Fiqih

Penjelasan Lengkap Tentang Shadaqallahu al`adzim Setelah Baca Quran

Penjelasan Lengkap Tentang Shadaqallahu al`adzim Setelah Baca Quran

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan: Penjelasan Lengkap Tentang Shadaqallahu al`adzim Setelah Baca Quran. Selamat membaca.


Pertanyaan:

Bismillah Izin bertanya Bagaimana bacaan doa setelah membaca Al-Quran yang sesuai sunnah? Karena pernah mendengar kalau “Shodaqallahu ‘adziim” itu tidak sesuai sunnah. . Jazaakallahu khairan

(Ditanyakan oleh Santri Mahad BIAS)


Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Pada dasarnya kita meyaki bahwa Al-Qur`anul karim adalah kitab sebagai pedoman manusia yang harus kita yakini kebenarannya, bahkan apa barang siapa yang meragukannya maka ia akan menjadi seorang yang mengingkari kebenaran dan dia bersama orang orang yang kafir. Firman Allah ta`alaa:

ذَلِكَ ٱلۡكِتابُ لَا رَیۡبَۛ فِیهِۛ هُدࣰى لِّلۡمُتَّقِینَ

Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa” ( QS. Albaqarah: 2)

Lalu apakah kita diperbolehkan untuk mengatakan kalimat pembenaran dan pernyataan terhadap Al-Quran bahwa perkataan Allah adalah benar (Shadaqallahu al`adzim)?

Maka secara umum diperbolehkan bahkan dianjurkan sebagaimana yang pernah dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam hadis dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

Ada seorang yang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mengadukan keadaan saudaranya,

Saudaraku sakit perut.” Ucap sahabat.

Beri minum madu.” Saran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Setelah pulang dan memberinya madu, ternyata sakitnya belum kunjung sembuh. Orang ini pun datang lagi dengan keluhan yang sama. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap menyarankan, “Beri minum madu.” Sampai akhirnya yang keempat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap meyakinkan orang ini melalui sabdanya,

«صَدَقَ اللَّهُ، وَكَذَبَ بَطْنُ أَخِيكَ، اسْقِهِ عَسَلًا» فَسَقَاهُ فَبَرَأَ

Allah Maha Benar, dan perut saudaramu yang dusta. Beri minum madu.”

Orang ini pun memberinya madu untuk kesekian kalinya, kemudian sembuh. (HR. Bukhari 5684 dan Muslim 2217)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan kalimat itu padahal beliau tidak sedang membaca Al-Quran.

Kejadian yang lain, dalam hadis dari Buraidah bin Hashib radhiyallahu ‘anhu, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhutbah di atas mimbar, tiba-tiba datang dua cucu beliau yang lucu: Al-Hasan dan Al-Husain, putra Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhum. Hasan & Husain kecil dengan lucunya mengenakan gamis warna merah, keduanya berjalan tertatih-tatih memakai bajunya yang menawan. Melihat dua cucunya, beliau pun turun dari mimbarnya dan memotong khutbahnya, lalu beliau menggendong keduanya dan kembali ke mimbar, kemudian mengatakan:

صَدَقَ اللَّهُ: {إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ}، رَأَيْتُ هَذَيْنِ يَعْثُرَانِ فِي قَمِيصَيْهِمَا، فَلَمْ أَصْبِرْ حَتَّى قَطَعْتُ كَلَامِي فَحَمَلْتُهُمَا

“Maha benar Alloh dalam firman-Nya: ‘Sungguh harta-harta dan anak-anak kalian itu adalah fitnah (cobaan)’, aku melihat kedua anak ini tertatih-tatih dengan bajunya, akupun tidak sabar, hingga aku memotong khutbahku, lalu aku menggendong keduanya.”(HR. An-Nasai 1413, Abu Daud 1109, dan dishahihkan Al-Albani)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan kalimat itu karena membenarkan sabda firman Allah di surat at-Taghabun ayat 15. Pada ayat itu, Allah menjelaskan bahwa harta dan anak adalah fitnah. Tak terkecuali beliau sebagai salah satu hamba Allah. Melihat dua cucunya yang sangat menawan hati beliau, membuat beliau harus memotong khutbahnya agar bisa menggendong cucunya.

Lalu bagaimana dengan bacaan kalimat tersebut bila dilakukan terus-menerus dan menjadikan ini sebagian bagian dari ritual ibadah atau berkeyakinan bahwa ini berasal dari contoh yang dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabatnya?

Maka masalah ini yang menjadi perdebatan di antara sebagian kaum muslimin. Sebagaimana yang kita pahami, bahwa seorang yang baik dalam beragama adalah mereka yang berusaha mengikuti apa yang telah dilakukan oleh orang yang yang membawa risalah Islam, dan dijadikan sebagai sumber beramal dalam kehidupan.

Mencukupkan diri menjadikan kita lebih aman dan tenang dalam beribadah, karena hanya beliau Rasulullah shallahu alaihi wasallam yang lebih tahu dengan amalan hamba untuk beribadah dan mencari ridha Allah ta`ala.

Apakah akan terlarang bila kita mencukupkan diri dengan perilaku dan contoh dari Rasulullah? Tentunya tidak, bahkan dalam amal ibadah kita harus mencukupkan hal itu, di mana Rasulullah shallahu alaihi wasallam bahkan mencela orang yang berkreasi dalam beribadah, sebagaimana sabda beliau,”

عَنْ أُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ؛ أُمِّ عَبْدِ اللهِ؛ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ الله ﷺ:مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

رواه البخاري ومسلم، وفي رواية لمسلم: مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Dari Ummul Mukminin; Ummu Abdillah; Aisyah radhial-lahuanha dia berkata, “Rasulullah salallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

Siapa yang mengada-ada dalam perkara (agama dan syariat) kami ini yang tidak bersumber darinya, maka dia tertolak.” Dalam riwayat Muslim disebutkan,“Siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak kami perintahkan, maka amalannya tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari sini, maka silakan untuk mencari apa yang dilakukan oleh Rasulullah () dan para sahabatnya dalam menyikapi amalan ini, apakah mereka sering melakukannya? Karena pastinya setiap hari bahkan banyak waktu mereka pergunakan untuk membaca AL-Qur`an. Bila memang banyak riwayat yang melakukan hal tersebut maka kita pastinya akan kita lakukan dan harus semangat untuk menjalankannya. Dan bila ternyata tidak didapatkan maka tidak ada salahnya kita mencukupkan diri dengan apa yang di lakukan Rasulullah dan para sahabatnya. Berharap dengan mencontoh mereka kita bisa mendapatkan apa yang akan di dapatkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya untuk mendapatkan surga Allah ta`ala.

Terlebih ada riwayat yang menyebutkan perilaku Rasulullah, di mana Rasulullah tidak membaca Shadaqallahu al`adzim tapi membaca kalimat “Hasbuka/cukuplah”,sebagaimana dalam riwayat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Beliau menceritakan,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruhku: “Bacakan Al-Quran untuk aku dengar.”

“Ya Rasulullah, apakah aku boleh membaca Al-Quran di hadapan Anda, padahal Al-Quran itu diturunkan kepada Anda?” tanyaku.

“Ya, tidak masalah.”

Akupun membaca surat An-Nisa. Ketika sampai pada ayat,

فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ، وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاَءِ شَهِيدًا

Bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (Rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).(QS. An-Nisa: 41)

Seketika sampai di ayat ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Cukup..cukup.”

Saya melihat beliau, ternyata beliau berlinangan air mata. (HR. Bukhari 5050 dan Muslim 800)

Anda bisa perhatikan, ketika Ibnu Mas’ud mengakhiri bacaan Al-Qurannya, beliau tidak membaca kalimat apa pun, atau doa apa pun, atau dzikir apa pun. Beliau tidak membaca Shadaqallahu al`adzim, atau alhamdulillah, dst. Sehingga dengan riwayat ini kita bisa mengatakan bahwa semua bacaan itu bukan bagian dari ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sehingga dengan riwayat ini kita bisa mengatakan bahwa semua bacaan itu (Shadaqallahu al`adzim) bukan bagian dari ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sehingga, tidak ada salahnya kita tidak membaca shadaqallahu aladzim setiap kita membaca alquran, sebagai bentuk mengikuti Sunnah Rasulullah shallahu alaihi wasallam dalam beribadah.

Bila sesekali setelah membaca Al-Qur`an, kita membacanya sebagai bentuk pernyataan kebenaran dari Al-Qur`an, atau kita baca di luar dari ritual itu sebagai pernyataan kebenaran dengan isi kebenaran di dalamnya maka hukumnya boleh sebagaimana makna umum dari ayat berikut,”

قُلْ صَدَقَ اللَّهُ فَاتَّبِعُوا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakanlah: ’Benarlah (apa yang difirmankan) Allah.’ Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik.” (Qs Ali Imran:95)

Dalam kitab Al-Jami’ li Ahkamil Quran, Imam Al-Qurthubi mengatakan bahwa di antara menghormati Al-Quran adalah membaca kalimat ‘Shadaqta Robbana’ setelah membaca Al-Quran. Beliau berkata;

ومن حرمته …إذا انتهت قراءته أن يصدق ربه ويشهد بالبلاغ لرسوله صلى الله عليه وسلم ويشهد على ذلك أنه حق فيقول : صدقت ربنا وبلغت رسلك ونحن على ذلك من الشاهدين اللهم اجعلنا من شهداء الحق القائمين بالقسط ثم يدعو بدعوات

Di antara menghormati Al-Quran ialah, jika seseorang selesai membacanya, ia membenarkan Tuhannya dan bersaksi bahwa Rasulullah () telah menyampaikan Al-Quran, serta bersaksi bahwa Al-Quran adalah benar dengan mengucapkan;

Shadaqta robbana wa balaghat rusuluka wa nahnu ‘alaa dzaalika minasy syaahidin. Allohummaj’alnaa min syuhadaa-il qaa-imiina bil qisthi.’

Kemudian ia berdoa dengan doa-doa lainnya.

Semoga Allah menjadikan kita bagian dari hamba yang selalu membenarkan Al-Qur`an dan hadist Rasulullah shallahu alaihi wasallam dalam keyakinan, bacaan, perkataan, dan amalan kita.

Wallahu a`lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله
Rabu, 28 Shafar 1443 H/ 6 Oktober 2021 M


Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi Bimbingan Islam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله 
klik disini

Baca Juga :  Bolehkah Membayar Fidyah Kepada Satu Keluarga Miskin?

Ustadz Mu’tasim, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid

Related Articles

Back to top button