Penyimpangan Kelompok Berfaham L*II

Penyimpangan Kelompok Berfaham L*II

Pertanyaan

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُه

Ustadz, keluarga saya ada yang menganut faham L*II dan sangat fanatik sampai-sampai ada keluarga lain yang diajak bahkan orangtua sendiri coba didekati oleh mereka.
Bagaimana Islam melihat hal ini, Ustadz?
Mohon bisa dijelaskan lebih detail sesuai Al-Qur’an dan Sunnah.

Syukron, Ustadz.
Jazaakallaahu khoiron wa baarakallaahu fiik.

(Fulan, Sahabat BiAS N06)

Jawaban

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in.

Sejatinya banyak penyimpangan dalam L*II yang didirikan oleh Nu* Hasa* Ub**dah ini, sehingga kalaupun dijadikan satu tema pengajian akan sangat kurang efisien waktunya, sebab penyimpangan yang ada tidak hanya 1 atau 2 hal, tapi _kathah_ (banyak), diantaranya:

1. Aqidah
2. Amir (pemimpin)
3. Otoritas hadits shohih
4. Ekonomi
5. Doktrin ajaran,

Ana tidak bisa menjelaskan detail dalam kesempatan ini, namun InsyaAlloh penjabaran secara umum serta perbandingannya dengan Ahlus Sunnah sesuai pemahaman sahabat rodhiallohu ‘anhum dapat ana nukil:

1. Aqidah
Mereka meyakini bahwa pelaku dosa besar akan kekal di neraka, bahkan untuk kalangan pejabat tinggi mereka, tokoh senior mereka, atau orang-orang yang fanatik dari kalangan mereka akan menganggap orang yang diluar kalangan mereka sebagai kafir.

Sementara bagi kita yang berpegang pada Manhaj Salaf, dosa besar tidaklah membuat kekal di neraka, sebab yang kekal adalah pelaku dosa syirik (yang belum bertaubat).

2. Amir
Mereka meyakini wajibnya bai’at pada amir, sehingga barang siapa yang tidak ber-baiat akan dihukumi kafir.
Mereka berlandaskan hadits:

من مات وليس في عنقه بيعة، مات ميتة جاهلية

“Barang siapa yang mati dalam keadaan tidak ada ikatan baiat di lehernya maka dia mati sebagaimananya matinya orang jahiliyyah”

L*II memiliki pemahaman bahwa makna dari mati jahiliyyah adalah mati dalam kondisi kafir alias murtad dari Islam. Padahal maksud hadits sebagaimana penjelasan hadits di atas adalah tidak demikian, Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam menyebut kematian jahiliyyah karena orang-orang jahiliyyah memiliki sifat khas yaitu sombong untuk patuh kepada seorang pemimpin, bukan sisi kekafiran sebagaimana L*II.

3. Otoritas Hadits Shohih
Bagi mereka derajat hadits adalah hak prerogatif amir, sangat kental faktor kepentingannya.
Berbeda dengan kita yang menggunakan penelitian ilmiyyyah ilmu hadits.

4. Ekonomi
L*II mewajibkan zakat atau pajak kepada pengikutnya sebesar 10 persen yang mereka namakan dengan “Persenan”, sebagai bukti nyambung kepada jama’ah. Padahal zakat harta dalam Islam hanya 2,5 persen.

5. Doktrin
Adanya ‘Sistem 354’ yaitu:
3 = Jamaah, Quran dan Hadits.
5 = Program lima bab berisi janji/sumpah bai’at keepada sang amir yaitu: Mengaji, Mengamal, Membela, Sambung jamaah dan Taat Amir.
4 = Tali pengikat Iman yang terdiri dari: Syukur kepada Amir, Menganggungkan Amir, Bersungguh-sungguh dan Berdoa.

Di mata kita, tentu saja sistem doktrin diatas seperti Hizb.

Dan banyak lainnya.

Wallohu A’lam
Wabillahit Taufiq

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله
(Dewan Konsultasi Bimbinganislam.com)

Tanya Jawab
Grup WA Bimbingan Islam N06
Senin, 6 Rajab 1438H / 3 April 2017M

CATEGORIES
Share This

COMMENTS