Penjelasan, Pengertian dan Contoh Hadits Qudsi bimbingan islam
Penjelasan, Pengertian dan Contoh Hadits Qudsi bimbingan islam

Penjelasan, Pengertian dan Contoh Hadits Qudsi

A. Pengertian hadits qudsi.

Hadits qudsi tersusun dari dua kata yaitu : hadits dan qudsi. Maka, baiknya kita memahami setiap kata agar kita lebih memahami maknanya.

Pengertian hadits menurut ulama hadits adalah

ما أضيف إلى النبي صلى الله عليه وسلم من قول، أو فعل، أو تقرير، أو صفة

“Segala sesuatu yang disandarkan kepada nabi Muhammad ﷺ baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan dan sifat beliau ﷺ.
(taisir mushtholah hadits hal. 17).

Sedangkan kata qudsi (قدس) berarti suci.

Maka, jika kita gabungkan hadits qudsi berarti, hadits yang suci. Sehingga penamaan tersebut menunjukkan keagungan dan kesucian hadits tersebut karena dinisbatkan kepada Dzat yang maha suci, yakni :Allah ﷻ.

Sedangkan menurut para ulama hadits, hadits qudsi adalah

هو ما نقل عن النبي صلى الله عليه وسلم، مع إسناده إياه إلى ربه عز وجل

“Kabar yang dinukilkan dari nabi ﷺ, dan beliau ﷺ menyandarkan kabar tersebut kepada Allah ﷻ”.
(taisir mushtholah hadits hal. 158).

B. Contoh hadits qudsi.

Hadits qudsi telah dikumpulkan dan ditulis oleh para ulama dalam kitab – kitab hadits. Disini kami akan membawakan beberapa contoh dari hadits qudsi.

1. Hadits Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu.

عَنْ أَبِـيْ ذَرٍّ الْغِفَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّـى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْمَـا يَرْوِيْهِ عَنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّهُ قَالَ : «يَا عِبَادِيْ ! إِنِّـيْ حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَـى نَفْسِيْ ، وَجَعَلْتُهُ بَيْنَـكُمْ مُحَرَّمًا ؛ فَلاَ تَظَالَـمُوْا. يَا عِبَادِيْ ! كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ ؛ فَاسْتَهْدُوْنِـيْ أَهْدِكُمْ. يَا عِبَادِيْ ! كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلاَّ مَنْ أَطْعَمْتُهُ ؛ فَاسْتَطْعِمُوْنِـيْ أُطْعِمْكُمْ. يَا عِبَادِيْ ! كُلُّكُمْ عَارٍ إِلاَّ مَنْ كَسَوْتُهُ ؛ فَاسْتَكْسُوْنِـيْ أَكْسُكُمْ. يَا عِبَادِيْ ! إِنَّكُمْ تُـخْطِئُوْنَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ ، وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَـمِيْعًا ؛ فَاسْتَغْفِرُوْنِـيْ أَغْفِرْ لَكُمْ. يَا عِبَادِيْ ! إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوْا ضُرِّيْ فَتَضُرُّوْنِـيْ ، وَلَنْ تَبْلُغُوْا نَفْعِيْ فَتَنْفَعُوْنِـيْ. يَا عِبَادِيْ ! لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوْا عَلَـى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ ؛ مَا زَادَ ذَلِكَ فِـيْ مُلْكِيْ شَيْئًا. يَا عِبَادِيْ ! لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوْا عَلَـى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ ؛ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِيْ شَيْئًا. يَا عِبَادِيْ ! لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوْا فِـيْ صَعِيْدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُوْنِـيْ فَأَعْطَيْتُ كُلَّ وَاحِدٍ مَسْأَلَـتَهُ ؛ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِـمَّـا عِنْدِيْ إِلاَّ كَمَـا يَنْقُصُ الْـمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ. يَا عِبَادِيْ ! إِنَّـمَـا هِيَ أَعْمَـالُكُمْ أُحْصِيْهَا لَكُمْ ، ثُمَّ أُوَفِّيْكُمْ إِيَّاهَا ، فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا ؛ فَلْيَحْمَدِ اللهَ ، وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ ؛ فَلاَ يَلُوْمَنَّ إِلاَّ نَفْسَهُ

“Dari Abu Dzar al-Ghifâri Radhiyallahu anhu dari Nabi ﷺ bah beliau ﷺ meriwayatkan firman Allah ﷻ : “Wahai hamba-Ku! Sesungguhnya Aku mengharamkan kezhaliman atas diri-Ku dan Aku mengharamkannya di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzhalimi.
Wahai hamba-Ku! Setiap kalian merasa lapar kecuali orang yang Aku beri makan, maka mintalah makanan kepada-Ku niscaya Aku beri kalian makan. Wahai hamba-Ku! Setiap kalian telanjang kecuali orang yang Aku beri pakaian, maka mintalah pakaian kepada-Ku niscaya Aku akan berikan pakaian kepada kalian.
Wahai hamba-Ku! Sesungguhnya kalian selalu berbuat salah (dosa) di waktu malam dan siang hari, sedang Aku mengampuni seluruh dosa, maka mohon ampunlah kepada-Ku niscaya Aku akan mengampuni dosa kalian. Wahai hamba-Ku! Sesungguhnya kalian tidak akan dapat menimpakan bahaya kepada-Ku sehingga kalian dapat membahayakan-Ku dan kalian tidak akan dapat memberi manfaat kepada-Ku sehingga kalian dapat memberi manfaat kepada-Ku.
Wahai hamba-Ku! Seandainya orang pertama dan terakhir dari kalian, manusia dan jin dari kalian, hati mereka semuanya seperti orang yang paling bertakwa diantara kalian, maka semuanya itu tidak akan menambah sedikit pun pada kerajaan-Ku. Wahai hamba-Ku! Seandainya orang pertama dan terakhir dari kalian, manusia dan jin dari kalian, semua seperti hati orang yang paling jahat diantara kalian, maka semuanya itu tidak akan mengurangi sedikit pun dari kerajaan-Ku.
Wahai hamba-Ku! Seandainya orang pertama dan terakhir dari kalian, manusia dan jin dari kalian semua berada di satu tanah lapang kemudian setiap dari kalian meminta kepada-Ku lalu Aku memberikan permintaannya itu, maka hal itu tidak mengurangi apa yang ada di sisi-Ku kecuali seperti jarum yang mengurangi air laut jika dimasukkan ke dalamnya. Wahai hamba-Ku! Sesungguhnya itu semua adalah amal-amal kalian yang Aku tulis untuk kalian, kemudian Aku menyempurnakannya untuk kalian.
Barangsiapa mendapatkan kebaikan, hendaklah ia memuji Allah ﷻ, dan barangsiapa mendapatkan selain itu, maka janganlah ia sekali-kali mencela (menyalahkan) kecuali dirinya sendiri.”
(HR. Muslim : 2577).

2. Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

قالَ اللَّهُ تَبارَكَ وتَعالَى: أنا أغْنَى الشُّرَكاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَن عَمِلَ عَمَلًا أشْرَكَ فيه مَعِي غيرِي، تَرَكْتُهُ وشِرْكَهُ

Allah ﷻ berfirman : “Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu, maka siapa yang beramal lalu dia persekutukan Aku dengan yang lain dalam amalan tersebut, Aku tinggalkan dia bersama sekutunya.”
(HR. Muslim : 2985).

3. Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

يقولُ اللَّهُ تَعالَى: أنا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بي، وأنا معهُ إذا ذَكَرَنِي، فإنْ ذَكَرَنِي في نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ في نَفْسِي، وإنْ ذَكَرَنِي في مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ في مَلَإٍ خَيْرٍ منهمْ، وإنْ تَقَرَّبَ إلَيَّ بشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إلَيْهِ ذِراعًا، وإنْ تَقَرَّبَ إلَيَّ ذِراعًا تَقَرَّبْتُ إلَيْهِ باعًا، وإنْ أتانِي يَمْشِي أتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

Allah ﷻ berfirman: “Aku sesuai dengan prasangka hambaKu terhadapKu, dan Aku selalu bersamanya saat ia mengingatKu, jika ia mengingatKu tatkala sendiri maka Aku akan mengingatnya dalam diriKu, jika ia mengingatku dikeramaian maka Aku mengingatnya di keramaian yang lebih baik daripada itu (kumpulan malaikat).
Jika ia mendekat kepadaKu sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadaNya sehasta, jika ia mendekat kepadaKu sehasta, maka Aku akan mendekat kepadanya sedepa, jika mendatangiku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya deng berlari.””

(HR. Bukhari : 7405).

C. Perbedaan hadits qudsi dan al quran

Apabila alquran dan hadits qudsi sama – sama disandarkan kepada Allah ﷻ, lalu apa perbedaan diantara keduanya?
Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini menjadi dua pendapat:

Pendapat pertama mengatakan: alquran adalah kabar yang maknanya datang dari Allah ﷻ, sedangkan lafazhnya berasal dari nabi Muhammad ﷺ.

Pendapat kedua mengatakan: alquran dan hadits qudsi sama – sama lafazh dan maknanya berasal dari Allah ﷻ, adapun perbedaanya adalah hadits qudsi tidak memiliki keutamaan al – quran, seperti mukjizat, adanya pahala disetiap huruf yang dibaca, tidak boleh disentuh dalam keadaan tidak suci.
(lihat qawa’idu tahdits hal. 66).

Wallahu a’lam, kami pribadi lebih condong kepada pendapat kedua yang mengatakan al-quran dan hadits qudsi lafazh dan maknanya berasal dari Allah ﷻ, hanya saja hadits qudsi tidak memiliki keutamaan yang dimiliki alquran.
Alasannya adalah karena rasulullah ﷺ dengan jelas menyandarkan kabar tersebut kepada Allah ﷻ, dengan perkataan “Allah ﷻ berfirman”, yang menunjukkan bahwa memang lafazh tersebut berasal dari Allah ﷻ. Jikalau tidak demikian maka tidak ada faedah dari penyandaran rasulullah ﷺ kepada Allah ﷻ dalam hadits tersebut dan tidak akan ada perbedaan antara hadits qudsi dan hadits nabi ﷺ lainnya.
(Lihat : qawa’idu tahdits hal. 67).

Wallahu a’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh :
Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله
Senin, 24 Shafar 1442 H / 12 Oktober 2020 M



Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى 
klik disini