Pengaruh Keshalihan Orang Tua pada Anak bimbingan islam (1)
Pengaruh Keshalihan Orang Tua pada Anak bimbingan islam (1)

Pengaruh Keshalihan Orang Tua pada Anak

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang pengaruh keshalihan orang tua pada anak.
selamat membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla selalu menjaga ustadz dan keluarga.

Afwan ustadz, kami ingin menanyakan keshalihan orang tua mempengaruhi kondisi pada anak.

Ciri-ciri anak yang nakal itu seperti apa ustadz?
Dan di kenyataan biasanya banyak orang tua yang kurang agamanya (tidak sholat/jarang sholat bahkan) namun anaknya bisa sholeh. dan juga sebaliknya, anak seorang kiyai/ustadz malah ” nakal”.

Mohon penjelasannya ustadz. Jazakallahu khayran ustadz, barakallahu fik.

(Disampaikan oleh Fulanah, Disampaikan oleh Admin BiAS T08-G50)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du

Kesholihan orang tua memiliki pengaruh terhadap perlindungan Allah untuk anaknya. Contohnya adalah firman Allah ﷻ dalam surat al-kahfi ketika Allah menceritakan kisah nabi Khodir (nama ini lebih kami pilih dibanding “Khidir”) dan Nabi Musa:

Baca:  Orang Kaya Tidak Mau Berhaji

  وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ

“Adapun dinding rumah (yang ditegakkan Khodir -pen) adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan  bagi mereka berdua. Ayah kedua anak tersebut adalah seorang yang sholeh, maka Rabbmu menghendaki ketika mereka sampai pada masa  kedewasaannya kemudian mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Rabbmu”.
(QS. Al Kahfi : 82).

Mengapa Allah mewahyukan kepada nabi Khodhir untuk menegakkan dinding anak yatim yang akan roboh tersebut? Karena ayahnya dulu adalah orang yang sholih. Imam Ibnu Katsir berkata:

فيه دليل على أن الرجل الصالح يحفظ في ذريته، وتشمل بركة  عبادته لهم في الدنيا والآخرة

“Ayat tersebut adalah dalil bahwasanya orang tua yang sholih akan dijaga keturunannya, dan keberkahan ibadahnya akan mengalir kepada mereka di dunia dan akhirat”
(Tafsir Ibnu Katsir : 5/187).

Namun, tidak kita pungkiri juga bahwasanya ada orang – orang yang Allah uji dengan anaknya, seperti nabi Nuh ‘alaihissalam, betapa kesholihan nabi Nuh tidak membuat cahaya hidayah menerangi hati anaknya, anaknya tetap kafir, dan ini merupakan ujian yang Allah berikan kepada nabi Nuh.

Baca:  Bolehkah Wanita Dalam Masa Iddah Keluar Rumah?

Begitu pula, juga ada orang tua yang fajir bahkan kafir tapi anak – anak mereka menjadi orang yang sholih karena rahmat Allah. Seperti nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

Namun, hal tersebut tidak merubah ketetapan Allah, bahwasanya Allah telah menetapkan kesholihan orang tua adalah sebab baiknya keadaan seorang anak. Dan sebab tetap akan terjadi jika Allah mengizinkannya, sehingga sebuah sebab harus tetap diiringi dengan doa yang terus – menerus.

Ini sama halnya dengan peribahasa “rajin pangkal pandai”, itulah sebab yang telah ditetapkan Allah siapa yang rajin dan terus belajar maka ia akan pandai, namun ada beberapa orang yang dia rajin namun tidak juga pandai – pandai, apakah itu merubah keabsahan peribahasa tersebut? Tentu tidak.

Baca:  Biji Pala Dapat Menyebabkan Mabuk?

Begitu pula, obat flu misalkan, beberapa orang minum obat flu, tidak sembuh juga flunya, apakah kita bisa katakan jika obat tersebut diragukan?

Jadi, kesimpulannya segala sesuatu itu memiliki sebab yang Allah tetapkan, namun hasil akhirnya tetap kembali kepada kehendak Allah.
Keshalihan orang tua merupakan sebab anak bisa menjadi shalih, namun hasil akhir apakah anak tersebut shalih atau tidak, semua kembali pada kehendak Allah.

Wallahu Ta’ala A’lam.

 

Dijawab dengan ringkas oleh :
Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله
Selasa, 02 Dzulqadah 1441 H / 23 Juni 2020 M



Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى 
klik disini