Perjuangan di Perang Yamamah

Perjuangan di Perang Yamamah

Perjuangan di Perang Yamamah
Kisah di Balik Taman Kematian

Demikianlah tempat ini dinamai, terkenal dengan sebutan ini, karena saking banyaknya orang yang terbunuh di tempat tersebut. Dahulu kala, Taman Kematian adalah sebuah kebun yang dikelilingi oleh tembok-tembok tinggi yang kokoh yang dijadikan sebagai benteng pertahanan terakhir Musailamah Al-Kadzdzab dan pasukannya pada perang Yamamah. Di balik benteng itu, tersimpan kisah yang tak terlupakan dalam sejarah, kisah perjuangan yang luar biasa, kisah nyata para super hero, yang menjadi teladan dan pelajaran bagi generasi-generasi berikutnya. Inilah kisah di balik Taman Kematian..

Kisah ini bermula ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam wafat. Sepeninggal beliau, banyak orang murtad, keluar dari Islam beramai-ramai. Menghadapi keadaan ini, Abu Bakar Ash-Shiddiq, sang Khalifah pertama pun tak tinggal diam. Beliau mengirim pasukan ke seantero penjuru negeri untuk mengembalikan para orang murtad ke dalam Islam. Namun, usaha tersebut mendapatkan perlawanan dari kaum murtad, dan diantara perlawanan yang paling banyak menyita tenaga, fikiran, waktu, harta, dan nyawa kaum muslimin adalah perlawanan Bani Hanifah, para pengikut setia Musailamah Al-Kadzdzab.

Kala itu, pasukan Musailamah berhasil memukul mundur pasukan muslimin yang dipimpin oleh ‘Ikrimah bin Abu Jahal Radhiyallahu ‘anhu. Kemudian, Abu Bakar pun mengutus pasukan ke-dua di bawah pimpinan panglima perang, Khalid bin Walid Radhiyallahu ‘anhu.

Dua kubu pasukan saling bertemu, perang pun bergemuruh, dan dalam waktu yang singkat, pasukan Musailamah berhasil memporak-porandakan pertahanan kaum muslimin. Tenda sang panglima Khalid bin Walid berhasil mereka kuasai dan mereka robohkan, bahkan isteri beliau pun hampir mereka bunuh. Pasukan Muslimin terdesak mundur.

Keadaan sangat genting. Jika kaum muslimin kalah dalam pertempuran tersebut, maka Islam akan lenyap dari muka bumi. Hal ini yang difahami oleh sang panglima, Khalid bin Walid Radhiyallahu ‘anhu. Beliau pun segera menyusun strategi baru. Beliau pisahkan antara Muhajirin dan Anshor, beliau bagi pasukan berdasarkan kabilah.

Perang pun kembali berkecamuk, dan strategi baru berbuah hasil. Dengan semangat baru, pasukan muslimin seolah menjelma menjadi kumpulan super hero yang gagah berani yang tak kenal kata mundur, tak kenal kata takut.

Diantara mereka, Tsabit bin Qais Radhiyallahu ‘anhu, pembawa panji Anshor. Ia yang pernah menjadi Khatib Rasulullah semasa hidup beliau, yang membela Rasulullah dengan khutbah-khutbahnya, kini berubah menjadi seorang ksatria pembakar semangat pasukan mujahidin. Ia baluri tubuhnya dengan obat pengawet mayat, ia dandani tubuhnya dengan kain kafan, lalu ia menggali lubang sedalam setengah betisnya dan menanamkan dua kakinya ke dalamnya. Ia pertahankan panji kaumnya tanpa satu langkah mundur pun hingga akhirnya ia pun tersungkur sebagai seorang syuhada.

Diantara mereka, Zaid bin Al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu, saudara ‘Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu. Dengan suara lantangnya, ia menyeru, “Wahai kaum muslimin, Jangan gentar! Gempur musuh-musuh kalian! Serang mereka habis-habisan! Demi Allah, aku tak akan berucap setelah ini hingga Allah membinasakan Musailamah dan pasukannya, atau aku berjumpa dengan-Nya…” Lantas, ia pun segera menerobos membelah pasukan musuh hingga terbunuh.

Diantara mereka, seorang penghafal Quran, yang pada peperangan itu diamanahi untuk membawa panji kaum Muhajirin, Salim maula Abi Hudzaifah Radhiyallahu ‘anhu. Ia menyeru, “Aku adalah seburuk-buruknya penghafal Quran jika kaum muslimin ditimpa kekalahan dari arahku.” Ia pun seolah menjelma bak gunung yang sulit dirobohkan. Ia pertahankan panji kaumnya hingga tangan kanannya putus tertebas. Segera, ia ambil panji itu dengan tangan kirinya. Ia pertahankan panji itu hingga tangan kirinya pun terpotong. Lantas ia pertahankan panji itu dengan kedua lengannya yang tersisa. Ia bertahan dengan keadaannya itu seolah tak terasa tebasan dan tusukan yang menyobek kulit dan daging tubuhnya. Hingga ia pun roboh dengan tubuh yang penuh luka, berlumuran darah.

Melihat pertempuran semakin berkobar, Sang Panglima Mujahidin pun menoleh kearah salah seorang prajurit, Al-Barra’ bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, saudara kandung dari pembantu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, seraya berisyarat padanya, “Sekarang, giliranmu wahai pemuda Anshor!”

Al-Barra’ pun menoleh ke arah kaumnya dan berseru, “Wahai kaum Anshor, Jangan ada diantara kalian yang berpikir untuk kembali ke Madinah. Tidak ada Madinah lagi bagi kalian setelah hari ini! Yang ada hanya Allah, lalu surga!.” Lantas, ia pun segera mengayunkan pedangnya menebas leher musuh-musuh Allah hingga membelah pasukan kaum murtad.

Pasukan Musailamah pun terpukul mundur, hingga mereka pun terdesak masuk menuju benteng pertahanan mereka, Taman Kematian. Mereka mengunci benteng itu dari dalam lalu menghujani pasukan muslimin dengan panah-panah mereka.

Maka, singa pasukan mujahidin, Al-Barra’ bin Malik pun kembali beraksi dengan ide gilanya. Ia berseru, “Wahai pasukan, letakkan aku di atas perisai, lalu angkatlah perisai yang aku tunggangi dengan tombak-tombak kalian, dan lemparkan aku ke dalam benteng! Aku akan bukakakan gerbang benteng untuk kalian atau aku mati syahid!”

Secepat kilat, dengan tubuhnya yang krempeng, Al-Barra’ sudah naik diatas perisai, lantas puluhan prajurit pun mengangkatnya dengan tombak-tombak mereka, lalu mereka lemparkan ‘singa’ itu ke dalam benteng, Taman Kematian.

Bagaikan petir yang menyambar, Sang singa mendarat di antara ribuan pasukan kaum murtadd seraya mengayunkan pedangnya bagaikan kincir helikopter. Sepuluh leher berhasil ia tebas, dan gerbang benteng pun berhasil ia buka meski tebasan dan tusukan pedang, tombak, dan panah menghiasi setiap jengkal tubuhnya.

Pasukan Muslimin pun meluncur menerobos masuk benteng pasukan Musailamah dan membombardir pertahanan mereka hingga akhirnya, atas izin Alah, Pasukan Mujahidin Muslimin pun berhasil mengalahkan pasukan kafirin murtaddin dan membunuh si Pendusta, Musailamah Al-Kadzdzab.

Allahu akbar!  Kisah di balik Taman Kematian, sebuah kisah yang luar biasa, kisah perjuangan para mujahidin, para penghafal Al-Quran dalam mempertahankan agama ini hingga agama ini pun sampai kepada kita, kisah yang menginspirasi setiap kita untuk berjuang membela agama ini dengan sepenuh jiwa, raga, dan harta. Allahu a’lam bish showab, wa billaahi at-taufiq.

Sumber : Shuwar min Hayah Ash-Shohabah karya D.R. ‘Abdurrahman Ra’fat Al-Basya, Penerbit : Dar Al-Adab Al-Islamy, Cet. 1, Th: 2010.


Ditulis Oleh:
Ustadz Rusli Evendi,
(Kontributor Bimbinganislam.com)
Beliau Adalah Staff Pengajar di Ma’had Madinatul Quran Jonggol

CATEGORIES
Share This

COMMENTS