Manhaj

Pemimpin Zalim Harus Dibuka Aibnya. Benarkah Pernyataan Itu?

Pemimpin Zalim Harus Dibuka Aibnya. Benarkah Pernyataan Itu?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan pembahasan tentang pemimpin zalim, apakah harus dibuka aibnya? Selamat membaca.


Pertanyaan:

Assalāmu’alaikum ustadz. Semoga Allāh selalu merahmati dan melindungi ustadz dan seluruh umat muslim. Ustadz, ada yang mengatakan bahwa pemimpin zalim harus dibuka aibnya. Apakah ini dibenarkan dalam syariat Islam? Jazākallāhu khairan ustadz.

(Ditanyakan oleh Santri Kuliah Islam Online Mahad BIAS)


Jawaban:

Waalaikumsalam warahmatullah wabrokatuh

Tidak dibenarkan seseorang membuka aib saudaranya, apa pun kedudukannya, terlebih ia sebagai seorang pemimpin, yang harus tetap di jaga kewibaannya di hadapan rakyatnya. Diperbolehkan untuk mengadukan/memberikan masukan atau membuka kekurangannya di depan pihak yang berwenang yang diharapkan ada perbaikan, sebagai pintu amar makruf nahi mungkar/saling menasihati dengan cara yang baik dan bijak.

Dasar larangan membuka aib saudara muslim kita sebagaimana firman Allah

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.

(QS. An-Nur 19)

Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain. Apakah ada diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Taubat, Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat:12)

Baca Juga:  Makna Melazimi Jama’ah.

Dalam sebuah hadits dikatakan, Rasulullah () bersabda:

Dan barang siapa yang menutupi aib seorang muslim sewaktu di dunia, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat” (HR. At-Tirmidzi)

وعن أَبي هريرة رضي الله عنه عن النَّبيّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: [1]. رواه مسلم.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi (), sabdanya: “Tiada seseorang hamba pun yang menutupi cela seseorang hamba yang lainnya di dunia, melainkan ia akan ditutupi celanya oleh Allah pada hari Kiamat.” (Riwayat Muslim)

Dan dasar larangan kita harus menjaga kewibawaan pemimpin kita

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”

مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ، فَإِنَّهُ مَنْ خَرَجَ مِنَ السُّلْطَانِ شِبْرًا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

Barangsiapa membenci tindakan (kebijakan) yang ada pada penguasanya, hendaklah dia bersabar. Karena siapa saja yang keluar dari (ketaatan) terhadap penguasa (seakan-akan) sejengkal saja, maka dia akan mati sebagaimana matinya orang-orang jahiliyyah.” (HR. Bukhari no. 7053 dan Muslim no. 1849. Lafadz hadits ini milik Bukhari.)

Sahabat ‘Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

دَعَانَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَايَعْنَاهُ، فَقَالَ فِيمَا أَخَذَ عَلَيْنَا: أَنْ بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا، وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَأَثَرَةً عَلَيْنَا، وَأَنْ لاَ نُنَازِعَ الأَمْرَ أَهْلَهُ، إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا، عِنْدَكُمْ مِنَ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah kepada kami dan kami pun berbaiat kepada beliau. Maka Nabi mengatakan di antara poin baiat yang beliau ambil dari kami, Nabi meminta kepada kami untuk mendengar dan taat kepada penguasa, baik (perintah penguasa tersebut) kami bersemangat untuk mengerjakannya atau kami tidak suka mengerjakannya, baik (perintah penguasa tersebut) diberikan kepada kami dalam kondisi sulit (repot) atau dalam kondisi mudah (lapang), juga meskipun penguasa tersebut mementingkan diri sendiri (yaitu, dia mengambil hak rakyat untuk kepentingan dirinya sendiri dan kroni-kroninya, pen.), dan supaya kami tidak merebut kekuasaan dari pemegangnya (maksudnya, jangan memberontak, pen.). Kecuali jika kalian melihat kekafiran yang nyata (tampak terang-terangan atas semua orang, pen.), dan kalian memiliki bukti di hadapan Allah Ta’ala bahwa itu adalah kekafiran.” (HR. Bukhari no. 7056 dan Muslim no. 1709)

l-Imam Abu ‘Isa At-Tirmidzi rahimahullah berkata,” dari Ziyad bin Kusaib Al ‘Adawi berkata: Aku pernah bersama Abu Bakrah di bawah mimbar Ibnu ‘Amir saat ia berkhotbah, ia mengenakan baju tipis lalu Bilal berkata: Lihatlah pemimpin kita mengenakan baju orang-orang fasik. Abu Bakrah berkata: Diam, aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa menghina pemimpin Allah di bumi, Allah akan menghinakannya.” Berkata Abu’Isa: Hadits ini hasan gharib. (Diriwayatkan oleh Tirmidzi no 2150. Syaikh Al-Albaniy berkata hadits Hasan dalam Shahih Tirmidzi no 1820)

Dan dasar bolehnya membuka aib di hadapan pihak yang berwenang untuk kemaslahan, baik untuk meminta fatwa atau megadukan kedzaliman dan sebagainya dengan tidak membukanya di depan umum, sebagaimana riwayat ‘Aisyah berikut.

قَالَتْ هِنْدٌ أُمُّ مُعَاوِيَةَ لِرَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيحٌ فَهَلْ عَلَيَّ جُنَاحٌ أَنْ آخُذَ مِنْ مَالِهِ سِرًّا قَالَ خُذِي أَنْتِ وَبَنُوكِ مَا يَكْفِيكِ بِالْمَعْرُوفِ.

Pernah suatu ketika Hindun Umm Mu’awiyyah mengadu kepada Rasulullah () bahwa suaminya, yang bernama Abu Sufyan adalah orang yang sangat kikir, maka apakah ia boleh mengambil harta suaminya secara sembunyi-sembunyi. Rasulullah () pun menjawab, “Silahkan ambil untukmu dan anak-anakmu secukupnya dengan cara yang baik!”

Sehingga bijaklah dalam berkata, tidaklah mudah membiarkan lisan dalam mencela seseorang terlebih ia adalah seorang pimpinan. Bila didapatkan kelemahan dan kekurangan, maka berdoa dan mencoba memberi masukan kepada pihak yang bisa menyampaikan kepada seorang pemimpin.

Bila semua tidak bisa di lakukan, maka diamlah dan terus berdoa semoga Allah berikan hidayah kepada kita dan para pemimpin kita.

Wallahu a`lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله
Selasa, 17 Safar 1444 H/ 13 September 2022 M


Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi BimbinganIslam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله klik di sini

  1. لاَ يَسْتُرُ عَبْدٌ عَبْدًا في الدُّنْيَا إلاَّ سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ القِيَامَةِ

Baca Juga:  Baiat Kepada Penguasa

Ustadz Mu’tasim, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid

Related Articles

Back to top button