Penjelasan Tentang Khatam Al – Qur’an

Penjelasan Tentang Khatam Al – Qur’an

Penjelasan Tentang Khatam Al – Qur’an

Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُه

Afwan Ustadz
Izin bertanya, jika saya tidak salah ingat, ada hadits yang menyebutkan tentang keutamaan orang yang mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan. Pertanyaannya :
1. Arti dari khatam itu seperti apa?
2. Bolehkah memulai membaca dari tilawah terakhir kita, misal juz 15, ataukah harus dimulai dari juz 1 ketika Ramadhan tiba?
3. Jika poin 2 diperbolehkan melanjutkan bacaan sebelum Ramadhan, apakah sudah termasuk mengkhatamkan Al-quran?

(Disampaikan oleh Wahyu Fitria,Sahabat BIAS T09 G-16)


Jawaban :

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.

Bismillaah

1. Khatam maknanya adalah tuntas, menyelesaikan dengan tuntas. Mengkhatamkan Al-Quran berarti menyelesaikan bacaan Al-Quran nya tanpa terkecuali.

2. Boleh. Dan tidak harus mengulang dari awal, sebab pembatasan khatam serta mengharuskan pengulangan dalam tilawah saat Romadhon dari Juz 1 adalah sesuatu yang membutuhkan dalil. Dan kami tidak jumpai dalil tersebut.

Yang kami jumpai ada penjelasannya dalam kitab para ulama adalah bagaimana seringnya para Salafus Sholih mengkhatamkan Al-Quran di bulan Romadhon.

Salah seorang Tabi’in, Qotadah Ibn Di’amah dikisahkan sebagai orang yang Mesra dengan Al-Quran :

وكان قتادة يختم القرآن في سبع ، فإذا جاء رمضان ختم في كل ثلاث ، فإذا جاء العشر ختم في كل ليلة “السير” (5/276)

Qotadah biasanya mengkhatamkan Al-Quran dalam tujuh hari. Jika telah datang bulan Romadhon, beliau mengkhatamkannya dalam tiga hari. Jika telah masuk sepuluh hari terakhir, beliau mengkhatamkannya dalam sehari.” (As-Siyar, 5/276).

Sedangkan Mujahid, digambarkan oleh Imam Nawawi sebagai sosok yang mengkhatamkan Al-Quran setiap malam :

وعن مجاهد أنه كان يختم القرآن في رمضان في كل ليلة . “التبيان” للنووي (ص/74) وقال : إسناده صحيح

Mujahid menghkhatamkan Al-Quran di bulan Romadhon setiap malam (At-Tibyan, An-Nawawi: 74. Dia berkata, “Sanadnya shohih”).

Sedangkan Imam Syafi’i mengkhatamkan Al-Quran puluhan kali dalam satu bulan :

وقال الربيع بن سليمان : كان الشافعي يختم القرآن في رمضان ستين ختمة “السير” (10/36)

Rabi’ bin Sulaiman berkata, “Asy-Syafii biasanya mengkhatamkan Al-Quran dalam bulan Ramadan sebanyak 60 kali.” (Siyar A’lam Nubala, 10/36).

Akan tetapi, jangan sampai kita hanya terfokus pada khatam tanpa ada kekhusyukan di dalam hati. Sungguh mulia berusaha mengkhatamkan Al-Quran di bulan Romadhon, namun jika sampai memaksakan diri dengan menghilangkan tuma’ninah tentu saja adalah sesuatu yang salah.

Syeikh Bin Baz rohimahulloh ditanya tentang Imam Tarawih yang mengkhatamkan 1 Juz tiap malam, beliau menjawab :

كان الإمام أحمد رحمه الله يحب ممن يؤمهم أن يختم بهم القرآن، وهذا من جنس عمل السلف في محبة سماع القرآن كله، ولكن ليس هذا موجبا لأن يعجل ولا يتأنى في قراءته، ولا يتحرى الخشوع والطمأنينة، بل تحري هذه الأمور أولى من مراعاة الختمة

“Imam Ahmad rahimahullah suka terhadap Imam yang mengkhatamkan Al-Quran. Ini merupakan amal para salaf yaitu mendengarkan Al-Quran seluruhnya. Akan tetapi hal ini bukan kewajiban, yakni cepat dan tidak membaca secara perlahan-lahan. Ia tidak mencari kekhusyu’an dan tuma’ninah. Bahkan mencari hal ini (khusyu’ dan tuma’ninah) lebih utama daripada perhatian terhadap mengkhatamkan” (Majmu’ Fatawa bin Baz 15/324, Asy Syamilah).

Imam Nawawi juga berbicara tentang individu yang berusaha mengkhatamkan Al-Quran, Beliau mengatakan jangan sampai kelewat batas hingga stress.

والاختيار أن ذلك يختلف باختلاف الأشخاص ، فمن كان يظهر له بدقيق الفكر ، لطائف ومعارف ، فليقتصر على قدر يحصل له كمال فهم ما يقرؤه ، وكذا من كان مشغولا بنشر العلم ، أو غيره من مهمات الدين ، ومصالح المسلمين العامة ، فليقتصر على قدر لا يحصل بسببه إخلال بما هو مرصد له . وإن لم يكن من هؤلاء المذكورين فليستكثر ما أمكنه من غير خروج إلى حد الملل والهذرمة “التبيان” (ص76)

“Pendapat yang dipilih adalah bahwa masalah ini berbeda sesuai perbedaan antara individu. Siapa yang lebih condong untuk mendalami kandungannya, pelajaran dan hikmahnya, maka hendaknya dia membatasi amalnya sesuai kemampuannya untuk memahami apa yang dia baca. Demikian pula yang sibuk untuk menyebarkan ilmu, atau tugas lainnya dalam agama dan kemaslahatan kaum muslimin serta masyarakat umum. Hendaknya dia dapat berkonsentrasi secara proporsional dengan ukuran tidak menyebabkannya menjadi lalai pada bidang khususnya. Jika seseorang tidak memiliki tugas khusus, maka hendaklah dia memperbanyak membaca Al-Quran, asal jangan sampai keluar batas, hingga bosan atau stres”
(At-Tibyan, hal. 76)

3. Ya termasuk mengkhatamkan Al-Quran jika memang membacanya dengan tanpa ada yang terlewat.

Wallahu a’lam
Wabillahit taufiq

Dijawab dengan ringkas oleh:
👤 Ustadz Abu Rosyid Rosyidah, حفظه الله تعالى
📆 Senin, 22 Sya’ban 1440 H / 29 April 2019 M

CATEGORIES
Share This

COMMENTS