Pernyataan Uang Suami Adalah Uang Istri Atau Uang Istri Adalah Milik Suami Apakah Benar bimbingan islam
Pernyataan Uang Suami Adalah Uang Istri Atau Uang Istri Adalah Milik Suami Apakah Benar bimbingan islam

Pernyataan “Uang Suami Adalah Milik Istri” Atau “Uang Istri Adalah Uang Suami” Apakah Benar?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang pernyataan “uang suami adalah milik istri” atau sebaliknya “uang istri adalah uang suami” apakah benar?
selamat membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Alloh selalu jaga ustadz dan keluarga serta kaum muslimin dimanapun berada, aamiin.

Apakah suami boleh mengatakan bahwa uang istri juga uang suami?
Dan apakah suami berhak meminta serta ngambek bila tidak diberi atau diberi namun sedikit ?

Dalam hal ini suami mengatakan suami istri harus 1. Namun dalam hal lain, istri sendiri tidak 1 dengan suami, seperti urus rumah, urus anak, semua sendiri. Suami hanya fokus cari uang, dan di rumah hanya tidur, nonton, makan.

Dan berhak kah seorang istri pada akhirnya menolak pemberian uang dari suami dengan alasan bila uang suami dikasih istri maka suami menjadi kekurangan. Akhirnya berujung pada su’udzon bahwa uangnya dihabiskan istri.

Bagaimana solusinya ustadz ? Mohon nasihatnya untuk suami istri tersebut. Jazaakumullohu khoiron.

(Disampaikan oleh Fulanah, Member grup WA BiAS)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du

Pernyataan “uang suami adalah uang istri” atau sebaliknya “uang istri adalah uang suami” dua-duanya adalah pernyataan yang keliru.
Yang benar adalah uang suami adalah uang suami dan uang istri adalah uang istri, tidak boleh salah satu dari keduanya mengambil harta pasangannya kecuali dengan cara yang diizinkan oleh syariat dan keridhoannya.

Akan tetapi, seorang suami diwajibkan oleh syariat untuk memberikan nafkah kepada istri untuk memenuhi kebutuhannya, berupa makanan, pakaian dan tempat tinggal sesuai dengan kemampuan suami. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf”
(QS. Albaqarah : 233)

dalam ayat lain Allah berfirman:

أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنتُم مِّن وُجْدِكُمْ

“Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu”
(QS. At – Thalaq: 6).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ابْدَأْ بِنَفْسِكَ ثُمَّ بِمَنْ تَعُول

“Mulailah (menafkahi) dirimu sendiri dan kemudian nafkahi keluarga yang berada dalam tanggunganmu.”
(HR. Muslim : 3502).

Namun, jika seorang istri menyedekahkan sebagian hartanya kepada suami, tentu ini sebuah kebaikan yang insya Allah mendapatkan pahala, atau jika istri tersebut kaya maka yang terbaik adalah memberikan zakat kepada suaminya.

Hal ini pernah terjadi pada istri ‘Abdullah bin Mas’ud tatkala beliau mengabarkan kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa ibnu mas’ud berkata bahwa beliaulah yang berhak menerima zakat istrinya, mendengar hal tersebut rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

صَدَقَ ابْنُ مَسْعُودٍ ، زَوْجُكِ وَوَلَدُكِ أَحَقُّ مَنْ تَصَدَّقْتِ بِهِ عَلَيْهِمْ

“Ibnu Mas’ud benar, suami dan anakmu yang lebih berhak menerima sedekah/zakatmu.”
(HR. Bukhari : 1462, Muslim : 1000).

Kemudian, kami mendoakan semoga Allah membalas kebaikan suami yang mencari harta untuk menafkahi anak istrinya, dan semoga Allah membalas kebaikan istri yang telah letih dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Namun, yang perlu diingatkan kepada para suami adalah agar tidak meninggalkan kewajiban utamanya yaitu memberikan pendidikan agama dan membimbing anak dan istri dalam mendekatkan diri kepada Allah, Allah berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang – orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
(QS. At – Tahrim : 6).

seorang ibu memang sekolah pertama bagi seorang anak, karena keseharian anak yang masih kecil akan lebih sering bersama ibunya, namun ingat bahwa ayah adalah kepala sekolahnya yang menentukan bagaimana baiknya jalan sekolah tersebut.

Begitu pula, suami yang baik adalah suami yang meneladani rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, apa yang dilakukan rasulullah dahulu ketika sedang berada dirumah? beliau membantu pekerjaan istrinya, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah berkata:

كان يكون في مهنة أهله فإذا حضرت الصلاة، خرج إلى الصلاة

“Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam biasa membantu pekerjaan istrinya, jika waktu sholat telah masuk beliau keluar untuk mengakkan sholat.”
(HR. Muslim: 876).

Sebenarnya, perkara yang seperti ini hanyalah butuh kepada diskusi dan komunikasi yang baik antara suami istri. Bagaimana cara mengkomunikasikannya? andalah yang paling tahu bagaimana cara terbaik berbicara kepada suami anda.

Wallahu a’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh :
Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله
Jumat, 09 Dzulhijjah 1441 H / 28 Agustus 2020 M



Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى 
klik disini