Puasa 9 Hari Berturut-turut di Awal Dzulhijjah, Makruh?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang baik hati berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang Puasa 9 Hari Berturut-turut di Awal Dzulhijjah, Makruh?.
Silahkan membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ustadz, apa benar jumhur ulama mengatakan bahwa puasa 9 hari berturut-turut di awal dzulhijjah adalah makruh? Jumhur ulama hanya mengatakan memperbanyak puasa dari 1-9 dzulhijjah aja, bukan menganggap sunnah puasa dari 1-9 secara berturut-turut?

Pointnya adalah: Apa haditsnya dimaksudkan untuk kita berpuasa sejak tanggal 1 sampai 9 dzulhijjah dengan niat puasa sunnah dzulhijjah atau memperbanyak puasa antara 1-9 dzulhijjah dengan niat senin/kamis atau daud?

Mohon penjelasannya Ustadz, jazakumullah khairan.

(Disampaikan oleh sahabat BiAS).


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Sudah Tercakup Dalam Keumuman Hadits

Memang tidak ada hadits khusus yang menunjukkan anjuran terhadap puasa 9 hari berturut-turut di awal bulan Dzulhijjah. Akan tetapi, anjuran berpuasa pada hari-hari ini sudah tercakup dalam keumuman hadits,
sahabat Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,

« مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ ». يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ ».

“Tidak ada satu amal shalih yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzulhijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.” (HR. Abu Daud, no. 2438, At Tirmidzi, no. 757, dinilai sebagai hadits shahih oleh ahli hadits Al Albani)

Baca Juga:  Tata Cara Shalat antara Laki-Laki dan Perempuan

Puasa Tak Terbatas Pahalanya

Adapun pendapat yang mengatakan bahwa jumhur ulama berpendapat makruh berpuasa 9 hari berturut-turut, maka kami belum mengetahui sumber valid tentang kebenaran nukilan tersebut, yang ada justru sebaliknya yaitu dianjurkan sekali memperbanyak amalan shalih termasuk puasa, inilah poin utamanya, karena amalan puasa itu pahalanya tak terbatas, Allah Ta’ala yang akan membalas dan mengganjarnya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

مَن جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا

“Siapa membawa amal baik, maka baginya sepuluh kali lipat pahala” (QS. Al-An’am: 160)

Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menerangkan dalam kitab tafsir beliau,

هذا أقل ما يكون من التضعيف

“Pelipatan sepuluh kali lipat ini, adalah pelipatan minimal setiap amal…” (lihat Kitab Taisir Karimir Rahman, pada tafsiran ayat di atas).

Ada yang berutung mendapatkan kelipatan pahala lebih dari itu, yaitu sampai 700 kali lipat bahkan lebih, tergantung pada kualitas ibadahnya.

Menariknya untuk puasa, kelipatan pahalanya tak terbatasi angka. Rasulullah shallallahu ’alahiwa sallam mengabarkan,

Baca Juga:  Walimah Dengan Musik

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى

“Setiap amalan kebaikan manusia akan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat ganjaran, hingga sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman, “Kecuali puasa. Pahala puasa adalah untuk-Ku. Dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Ia telah meninggalkan syahwat dan makannya karena-Ku.” (HR. Bukhari, 1904, 5927 dan Muslim, 1151)

Kandungan di dalam Bulan Ramadhan

Dalam kitab Majalis Syahru Ramadhan, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan,

والصيام صبر على طاعة الله, وصبر عن محارم الله و صبر على أقدار الله المؤلمة من الجوع و العطش وضعف البدن والنفسوفقد اجتمعت فيه أنواع الصبر الثلاثة, وتحقق أن يكون الصائم من الصابرين, وقد قال الله تعالى : إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Ibadah puasa mengandung;

Kesabaran dalam taat kepada Allah,
Sabar untuk tidak menerjang larangan Allah,
Serta sabar atas takdir-takdir Allah, seperti rasa lapar, haus serta kondisi fisik dan jiwa yang lemah.

Pada puasa, terkumpul tiga macam kesabaran ini. Sehingga orang yang puasa dapat mencapai derajat orang-orang yang sabar. Sementara Allah berfirman,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang bersabar, yang mendapatkan pahala tanpa batas” (QS. Az-Zumar, 10).”

Kesimpulan

1. Puasa di seluruh 9 hari awal Bulan Dzulhijjah lebih baik, dan bagi yang puasa daud maka silahkan puasa daud, sekaligus menggabungkan niat puasa di bulan Dzulhijjah (maka mendapatkan 2 pahala), begitupun yang telah terbiasa puasa senin kamis, maka silahkan menggabungkan dua niat tadi (puasa senin kamis dan puasa di bulan Dzulhijjah juga), dan ini adalah amalan dengan pahala berlimpah.

Baca Juga:  Dilamar Lelaki Yang Belum Mengenal Sunnah, Harus Bagaimana?

2. Bagi yang ingin puasa dikebanyakan hari, maka silahkan, dan jika belum puasa maka makan dan minumlah dengan penuh syukur kepada Allah Yang Maha Rozzaq, maka ia akan mendapatkan pahala atas amalan syukurnya (dengan hati, lisan dan amalan anggota badan)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إن للطاعم الشاكر من الأجر مثل ما للصائم الصابر

“Sesungguhnya pahala bagi orang yang bersyukur saat makan seperti pahala orang yang bersabar saat berpuasa.” (HR. Al-Hakim dari jalan Shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam kitab Shahihul Jaami’, 2179).

3. jika tidak memungkinkan puasa kecuali pada hari Arofah maka lakukanlah, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, dari riwayat Abu Qotadah;

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ

“Puasa Arafah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang” (HR. Muslim, no. 1162).

Wallahu Ta’ala A’lam.

 

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله



Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik disini