Penuntut Ilmu Namun Terjatuh Di Kubangan Maksiat

Pendaftaran Grup WA Madeenah

Penuntut Ilmu Namun Terjatuh Di Kubangan Maksiat

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang Penuntut Ilmu Namun Terjatuh Di Kubangan Maksiat, selamat membaca.


Pertanyaan:

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ustadz. Afwan ustadz ana mau bertanya ketika seorang penuntut ilmu telah bersungguh-sungguh menghalangi diri dari berbuat dosa tapi dia tetap terjatuh pada dosa yang sama dan hatinya tetap merindukan untuk menuntut ilmu apakah masih belum bisa di katakan penuntut ilmu yang sejati?

جزاك اللهُ خيراً

Ditanyakan oleh Santri Mahad Bimbingan Islam


Jawaban:

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in.

Tidak diragukan lagi bahwa dosa atau maksiat sangat berdampak buruk bagi seseorang terlebih lagi bagi seorang penuntut ilmu.

Akantetapi yang perlu diketahui bahwa setiap manusia pasti memilki kesalahan atau pernah berbuat dosa.

عَنْ أَنَسِ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

Dari Anas radiyallahu anhu, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, ‘Setiap manusia pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah orang yang bertobat.’”

عَنْ أَبِى ذَرٍّ الْغِفَارِيّ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فِيْمَا يَرْوِيْهِ عَنْ رَبِّهِ سبحانه وتعالى أَنَّهُ قَالَ: …… يَاعِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيْعًا فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ ……

Dari Abu Dzar Al-Ghifary radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam hadits qudsi yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam riwayatkan dari Rabb-nya, bahwasanya Dia subhanahu wa ta’ala berfirman: “…….Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian selalu berbuat salah siang dan malam dan Aku senantiasa mengampuni semua perbuatan dosa, maka mintalah ampunan kepada-Ku…..”

Dari dua hadits diatas kita bisa mengetahui bahwa Allah telah menetapkan bahwa manusia pasti pernah berbuat kesalahan. Bahkan Nabi Muhammad pun tidak lepas dari kesalahan. Akantetapi yang membedakan kita dengan para Nabi adalah bahwa para Nabi ketika melakukan kesalahan langsung ditegur oleh Allah.

Akantetapi perlu diingat bahwa meskipun kita ditakdirkan melakukan dosa, kita juga dituntut untuk menjauhinya dan bertaubat darinya.

Adapun jika kita telah berusaha semampu kita untuk menjauhi maksiat tersebut, tapi masih terjerumus dalam kemaksiatan tersebut, maka ampunan Allah akan selalu terbuka selama hamba tersebut selalu bertaubat atas dosanya.

إِنَّ عَبْدًا أَصَابَ ذَنْبًا فَقَالَ يَا رَبِّ إِنِّى أَذْنَبْتُ ذَنْبًا فَاغْفِرْ لِى فَقَالَ رَبُّهُ عَلِمَ عَبْدِى أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ فَغَفَرَ لَهُ ثُمَّ مَكَثَ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ أَصَابَ ذَنْبًا آخَرَ وَرُبَّمَا قَالَ أَذْنَبَ ذَنْبًا آخَرَ فَقَالَ يَا رَبِّ إِنِّى أَذْنَبْتُ ذَنْبًا آخَرَ فَاغْفِرْ لِى قَالَ رَبُّهُ عَلِمَ عَبْدِى أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ فَغَفَرَ لَهُ ثُمَّ مَكَثَ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ أَصَابَ ذَنْبًا آخَرَ وَرُبَّمَا قَالَ أَذْنَبَ ذَنْبًا آخَرَ فَقَالَ يَا رَبِّ إِنِّى أَذْنَبْتُ ذَنْبًا آخَرَ فَاغْفِرْ لِى فَقَالَ رَبُّهُ عَلِمَ عَبْدِى أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ فَقَالَ رَبُّهُ غَفَرْتُ لِعَبْدِى فَلْيَعْمَلْ مَا شَاءَ

“Ada seorang hamba yang berbuat dosa lalu ia berkata: ‘Ya Rabbi, aku telah berbuat dosa, ampunilah aku’. Lalu Allah berfirman: ‘Hambaku mengetahui bahwa ia memiliki Rabb yang mengampuni dosa’. Lalu dosanya diampuni. Dan berjalanlah waktu, lalu ia berbuat dosa lagi. Ketika berbuat dosa lagi ia berkata: ‘Ya Rabbi, aku telah berbuat dosa lagi, ampunilah aku’. Lalu Allah berfirman: ‘Hambaku mengetahui bahwa ia memiliki Rabb yang mengampuni dosa’. Lalu dosanya diampuni. Dan berjalanlah waktu, lalu ia berbuat dosa lagi. Ketika berbuat dosa lagi ia berkata: ‘Ya Rabbi, aku telah berbuat dosa lagi, ampunilah aku’. Lalu Allah berfirman: ‘Hambaku mengetahui bahwa ia memiliki Rabb yang mengampuni dosa’. Lalu dosanya diampuni. Lalu Allah berfirman: ‘Aku telah ampuni dosa hamba-Ku, maka hendaklah ia berbuat sesukanya’” (HR. Bukhari no. 7068).

Dalam Fathul Baari dijelaskan Ibnu Hajar Al Asqalani berkata: “Makna dari firman Allah ‘Aku telah ampuni dosa hamba-Ku, maka hendaklah ia berbuat sesukanya‘ adalah: ‘Selama engkau selalu bertaubat setiap kali bermaksiat, Aku telah ampuni dosamu’”. Beliau juga membawakan perkataan Imam An Nawawi: “Jika seseorang berbuat dosa seratus kali, seribu kali, atau bahkan lebih banyak, dan setiap berbuat dosa ia bertaubat, maka taubatnya diterima. Bahkan jika dari ribuan perbuatan dosa tadi setelahnya ia hanya sekali bertaubat, taubatnya pun diterima” (Fathul Baari, 89/21).

Ini adalah salah satu kasih sayang Allah terhadap hamba Nya. Dan ini bukan berarti kita bebas untuk melakukan dosa. Tentu kita harus menjauhinya dan bertaubat atasnya.

Dan kita juga harus mengingat  bahwa kita tidak tahu kapan kita akan wafat. Dan apakah kita wafat dalam keadaan beribadah atau bermaksiat. Padahal Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا

“Sungguh setiap amal tergantung pada bagian akhirnya” (HR. Bukhari no. 6493).

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

الرجلَ ليعمل الزمنَ الطويلَ بعمل أهلِ الجنَّةِ ، ثم يُختَمُ له عملُه بعمل أهلِ النَّارِ ، و إنَّ الرجلَ لَيعمل الزمنَ الطويلَ بعملِ أهلِ النَّارِ ثم يُختَمُ [ له ] عملُه بعمل أهلِ الجنَّةِ

“Ada seseorang yang ia sungguh telah beramal dengan amalan penghuni surga dalam waktu yang lama, kemudian ia menutup hidupnya dengan amalan penghuni neraka. Dan ada seseorang yang ia sungguh telah beramal dengan amalan penghuni neraka dalam waktu yang lama, lalu ia menutup hidupnya dengan amalan penghuni surga” (HR. Al Bukhari no. 2898, 4282, Muslim no. 112, 2651).

Dan diantara cara agar tidak mengulangi suatu dosa adalah :

  • Bertaubat dengan ikhlas
  • Menjauhi hal-hal yang menjadi sebab untuk melakukan dosa
  • Berteman dengan teman yang sholeh. Karena teman yang sholeh akan selalu mengajak kita dalam kebaikan dan menasehati kita ketika kita salah
  •  Menyibukkan diri dengan melakukan hal yang baik. Dan menghindari adanya waktu luang atau kosong.

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

      ”Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”. (HR. Bukhari            no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas)

  • Perbanyak istighfar dan berdoa agar dijauhkan dari kemaksiatan.

Kesimpulannya : Bahwa dosa atau kesalahan adalah sesuatu yang memang sudah Allah tetapkan bagi manusia. Akantetapi meskipun seperti itu kita wajib untuk menjauhinya dan bertaubat darinya. Karena dosa memiliki dampak yang buruk bagi pelakunya ataupun lingkungan sekitarnya.

Semoga Allah senantiasa menjaga kita untuk selalu istiqamah menjauhi maksiat dan terus bertaubat kepada Allah, serta diberikan akhir yang baik.

Wallahu a’lam bish-shawab

 

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Ahmad Yuhanna, Lc. حافظه الله

Related Articles

Check Also
Close
Back to top button
situs togel dentoto https://sabalansteel.com/ https://dentoto.cc/ https://dentoto.vip/ https://dentoto.live/ https://dentoto.link/ situs togel situs toto toto 4d dentoto omtogel http://jeniferseo.my.id/ https://seomex.org/ omtogel https://omtogel.site/