Pengaruh Perbuatan Orang Tua Kepada Anak

Pengaruh Perbuatan Orang Tua Kepada Anak

Pengaruh Perbuatan Orang Tua Kepada Anak

Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُه

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla selalu menjaga Ustadz dan keluarga.

Sesuai materi senin lalu tentang “Pengaruh Kesalehan dan Perbuatan Baik Orang Tua Terhadap Pendidikan Anak”

Apakah kalau orang tuanya masih bermaksiat, sedangkan anaknya sudah menikah, apa itu masih berpengaruh kepada anaknya ??

Syukron, jazaakallahu khairan Ustadz

(Disampaikan oleh Admin BiAS, T07 G-15)


Jawaban :

Wa’alaikum salaam warohmatullohi wabarokaatuh

Bismillaah

Ya, masih berpengaruh.
Karena bagaimanapun juga, secara umum setiap jiwa punya kecenderungan pada hal yang buruk. Alloh Jalla wa ‘Alaa mengatakan :

وَمَآ أُبَرِّئُ نَفۡسِيٓۚ إِنَّ ٱلنَّفۡسَ لَأَمَّارَةُۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيٓۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٞ رَّحِيمٞ

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada keburukan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (QS Yusuf 53)

Jika keburukan itu dapat menyambar dan menular, sementara setiap jiwa punya kecenderungan pada keburukan, maka jelas semakin berbahaya jika yang menularkan serta memberi contoh keburukan itu adalah orangtua sendiri. Na’udzubullah.

Apalagi jika kita mengambil pelajaran dari Surat Yusuf ayat 24, Alloh Jalla wa ‘Alaa mengatakan :

وَلَقَدۡ هَمَّتۡ بِهِۦۖ وَهَمَّ بِهَا لَوۡلَآ أَن رَّءَا بُرۡهَٰنَ رَبِّهِۦۚ كَذَٰلِكَ لِنَصۡرِفَ عَنۡهُ ٱلسُّوٓءَ وَٱلۡفَحۡشَآءَۚ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُخۡلَصِينَ

“Sesungguhnya wanita itu (Zulaikha) telah bermaksud (melakukan perbuatan keji) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.”

Para ulama menerangkan tentang peran besar ayah dalam kehidupan anak, terutama saat anak dalam keadaan genting, diuji, terdesak atau terfitnah.
Ibnu Katsir rohimahulloh dalam Tafsirnya tatkala menjelaskan tentang lafal Burhan dalam ayat tersebut :

وَأَمَّا الْبُرْهَانُ الَّذِي رَآهُ فَفِيهِ أَقْوَالٌ أَيْضًا: فَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، وَمُجَاهِدٍ، وَسَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، وَمُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ، وَالْحَسَنِ، وَقَتَادَةَ، وَأَبِي صَالِحٍ، وَالضَّحَّاكِ، وَمُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ، وَغَيْرِهِمْ: رَأَى صُورَةَ أَبِيهِ يَعْقُوبَ، عَلَيْهِ السَّلَامُ، عَاضًّا عَلَى أُصْبُعِهِ بِفَمِهِ

Adapun mengenai tanda (Burhan) yang dilihat oleh Nabi Yusuf, sehubungan dengannya pendapat para ulama berbeda-beda pula. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Sa’id, Mujahid, Sa’id ibnu Jubair, Muhammad ibnu Sirin, Al-Hasan, Qatadah, Abu Saleh, Ad-Dahhak, Muhammad ibnu Ishaq, dan lain-lainnya, disebutkan bahwa Yusuf melihat gambar ayahnya Ya’qub sedang menggigit jari telunjuknya.

وَقِيلَ عَنْهُ فِي رِوَايَةٍ: فَضَرَبَ فِي صَدْرِ يُوسُفَ.

Menurut riwayat lain yang bersumber dari Muhammad Ibnu Ishaq, disebutkan bahwa lalu ayah Yusuf memukul dada Yusuf.  Maka gambaran Nabi Ya’qub ‘alaihi salaam saat menggigit jari jemarinya atau saat memukul dada Nabi Yusuf jelas adalah bentuk kekecewaan seorang ayah terhadap anaknya yang hampir saja terperdaya oleh fitnah wanita. Ini merupakan pertolongan dari Alloh kepada Nabi Yusuf ‘alaihi salaam berupa penampakan seorang ayah yang sholih untuk mengingatkan anaknya.

Maka kecil sekali kemungkinan seorang ayah yang merupakan pelaku maksiat lalu tiba-tiba datang sebagai pertanda (Burhan) bagi anaknya saat akan terperosok pada perbuatan keji, yang ada justru sang anak akan beranggapan bahwa perbuatan keji yang dilakukan dirinya karena genetik dan contoh dari ayahnya.

Wallahu a’lam
Wabillahittufiq

Dijawab dengan ringkas oleh :
👤Ustadz Rosyid Abu Rosyidah, حفظه الله تعالى
📆 Rabu, 8 Jumadal Akhir 1440 H / 13 Februari 2019 M

CATEGORIES
Share This

COMMENTS