Wanita

Perempuan Haidh Mengalami Junub, Haruskah Mandi?

Mahad Bimbingan Islam (BIAS) belajar Islam terstruktur

Perempuan Haidh Mengalami Junub, Haruskah Mandi?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan Perempuan Haidh Mengalami Junub, Haruskah Mandi?, selamat membaca.


Pertanyaan:

Bismillah. Mau bertanya, saya sedang berhalangan, tetapi suami minta dilayani. Setelah selesai melayani jika saya mencapai klimaks apa saya perlu mandi besar? Atau hanya mandi biasa mengingat saya masih berhalangan belum suci.

(Ditanyakan oleh Sahabat BIAS via Twitter Bimbingan Islam)


Jawaban:

Jika memang sampai kondisi klimaks dan keluar cairan, maka boleh/disyariatkan bagi Anda untuk mandi janabah, junub itu bisa dikarenakan bertemunya dua alat kelamin karena hubungan biologis, ataupun karena keluar cairan mani dari kemaluan disebabkan berhubungan atau mimpi. Untuk berhubungan badan tentu tidak mungkin ketika haidh, adapun keluarnya cairan mani karena rangsangan yang lain maka masih memungkinkan, dan jika sampai keluar maka dihukumi sebagai janabah, ini seperti yang disebutkan dalam hadist Ummu Salamah Radhiallahu ‘Anha beliau bercerita:

أن أم سليم قالت: يا رسول الله، إن الله لا يستحيي من الحق، فهل على المرأة الغسل إذا احتلمت؟ قال: نعم، إذا رأت الماء، فضحكت أم سلمة، فقالت: تحتلم المرأة؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: فبم يشبه الولد

“Bahwa Ummu Sulaim berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu terhadap kebenaran, apakah wanita juga wajib mandi jika mengalami mimpi basah? Nabi menjawab: Ya, jika dia lihat keluar cairan”. (HR. Bukhari)

Daftar Grup WA Bimbingan Islam Gratis

Hadist di atas menyebutkan wajib mandi janabah karena kondisi wanita yang ditanyakan oleh Ummu Salamah adalah ketika kondisi suci (tidak haidh), adapun hukum yang berlaku bagi Anda untuk mandi janabah tidaklah sampai derajat wajib, karena Anda sedang tidak wajib menjalankan shalat, jadi dianjuran saja bagi Anda untuk mandi.

Jika Anda ingin membaca Al-Quran misalnya, karena seorang yang haidh sebenarnya boleh membaca al-Quran jika memang membutuhkan, hanya saja tidak boleh menyentuh mushaf/fisik al-Quran, supaya boleh membaca al-Quran maka harus menghilangkan hadast besar junub yang melekat pada diri Anda. Dalam fatwa islamqa di bawah bimbingan Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid disebutkan:

إذا أجنبت الحائض ، أو حاضت وهي جنب ، شرع لها أن تغتسل من الجنابة ، وتستفيد بذلك جواز قراءة القرآن من غير مس للمصحف ، لأن الجنب يمنع من قراءة القرآن بخلاف الحائض ،

“Jika seorang perempuan yang sedang haidh mengalami junub, atau datang haidh baginya ketika masih junub, disyariatkan baginya untuk mandi besar, dengan mandi besar tersebut si perempuan mengambil manfaat bolehnya membaca al-Quran dengan tanpa menyentuhnya, karena seorang yang junub terhalangi dari membaca al-Quran, adapun haidh masih boleh membacanya”. Lihat: https://islamqa.info/ar/answers/91793/%D8%A7%D8%B0%D8%A7-%D8%AC%D8%A7%D8%A1%D9%87%D8%A7-%D8%A7%D9%84%D8%AD%D9%8A%D8%B6-%D9%88%D9%87%D9%8A-%D8%AC%D9%86%D8%A8-%D9%81%D9%87%D9%84-%D8%AA%D8%BA%D8%AA%D8%B3%D9%84-%D9%85%D9%86-%D8%A7%D9%84%D8%AC%D9%86%D8%A7%D8%A8%D8%A9

Baca Juga:  Dilema Antara Hijab dan Pengabdian Beasiswa

Al-Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi juga menyampaikan:

فإن اغتسلت للجنابة في زمن حيضها , صح غسلها , وزال حكم الجنابة . نص عليه أحمد , وقال : تزول الجنابة , والحيض لا يزول حتى ينقطع الدم . قال : ولا أعلم أحدا قال : لا تغتسل . إلا عطاء , وقد روي عنه أيضا أنها تغتسل

“Jika seorang perempuan mandi junub ketika di masa ia haidh, sah mandi junubnya, dan hilang status hukum junub padanya. Ini yang ditegaskan oleh Imam Ahmad, beliau mengatakan: Junubnya hilang, adapun haidhnya maka tidak hilang sampai darah yang keluar berhenti. (Ibnu Qudamah melanjutkan) Saya tidak mengetahui adanya ulama lain yang berpendapat untuk tidak mandi bagi perempuan haidh yang junub kecuali Atho saja, namun diriwayatkan dari Atho dalam pendapat yang lain bahwa perempuan yang haidh ketika kondisi junub untuk mandi besar”. (Al-Mughni juz:1 hal:134).

Kesimpulannya, jika Anda mandi besar maka mandi Anda sah, dan dengannya memperbolehkan bagi Anda untuk membaca al-Quran yang penting dengan tidak memegang mushaf, misal Anda ingin mengajarkan al-Quran bagi anak, atau Anda sebagai penghafal al-Quran yang takut hafalan hilang jika tidak mengulang/memurajaahnya, silakan Anda mandi kemudian membaca. Namun hukum mandinya tidak wajib, hanya jika Anda membutuhkannya saja. Wallahu a’lam.

Disusun oleh:
Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Rabu, 25 Rabiul Akhir 1443 H/ 1 Desember 2021 M

Khusus perempuan, apakah kamu tahu Akademi Shalihah (AISHAH) Online?

Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Beliau adalah Alumnus S1 Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta dan S2 Hukum Islam di Universitas Muhammadiyah Surakarta
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله klik disini

 

Akademi Shalihah Menjadi Sebaik-baik Perhiasan Dunia Ads

Ustadz Setiawan Tugiyono, B.A., M.HI

Beliau adalah Alumni D2 Mahad Aly bin Abi Thalib Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Bahasa Arab 2010 - 2012 , S1 LIPIA Jakarta Syariah 2012 - 2017, S2 Universitas Muhammadiyah Surakarta Hukum Islam 2018 - 2020 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah, Dauroh Masyayikh Ummul Quro Mekkah di PP Riyadush-shalihin Banten, Daurah Syaikh Ali Hasan Al-Halaby, Syaikh Musa Alu Nasr, Syaikh Ziyad, Dauroh-dauroh lain dengan beberapa masyayikh yaman dll | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Belajar bersama dengan kawan-kawan di kampuz jalanan Bantul

Related Articles

Back to top button