Penjelasan hadits Tentang Orang Tua yang Mendapatkan Mahkota Karena Anaknya Hafizh Al-Quran

Penjelasan hadits Tentang Orang Tua yang Mendapatkan Mahkota Karena Anaknya Hafizh Al-Quran

Penjelasan Hadits Tentang Orang Tua yang Mendapatkan Mahkota Karena Anaknya Hafizh Al-Quran

Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ 

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Ustadz dan keluarga senantiasa dikaruniai kesehatan dan keberkahan ilmu. Aamiin

Saya adalah seorang yang agak kesulitan dalam menghafal al qur’an apalagi saya sudah cukup berumur. Setiap hari saya selalu baca Al Qur’an walaupun terbata-bata. Tapi saya bertekad minimal saya bisa menghafal juz 30, dengan rutin mendengar murotal.

Sesuai dengan Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa orangtua akan mendapat mahkota di surga sebagai ganjaran karena anaknya adalah seorang penghafal Al-Quran.

Yang ingin saya tanyakan :

Apakah saya bisa memberikan mahkota kepada orang tua saya kelak bila saya hanya menghafal beberapa surat atau hanya menghafal juz 30

Jazaakallah khayran

(Disampaikan oleh Fulanah Sahabat BiAS T07 G-89)


Jawaban :

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.

Bismillaah

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Selama penanya memang memiliki keinginan kuat untuk menghafal Al-qur’an, tidak hanya berhenti pada keinginan dan ucapan saja, akan tetapi ada usaha keras yang lahir dari kejujuran niat. Taruhlah hingga meningal dunia ia belum mampu menghafalnya, insyaAllah ia akan mendapatkan pahala yang sama yang didapatkan oleh para penghafal Al-Qur’an.

Lain halnya dengan orang yang hanya bercita-cita namun tidak berusaha keras di dalam mewujudkan cita-citanya. Maka ia tidak mendapatkan apa yang didapatkan orang yang berhasil. Disebutkan dalam salah satu redaksi fatwa :

الحمد لله , هناك فرق بين مجرد العزم على العمل الصالح ، وإرادته إرادة جازمة

فقد يعزم المسلم على عمل صالح ، ثم إذا تمكن منه انهارت عزيمته ولم يفعله ، فهذا العزم يثاب عليه المسلم ، ولكنه أقل من ثواب العامل ، وهذا هو المصود بقوله صلى الله عليه وسلم :ا

مَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً ، فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ

“Alhamdulillah, di sana ada perbedaan antara sekedar berkeinginan untuk beramal shalih dengan kemudian ketika ia mulai melihat adanya kesempatan untuk melakukannya tetiba keinginannya menjadi kendor dan ia tidak jadi melakukannya.

Azzam/keinginan yang seperti ini seorang muslim diberikan pahala atasnya, akan tetapi lebih sedikit dari pada orang yang melakukan amal. Inilah yang dimaksud dengan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam :

“Barangsiapa berniat melakukan kebaikan namun dia tidak (jadi) melakukannya, Allâh tetap menuliskanya sebagai satu kebaikan sempurna di sisi-Nya. Jika ia berniat berbuat kebaikan kemudian mengerjakannya, maka Allâh menulisnya di sisi-Nya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat sampai kelipatan yang banyak.” “
(HR Bukhari : 6491, Muslim : 131).

(Fatawa Islamqa no. 226751).

Syaikh Ibnu Utsaimin juga menyatakan :

واعلم أن من هم بالحسنة فلم يعملها على وجوه

الوجه الأول : أن يسعى بأسبابها ، ولكن لم يدركها ، فهذا يكتب له الأجر كاملاً ، لقول الله تعالى:

(وَمَن يَخْرُجْ مِن بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ )

“Ketahuilah bahwa barangsiapa ingin melakukan kebaikan akan tetapi ia lantas tak melakukannya ada beberapa kondisi :

1). Seseorang melakukan sebab-sebab dari amalan tersebut akan tetapi ia tak mampu mendapatkannya.

Orang seperti ini dituliskan baginya pahala secara sempurna, berdasarkan firman Allah ta’ala :

“Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah.” ”
(QS An-Nisa’ : 100).

(Syarah Arba’in An-Nawawiyah : 369).

 

Wallahu a’lam
Wabillahit taufiq

Dijawab dengan ringkas oleh :
Ustadz Abul Aswad Al Bayati, حفظه الله تعالى
Kamis, 22 Dzulqodah 1440 H / 25 Juli 2019 M



Ustadz Abul Aswad Al-Bayati, BA.
Dewan konsultasi Bimbingan Islam (BIAS), alumni MEDIU, dai asal klaten
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Abul Aswad Al-Bayati حفظه الله 
klik disini

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )