Manhaj

Pendidikan Anak Dengan Menari dan Menyanyi Menurut Islam

Pendidikan Anak Dengan Menari dan Menyanyi

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan Pendidikan Anak Dengan Menari dan Menyanyi. Selamat membaca.


Pertanyaan:

Bismillah.. ustadz ana izin bertanya. Ana berasal dari keluarga Nasrani (keluarga ibu) dan alhamdulillah ana sudah hijrah sebagai muslim 17 tahun lalu. Suatu ketika, ana bekerja mengajar di TK Islam. Karena ana orang baru, awalnya ana hanya mengamati dan mengikuti guru yang lama.

Saat pelajaran imtaq (ice breaking), anak-anak diajari menyanyi tentang hewan, dan ana kenal betul lirik, nada, dan gerakan yang bu guru ajarkan persis nyanyian anak anak sekolah Minggu (pelajaran gereja khusus untuk anak seusia TK) meski beberapa lirik diganti.

Apakah seperti ini boleh diajarkan pada anak anak TK ustadz? Meski beberapa lirik diganti? Ana tidak mampu melanjutkan mengajar saat itu, hanya mampu bertahan 3 bulan, lalu ana resign. Ada perasaan mengganjal di hati yang ana tidak mampu sampaikan karena kurangnya ilmu. Syukron

(Ditanyakan oleh Santri Mahad BIAS)


Jawaban:

Bismillah

Mengikuti Jejak Generasi Terdahulu

Islam adalah agama yang sangat sempurna yang telah memperhatikan berbagai sisi kebutuhan hidup seorang muslim, baik ia sebagai hamba ataupun sebagai makhluk sosial. Terlebih dengan masalah pendidikan, sebagai cara untuk meneruskan risalah Allah dan para nabinya, maka pastinya Islam sangat perhatian dalam hal ini.

Islam telah mengajarkan umatnya bagaimana menjadikan generasi manusia menjadi manusia yang bermartabat, mulia di depan makhluk dan yang juga di depan penciptaNya. Dalam perjalanannya, pendidikan Islam telah jelas untuk mengajarkan kepada para kaum muslimin untuk selalu mengikuti dan menaati apa yang telah di ajarkan RasulNya dan para ulama sebagai pewaris Nabi. Dengan rambu syariat Islam, di mana Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai rambu rambu-utama, dan penjelasan para sahabat dan generasi penerusnya di dalam memahami apa yang telah di ajarkan maka semestinya cukup mencoba mempelajari dan menggali apa yang sudah dilakukan, mengembangkannya dengan berbagai peralatan yang diperlukan tanpa harus melenceng jauh atau bahkan melanggar syariat dan rambu yang sudah digariskan. Jika memang benar kita menginginkan hasil yang sebagaimana didapatkan dari generasi yang telah dipastikan kemuliaannya.

Sebagaimana firman Allah ta`ala:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ…

Dan orang-orang yang pertama kali masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan, Allah ridha kepada mereka, dan mereka pun ridha kepada Allah.” (QS. At-Taubah[9]: 100)

Allah juga berfirman:

فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنتُم بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوا

“Apabila mereka beriman dengan seperti apa yang kalian imani, sungguh mereka telah mendapatkan hidayah.” (QS. Al-Baqarah[2]: 137)

Juga sebagaimana yang telah di tegaskan oleh Nabi shallahu alaihi wasallam,”

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَ سُنَّة اَلْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ بَعْدِيْ

Kamu wajib mengikuti sunnahku dan sunnah sahabat Khulafaur Rasyidin yang diberi petunjuk sesudahku.” (HR. Ath-Thabrani, dinilai shahih oleh Al-Albani: 6/243)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ.

Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (yaitu masa para Sahabat), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi’in), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi’ut Tabi’in).”[ HR. Al-Bukhari (no. 2652) dan Muslim (no. 2533 (212).

Ketika ternyata prinsip dilanggar, bahkan metode pendidikan ala Islam ditinggal atau disisihkan, yang sering kali malah lebih menonjolkan gaya pendidikan di luar Islam yang lebih di banggakan maka akan di dapatkan kemunduran generasi Islam yang jauh dari sumber dan tujuan pendidikan sebenarnya. Berharap kita semua mau mencoba mengevaluasi, kembali menyadari untuk lebih memperbaiki dan meniti metode dakwah dan tarbiyah yang telah jalankan oleh kaum para salafusshalih.

Dengan berkacamata dari apa yang disebutkan dan dicontohkan para ulama, bahkan oleh Nabi shallahu alaihi wasallam sendiri, sejauh apa yang kami ketahui terkait dengan pertanyaan di atas bahwa tidak di dapatkan contoh/metode nabi dengan menggunakan metode menyanyi/menari untuk mengajarkan kebahagiaan dan semangat belajar dalam keseharian mereka. Melalui proses penanaman keimanan dalam diri dan keluarga, pengenalan syariat Islam, pendekatan nasihat dan contoh cerita/kisah para Nabi dan kisah kisah apik dari yang lainnya, praktik amaliyah untuk membiasakan ibadah, kedisiplinan dan nilai nilai akidah, akhlak dari pendekatan emosional dan contoh dari para pendidikan itu semua yang menjadikan umat dan generasinya menjadi mulia. Mengutip dengan apa yang di katakana oleh Imam Malik rahimahullah ta`aala:

لن يصلح آخر هذه الأمة إلا بما صلح به أولها

Tidak menjadi baik keadaan umat Islam ini kecuali dengan apa yang telah baik ada pada generasi pertamanya.”

Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu, beliau mengatakan:

مَنْ كَانَ مِنْكُمْ مُسْتَنًّا فَلْيَسْتَنَّ بِمَنْ قَدْ مَاتَ، فَإِنَّ الْحَيَّ لَا تُؤْمَنُ عَلَيْهِ الْفِتْنَةُ، أُولَئِكَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَانُوا أَفْضَلَ هَذِهِ الْأُمَّةِ، أَبَرَّهَا قُلُوبًا، وَأَعْمَقَهَا عِلْمًا وَأَقَلَّهَا تَكَلُّفًا، قَوْمٌ اخْتَارَهُمُ اللَّهُ لِصُحْبَةِ نَبِيِّهِ وَإِقَامَةِ دِينِهِ، فَاعْرَفُوا لَهُمْ فَضْلَهُمْ، وَاتَّبِعُوهُمْ فِي آثَارِهِمْ، فَإِنَّهُمْ كَانُوا عَلَى الْهَدْيِ الْمُسْتَقِيمِ

“Barangsiapa di antara kalian ingin mengambil suri tauladan, maka jadikan orang-orang yang sudah meninggal itu sebagai suri tauladan, karena orang yang masih hidup belum aman dari fitnah. Adapun mereka yang telah wafat, merekalah para Sahabat Rasulullah, mereka adalah ummat yang terbaik saat itu, mereka paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling baik keadaannya. Mereka suatu kaum yang Allah pilih untuk menjadi sahabat-sahabat RasulNya, dan menegakkan agamaNya, maka kenalilah keutamaan mereka, dan ikutilah jejak mereka, karena sesungguhnya mereka berada di atas jalan yang lurus.” (Jami’ul Bayan Al-ilmi Wa Fadhlihi (2/97)

Pendidikan Menyanyi dan Menari Bukan Cara Salaf

Sehingga, bisa disimpulkan bahwa pendidikan menyanyi dan menari bukanlah cari salafussahalih di dalam mendidikan dan mengasuh anak sebagai generasi umat. Bahkan banyak dalil dari ayat dan alhadist yang menjelaskan dengan kedudukan hukum musik yang dilarang, walaupun banyak yang mencari pembenaran (lihat link berikut: https://bimbinganIslam.com/hukum-musik/). Di tambah ternyata memang banyak lirik dan nada yang mengadopsi dari lagu lagu di luar Islam atau kelompok kelompok yang sering memanfaatkan nama/syariat Islam, yang menguatkan bahwa lagu dan model pendidikan seperti ini ternyata adalah ajaran hasil dari mengadopsi dari ajaran agama lain yang keliru dan bertentangan dengan Islam. Yang semestinya kaum muslimin harus lebih bangga dan yakin dengan metode Islam yang telah terbukti keberhasilannya untuk mendekatkan generasi umat terhadap Tuhannya, menanamkan kebaikan dan kemulian, serta menjadikan orientasi kehidupan untuk menjadi manusia yang baik dan sukses di dunia dan di akhirat. Maka inilah yang semestinya di lakukan.

Bila memungkinkan, maka sebaiknya mencoba memberikan masukan kepada mereka yang masih seperti itu, memotivasi untuk selalu menggali ajaran dan metode Islam yang baik dan benar serta tidak meniru gaya/metode dari agama lainnya. Semoga Allah memberikan hidayah kepada kita semua dan generasi generasi Islam yang tengah di intai untuk di rusak dari dalam dan dari luar.

Wallahu a`lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
USTADZ MU’TASIM, Lc. MA. حفظه الله
Rabu, 21 Shafar 1443 H/ 29 September 2021 M


Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi Bimbingan Islam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله 
klik disini

Baca Juga :  Ahlus Sunnah Selalu Memprioritaskan Tauhid Dalam Berdakwah

USTADZ MU’TASIM, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid

Related Articles

Back to top button