Home Konsultasi Aqidah Permasalahan Tentang Pembatal Keislaman

Permasalahan Tentang Pembatal Keislaman

Permasalahan Tentang Pembatal Keislaman
Para pembaca Bimbinganislam.com yang baik hati berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang permasalahan pembatal keislaman.

Permasalahan Tentang Pembatal Keislaman

Para pembaca Bimbinganislam.com yang baik hati berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang permasalahan pembatal keislaman.
Silahkan membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga ustadz dan keluarga selalu dalam perlindungan Allah Azza Wa Jalla.

Saya ingin bertanya, Ustadz.

Apa solusi yang harus kita lakukan jika kita mengatakan sesuatu yang bisa membuat pembatal keislaman kita baik disengaja seperti sudah tau hukumnya tapi tetap berbuat seperti mengucap (“saya murtad” sebagai bercandaan atau sekedar berucap saja padahal tau hukumnya) dan apakah solusinya berbeda jika kita tidak tau kalau itu bisa membuat kita kufur? (sengaja tapi tidak tahu hukumnya).
Lalu apakah tetap terhitung kufur jika hanya berucap di dalam hati tanpa dilafazkan?

Lalu bagaimana jika kita berbicara atau membayangkan yang tidak pantas terhadap Allah? Seperti membayangkan Allah melakukan kegiatan yang sama seperti mahklukNya.

Jazakallahu Khairan.

(Disampaikan oleh Fulanah, sahabat BiAS).


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du
Ayyuhal  Ikhwan wal Akhwat baarakallah fiikum Ajma’in.

Dalam masalah Iman dan Kufur, para ahli ilmu menjelaskan ada beberapa poin yang harus dilihat dan dipikir secara mendalam.

Baca Juga:  Najis Air Kencing Bayi (Hukum, Kaidah, dan Cara Mensucikannya)

Poin Pertama

Orang yang membahas masalah-masalah kufur dan iman, dia harus membahas pokok keimanan, dimana apakah ada atau tidaknya. Sebagaimana orang yang membahas masalah-masalah halal dan haram, dia akan membahas tentang pokok-pokok keimanan dan bagian-bagiannya, dan mana yang sah, mana yang tidak. Ini tentu butuh kepada keilmuan.

Poin Kedua

Bahwa menghukumi orang kafir itu berkonsekuensi kepada hukum-hukum lain yang besar, seperti masalah murtadnya ia dari agama, demikian pula masalah dibunuh atau tidaknya, demikian pula masalah pernikahannya, sembelihannya, masalah warisan, mensholatkannya, mendo’akannya, dan yang lainnya. Tentu permasalahan yang berat, masalah-masalah yang tidak mudah, membutuhkan keilmuan yang kuat.

Poin Ketiga

Masalah kafir-mengkafirkan ini menjadi masalah besar yang menimbulkan problematika terhadap manusia, bahkan kebenaran dalam masalah ini juga tersembunyi pada sebagian Ulama.

Catat!

Oleh karena itulah kewajiban seorang muslim, seorang penuntut ilmu untuk berhati-hati dalam masalah ini, dan dikembalikan urusannya kepada para ulama.

Dari sahabat mulia Abu Dzarr radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

Baca Juga:  Keuntungan Dari Modal Terhutang

لاَ يَرْمِي رَجُلٌ رَجُلًا بِالفُسُوقِ، وَلاَ يَرْمِيهِ بِالكُفْرِ، إِلَّا ارْتَدَّتْ عَلَيْهِ، إِنْ لَمْ يَكُنْ صَاحِبُهُ كَذَلِكَ

“Janganlah seseorang menuduh orang lain dengan tuduhan fasik dan jangan pula menuduhnya dengan tuduhan kafir, karena tuduhan itu akan kembali kepada dirinya sendiri jika orang lain tersebut tidak sebagaimana yang dia tuduhkan.” (HR. Bukhari, no. 6045).

Lembaga Fatwa di negeri Indonesia juga mengeluarkan penjelasan melalui website resminya,

“Umat Islam secara individu dilarang mengkafirkan orang Islam lainnya. Sekiranya sangat diperlukan pemberian fatwa “kafir” terhadap seseorang atau sekelompok orang yang telah jelas penyimpangannya terhadap aqidah Islam dan demi melindungan aqidah kaum muslim lainnya. Maka hal ini harus melalui kajian mendalam dan komprehensif yang dilakukan oleh Majelis Ulama Indonesia. Karena Dalam fatwa MUI, dinyatakan untuk memutuskan suatu keyakinan, ucapan, dan perbuatan adalah kufur, adalah kewenangan MUI Pusat dengan persyaratan dan prosedur yang ketat.” (mui.or.id)

Membayangkan Allah Ta’ala

Adapun masalah membayangkan Allah Yang Maha Suci, maka perkara ini adalah bisikan setan yang harus dibuang jauh-jauh, artinya jika seseorang dihadapkan kepada bisikan setan, maka kembalilah kepada Allah Ta’ala untuk menolak keburukannya dan segera palingkan fikiran anda dari padanya. Dan ketahuilah bahwa yang terlintas pada fikiran anda adalah bisikan setan, ia selalu berusaha merusak dan menyesatkan, maka palingkanlah pendengaran anda dari bisikannya, dan segera melakukan kesibukan lain yang bermanfaat.

Baca Juga:  Apakah Menyentuh Wanita Membatalkan Wudhu

Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berwasiat dalam sabdanya,

يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولَ مَنْ خَلَقَ كَذَا وَكَذَا حَتَّى يَقُولَ لَهُ مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ ؟ فَإِذَا بَلَغَ ذَلِكَ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ وَلْيَنْتَهِ

“Setan mendatangi salah satu dari kalian seraya berkata: siapa yang menciptakan ini dan itu?, sampai ia berkata: siapa yang menciptakan Tuhanmu?, dan kalau sudah sampai pertanyaan tersebut maka berlindunglah kepada Allah dan berhentilah”. (HR. Bukhari, no. 3276 dan Muslim, no. 134).

Wallahu Ta’ala A’lam.

 

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Jum’at, 19 Sya’ban 1442 H / 2 April 2021 M



Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik disini