunitas tosan aji yang mayoritas masih meyakini akan kekuatan supranatural atas keris-keris pusaka peninggalan nenek moyang.
Apakah seperti ini masuk dalam hal syubhat ataukah diperbolehkan ustadz?
Matur nuwun
Jazaakumullahu khoiron

(Disampaikan oleh Fulan, Sahabat BiAS)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Benda yang ditanyakan tersebut teramat sangat identik dengan keyakinan klenik atau atau identik dengan praktek kesyirikan dengan keberadaan khodam yang dimintai pertolongan sebagaimana dinyatakan sendiri oleh penanya. Dan kenyataan ini sudah teramat sangat mafhum lagi maklum diketahui oleh semua orang di negri kita.

Dan yang perlu kita fahami pula adalah syariat Islam tidak hanya melarang kesyirikan namun juga melarang dari segala macam sarana yang bisa menjerumuskan seseorang ke dalam kesyirikan. Syaikh Shalih Alu Syaikh menyatakan :

بقاء القبر المشرف وسيلة من وسائل الشرك وكذلك للاقتران بقاء الصورة أيضاً وسيلة من وسائل الشرك، فالنبي عليه الصلاة والسلام بعث علياً أن لا يدع صورة إلا طمسها ؛ لأن الصورة من وسائل الشرك

“Keberadaan kubur yang dikeramatkan merupakan sarana dari sarana-sarana kesyirikan demikian pula penyandingan gambar juga termasuk sarana kesyirikan. Maka nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Ali agar tidak membiarkan adanya gambar kecuali dihapuskan karena ia merupakan sarana menuju kesyirikan.”
(At-Tamhid Syarah Kitab Tauhid : 561).

Demikian pula kita di zaman ini, sekiranya ada benda-benda yang identik dengan kesyirikan atau seringkali menjerumuskan seseorang ke dalam perilaku syirik lebih baik dihapuskan.

Selanjutnya seorang muslim yang bijaksana ia akan senantiasa merasa khawatir terjerumus ke dalam kesyirikan dan berusaha menjauhi segala hal yang bisa menjadi sebab terjadinya kesyirikan. Al-Imam Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz menyatakan :

إذا كان إبراهيم يخاف على نفسه وعلى بنيه الشرك فكيف بغيره؟ يقول جل وعلا عن إبراهيم إنه قال: وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ [إبراهيم:35] قبلها: رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ [إبراهيم:35] فإبراهيم الخليل عليه السلام يسأل ربه أن يجنبه وبنيه عبادة الأصنام، وما ذلك إلا لعظم الخطر، ولهذا قال إبراهيم التيمي رحمه الله: فمن يأمن البلاء بعد إبراهيم؟! إذا كان إبراهيم لا يأمن ويسأل ربه العافية فمن يأمن بعد ذلك؟

“Apabila Ibrahim mengkhawatirkan diri dan keturunannya dari perbuatan syirik , lantas bagaimana dengan orang lain?
Allah jalla wa ‘ala berfirman tentang Ibrahim : Jauhkan diriku dan anak keturunanku dari beribadah kepada berhala.” (QS Ibrahim : 35).
Sebelumnya Allah berfirman : Wahai Rabbku jadikanlah negri ini negri yang aman dan jauhakanlah aku dan anak keturunanku dari beribadah kepada berhala.” (QS Ibrahim : 35).

Ibrahim Al-Khalil memohon kepada Tuhannya agar diri dan anak keturuannya dijauhkan dari beribadah kepada berhala. Tidaklah hal itu dilakukan kecuali karena saking besarnya bahaya kesyirikan. Maka dari itu Ibrahim At-Taimi menyatakan siapakah yang lebih merasa aman dari bala’ setelah nabi Ibrahim? Apabila Nabi Ibrahim saja tidak merasa aman dari kesyirikan lalu meminta keselamatan kepada Tuhannya maka siapa yang merasa aman setelah itu?”
(Fatawa Syaikh Bin Baz no. 2019).

Yang ketiga taruhlah kita merasa lebih hebat kualitas tauhid kita dibanding Nabi Ibrahim (dan ini sangat tidak mungkin sekali banget). Sehingga kita yakin tidak akan terjerumus ke dalam kesyirikan. Lalu siapa yang menjamin anak cucu kita kelak setelah kita lemah atau setelah kita meninggal.

Sangat besar kemungkinan anak cucu kita akan dipengaruhi oleh bisikan syaithan dengan menyatakan misal : Ini adalah benda bertuah warisan ayahmu, kakekmu, buyutmu. Ia adalah benda yang sangat keramat, sakti dan seterusnya dan seterusnya.

Bahkan kami menemui satu kasus seseorang yang bermimpi mendapatkan perintah atau lebih tepatnya bisikan syaithan di dalam mimpinya untuk menggali tanah di lokasi tertentu. Dan mimpi itu terjadi berulang-ulang, maka ia pun menggali dan menemukan keberadaan jimat di sana yang kemudian dipelihara dan diberikan sesajen sesuai instruksi yang ia terima di dalam mimpinya.

Tidakkah kita khawatir kelak anak cucu kita mendapatkan perintah yang sama setelah kita wafat. Simak kembali sebab kemunculan syirik pertama kali di dunia. Allah ta’ala berfirman :

لَ نُوحٌ رَبِّ إِنَّهُمْ عَصَوْنِي وَاتَّبَعُوا مَنْ لَمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَوَلَدُهُ إِلَّا خَسَارًا . وَمَكَرُوا مَكْرًا كُبَّارًا. وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آَلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا

“Nuh berkata : “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka, (21) dan melakukan tipu-daya yang amat besar”. (22) Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan)wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr.”
(QS. Nuh : 21–23).

Siapakah sebenarnya berhala-berhala ini? dan bagaimana asal-muasalnya? Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma menjelaskan :

أَسْمَاءُ رِجَالٍ صَالِحِينَ مِنْ قَوْمِ نُوحٍ ، فَلَمَّا هَلَكُوا أَوْحَى الشَّيْطَانُ إِلَى قَوْمِهِمْ أَنِ انْصِبُوا إِلَى مَجَالِسِهِمُ الَّتِى كَانُوا يَجْلِسُونَ أَنْصَابًا ، وَسَمُّوهَا بِأَسْمَائِهِمْ فَفَعَلُوا فَلَمْ تُعْبَدْ حَتَّى إِذَا هَلَكَ أُولَئِكَ وَتَنَسَّخَ الْعِلْمُ عُبِدَتْ

“Mereka adalah nama-nama orang soleh di kalangan kaumnya Nuh. Ketika mereka meninggal, setan membisikkan kaumnya untuk membuat prasasti di tempat-tempat peribadatan orang soleh itu. Dan memberi nama prasasti itu sesuai nama orang soleh tersebut. Merekapun melakukannya. Namun prasasti itu tidak disembah. Ketika generasi (pembuat prasasti) ini meninggal, dan pengetahuan tentang prasasti ini mulai kabur, akhirnya prasasti ini disembah.”
(HR. Bukhari : 4920).

Semoga bermanfaat,
Wallahu ta’ala a’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh :
Ustadz Abul Aswad Al Bayati حفظه الله
Senin, 10 Shafar 1442 H/ 28 September 2020 M



Ustadz Abul Aswad Al-Bayati, BA.
Dewan konsultasi Bimbingan Islam (BIAS), alumni MEDIU, dai asal klaten
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Abul Aswad Al-Bayati حفظه الله  
klik disini