Keluarga

Permisalan Sebuah Rumah Tangga

Pendaftaran Grup WA Madeenah

Permisalan Sebuah Rumah Tangga

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan permisalan sebuah rumah tangga. Selamat membaca.


Pertanyaan:

Saya memiliki masalah. Singkat cerita sudah 3 tahun saya menjalani rumah tangga yang kurang harmonis, saya sering menangis, terluka, suami saya tidak mau terbuka dalam berbagai hal. Jika punya waktu luang dia lebih memilih menghabiskan waktu di rumahnya sendiri, kadang saya pun tidak tahu-menahu kalau suami saya libur kerja.

Saya dan anak merasa tidak menjadi prioritas. Saat gajian pun saya hanya diberi sekitar seperempatnya, sisanya saya tidak tau secara rinci dipakai apa saja, sedangkan kebutuhan saya dan anak masih kurang, jika habis, saya biasa diminta cari tambahan sendiri, saat saya tanya uangnya ke mana, dia berkata untuk keperluan dia dan ibunya padahal saat gajian saya juga menyisihkan sebagian untuk diberikan mertua (ibu suami saya pisah dengan suaminya).

Karena lama saya tahan akhirnya saya menderita sesak dan gangguan pada detak jantung hingga akhirnya orang tua saya tahu dan tidak terima saya diperlakukan seperti itu.

Kemudian saya minta cerai dengan suami saya, awalnya suami saya tidak mau dan berkata ingin berubah, tetapi karena sudah sering saya mengingatkan suami dan tidak dihiraukan, saya juga tetap mau bercerai. Suami pun tidak ada itikad ke rumah orang tua saya, setidaknya untuk meminta maaf, sampai sekarang, hampir 1 minggu. Dan sepertinya suami saya juga sudah pasrah dengan keputusan saya.

Kira2 apakah saya berdosa dengan keputusan saya ini min?

Dan bagaimana sebaiknya sikap atau apa yang harus saya lakukan selanjutnya?

(Ditanyakan oleh Sahabat BIAS via Instagram Bimbingan Islam)


Jawaban:

Kehidupan rumah tangga sering diibaratkan dengan sebuah bahtera yang sedang berlayar di samudera. Harus ada kerjasama yang baik antara nahkoda dan awak kapal, sehingga ketika terjadi badai dan ombak yang besar, kapal bisa dikendalikan dan tidak karam.

Sehingga seorang suami yang berperan sebagai nahkoda bahtera rumah tangga harus bertanggung jawab penuh dengan bahtera beserta awaknya. Begitu pula seorang istri harus membantu suami dalam mengendalikan bahteranya, ketika hal ini tidak berjalan harmonis, maka bahtera tersebut kemungkinan besar tidak dapat lagi berlayar.

Rasulullah bersabda:

كُلُّكُمْ راعٍ، وكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، الإمامُ راعٍ ومَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، والرَّجُلُ راعٍ فِي أهْلِهِ وهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، والمَرْأةُ راعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِها ومَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِها

“Setiap kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab terhadap yang ia pimpin. Seorang penguasa adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin rumah tangganya dan dia bertanggung jawab atas keluarganya. Dan seorang istri adalah pemimpin dalam urusan rumah suaminya dan dia bertanggung jawab atas pekerjaanya.” (HR. Bukhari: 893).

Oleh karenanya, komunikasi yang baik dan mudah dalam memaafkan kesalahan pasangan sangat diperlukan dalam menjaga keutuhan rumah tangga. Kalau seandainya hal ini masih bisa diusahakan dan diperbaiki, tentu ini adalah jalan terbaik, mengingat adanya anak yang sedikit maupun banyak akan terganggu dengan adanya perceraian. Semoga suami mendapatkan hidayah dari Allah.

Namun, jika segala usaha tidak juga membuahkan hasil, dan si suami tersebut tidak bisa menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami dan cenderung terus menzhalimi hak istri, maka tidaklah diharamkan untuk meminta perceraian, insya Allah, karena meminta cerai yang dilarang adalah tanpa alasan syar’i yang dibenarkan. Rasulullah bersabda:

أيُّما امْرَأةٍ سَألَتْ زَوْجَها طَلاقًا فِي غَيْرِ ما بَأْسٍ، فَحَرامٌ عَلَيْها رائِحَةُ الجَنَّةِ

“Seorang wanita yang meminta cerai dari suaminya tanpa ada alasan yang mendesak, haram baginya aroma surga” (HR. Abu Dawud : 2226).

Wallahu a’lam

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله
Selasa, 26 Sya’ban 1443 H/ 29 Maret 2022 M


Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى klik disini

Ustadz Muhammad Ihsan, S.Ag., M.HI.

Beliau adalah Alumni S1 STDI Imam Syafi’I Jember Ilmu Hadits 2011 – 2015, S2 Universitas Muhammadiyah Surakarta Hukum Islam 2016 – 2021 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Dauroh Syaikh Sulaiman & Syaikh Sholih As-Sindy di Malang 2018, Beberapa dars pada dauroh Syaikh Sholih Al-’Ushoimy di Masjid Nabawi, Dauroh Masyayikh Yaman tahun 2019, Belajar dengan Syaikh Labib tahun 2019 – sekarang | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Kegiatan bimbingan islam

Related Articles

Back to top button