Persiapan Perlengkapan Bayi Menjelang Kelahiran, Perlukah bimbingan islam (1)
Persiapan Perlengkapan Bayi Menjelang Kelahiran, Perlukah bimbingan islam (1)

Persiapan Perlengkapan Bayi Menjelang Kelahiran, Perlukah?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang persiapan perlengkapan bayi menjelang kelahiran, perlukah?
selamat membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla selalu menjaga ustadz dan keluarga.

Saya mau bertanya, adakah hukum orang hamil menyiapkan perlengkapan untuk bayi sebelum lahiran?
Jazākallāhu khayran…

(Disampaikan oleh Admin T10-G53)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Jika yang dimaksud menyiapkan perlengkapan bayi adalah persiapan yang sifatnya umum Insya Alloh tidak mengapa, memang ada seruan untuk terus bergerak mengerjakan urusan selanjutnya, hal ini mengacu pada ayat,

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ  وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَبْ

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lainnya (selanjutnya), dan hanya kepada Robb-Mu lah kamu berharap”
(QS Al-Insyirah 7-8)

Namun jika menyiapkan perlengkapan bayi didasari keyakinan bahwa itu berpahala atau sesuai Sunnah maka jelas ini tidak benar. Lakukan saja persiapan perlengkapan bayi dengan seimbang, jangan berlebihan karena ada perkara yang lebih penting lagi yaitu ilmu tentang sunnah-sunnah setelah kelahiran, seperti tahnik, mencukur rambut, memberi nama, dan aqiqoh.

Tahnik maksudnya mengunyah kurma lalu mengolesinya ke langit-langit mulut si bayi. Jika tidak ada kurma bisa dengan madu, sembari diiringi dengan mendoakan keberkahan untuk si bayi.

عَنْ أَبِى مُوسَى رضى الله عنه قَالَ : وُلِدَ لِى غُلاَمٌ ، فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم فَسَمَّاهُ إِبْرَاهِيمَ ، فَحَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍ ، وَدَعَا لَهُ بِالْبَرَكَةِ

Dari Abu Musa rodhiallohu ‘anhu: Anak laki-laki ku lahir, lalu aku membawanya kepada Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam, kemudian Beliau menamainya Ibrahim, mentahkniknya dengan kurma dan mendoakan keberkahan untuknya”
[HR Bukhori 5045]

Mencukur rambut maksudnya mencukur lalu diiringi sedekah seberat rambut, sebagaimana perintah Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam kepada Fatimah rodhiallohuanha

يَا فَاطِمَةُ اِحْلِقِيْ رَأْسَهُ وَتَصَدَّقِيْ بِزِنَةِ شَعْرِهِ فِضَّةً

“Wahai Fathimah! Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah sesuai berat rambutnya dengan perak”
[HR Tirmidzi 1439]

Adapun memberi nama dan aqiqoh, yang paling afdhol dilakukan dihari ke 7 hijriyah setelah kelahiran

كُلُّ غُلَامٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ ، تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ ، وَيُحْلَقُ ، وَيُسَمَّى

“Setiap anak tergadaikan dengan aqiqohnya, disembelih pada hari ke tujuh setelah kelahirannya, dicukur dan diberi nama”
[HR Abu Daud 3838]

Semoga Alloh mengkaruniakan kepada kita keturunan yang sholih dan sholihah.

Wallahu A’lam,
Wabillahittaufiq.

 

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله
Kamis, 18 Dzulqadah 1441 H/ 09 Juli 2020 M



Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI IMAM SYAFI’I Kulliyyatul Hadits, dan Dewan konsultasi Bimbingan Islam,
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله  
klik disini