Adab & AkhlakArtikel

Pelajaran dari Unta Rasulullah yang Kalah Lomba

Pelajaran dari Unta Rasulullah yang Kalah Lomba

Para pembaca Bimbinganislam.com yang berakhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang pelajaran dari unta Rasulullah yang kalah lomba.
Silahkan membaca.


بسم الله والصلاة والسلام على رسول الله، أما بعد

Rasulullah ﷺ memiliki kuda bernama Dzas Sadad. Beliau ﷺjuga memiliki bagholah diberi nama oleh beliau Duldul. Beliau ﷺpunya keledai beliau beri nama ‘Ufair Beliau ﷺ punya unta yang beliau ﷺpernah berhaji dengannya, beliauﷺ beri nama unta itu Al Qoshwa’

Begitulah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau memiliki beberapa hewan tunggangan, yang beliau beri nama hewan-hewan tunggangan tersebut. Hewan tunggangan Rasulullah ﷺ tersebut memiliki cerita dan ibrah (pelajaran) tersendiri.

Kisah Kalahnya Unta Nabi

Diantara hewan tunggangan tersebut ada yang bernama ‘Adhba, seekor unta betina milik Rasulullah yang cerita tentangnya memberikan kita beberapa faidah dan pelajaran penting. Kisah ini diceritakan langsung oleh Sahabat yang mulia, Anas bin Malik, Radhiallahu ‘anhu, dan diriwayatkan oleh Imam Bukhari di dalam kitab Shahih beliau,

كانَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَاقَةٌ تُسَمَّى العَضْبَاءَ، لَا تُسْبَقُ – قَالَ حُمَيْدٌ: أَوْ لَا تَكَادُ تُسْبَقُ – فَجَاءَ أَعْرَابِيٌّ عَلَى قَعُودٍ فَسَبَقَهَا، فَشَقَّ ذَلِكَ عَلَى المُسْلِمِينَ حَتَّى عَرَفَهُ، فَقَالَ

“Dahulu Nabi Shallallahi ‘alaihi wa sallam memiliki seekor unta betina yang diberi nama Al ‘Adhba, tidak pernah terkalahkan (dalam pacuan kuda)- berkata Humaid (perawi dari Anas bin Malik), atau hampir-hampir tidak pernah terkalahkan – hingga datang seorang Arab Badui dengan tungganganya berhasil mengunggulinya. Maka hal tersebut membuat kaum muslimin (para sahabat) merasa kecewa hingga Rasulullah Shallallahu a’aihi wa salam pun dapat mengetahui kekecewaan tersebut. Maka beliau ﷺ pun berucap.

‌حَقٌّ ‌عَلَى ‌اللَّهِ ‌أَنْ ‌لَا ‌يَرْتَفِعَ شَيْءٌ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا وَضَعَهُ

“Merupakan hak atas Allah, bahwasanya tidaklah sesuatu dari dunia ini naik (menjadi tinggi) kecuali Allah pasti akan merendahkannya”.
(H.R Bukhari no. 2872, dan juga no.6501 dengan redaksi yang sedikit berbeda)

Baca Juga :  Harus Baca, Solusi Melunasi Hutang Riba!

Pelajaran yang Dapat Dipetik

Dari kisah singkat kekalahan unta Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ini ada beberapa pelajaran yang bisa kita tuai.

1. Yang pertama,adalah bagaimana tawadhu’nya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sangat jauhnya beliau dari sifat sombong, angkuh dan merasa paling. Beliau mau mengakui kekalahan hewan tunggangan beliau yang dikalahkan oleh seorang Arab Badui.

Dan sungguh sifat Tawadhu’ atau rendah hati ini tidaklah merugikan pemiliknya, dan tidak pula menjadikan Allah merendahkan derajatnya. Bahkan justru sebaliknya, semakin seseorang itu tawadhu’ karena Allah, dan jauh dari sifat sombong, maka semakin Allah mengangkat derajatnya. Rasulullah bersabda;

ما نقصت صدقة من مالٍ، وما زاد الله عبداً بعفوٍ إلا عزاً، وما تواضع أحداً إلا رفعةُ الله

“Tidaklah sedekah itu mengurangi harta, dan tidaklah kepada hamba yang pemaaf kecuali Allah tambah kemuliannya. Dan tidaklah seseorang tawadhu’ karena Allah, kecuali Allah angkat ia”
(H.R Muslim no.2588)

Berkata Al Imam Nawawy, Rahimahullah, menjelaskan makna Allah mengangkatnya,

فيهِ أَيْضًا وَجْهَانِ أَحَدُهُمَا يَرْفَعُهُ فِي الدُّنْيَا وَيُثْبِتُ لَهُ بِتَوَاضُعِهِ فِي الْقُلُوبِ مَنْزِلَةً وَيَرْفَعُهُ اللَّهُ عِنْدَ النَّاسِ وَيُجِلُّ مَكَانَهُ وَالثَّانِي أَنَّ الْمُرَادَ ثَوَابُهُ فِي الْآخِرَةِ وَرَفْعُهُ فِيهَا بِتَوَاضُعِهِ فِي الدُّنْيَا

“Di dalam hadits ini juga terdapat dua makna, yg pertama, Allah mengangkatnya (orang yang tawadhu’) di dunia dan meneguhkan kedudukan baginya di dalam hati-hati manusia karena sebab ketawadhu’annya. Dan Allah mengangkat derajatnya di tengah-tengah manusia, dan memuliakan kedudukannya. Dan yang kedua, yang dimaksud adalah mengangkat pahalanya di akhirat dan mengangkat derajatnya di dunia karena sebab ketawadhu’anya”

2. Yang kedua, sudah merupakan sunnatullah (ketetapan dari Allah), segala sesuatu dari dunia ini tidak ada yang selalu di atas, selalu di puncak, selalu sukses, selalu kaya, selalu sehat, pasti suatu saat ada titik kulminasi yang mana setelah itu ia harus turun ke bawah. Bagaikan roda yang berputar, bagian yang di atas, pasti suatu saat akan berada di bawah dan menginjak tanah. Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah berkata

فكل ارتفاع يكون في الدنيا فإنه لابد أن يئول إلى انخفاض

“Segala sesuatu yang tinggi di dunia ini maka ia pasti akan kembali kepada yang rendah.”

Jikalau setinggi-tingginya dunia yang kita kejar, pasti akan jatuh dan akhirnya hina juga, lalu untuk apa kita membanggakanya. Inilah mengapa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam hadits ini mengingatkan kita.

نبّه بذلك أمته (صلى الله عليه وسلم) على ترك المباهاة والفخر بمتاع الدنيا، وأن ما كان عند الله فى منزلة الضعة، فحق على كل ذى عقل الزهد فيه وقلة المنافسة فى طلبه

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memperingatkan kita untuk meninggalkan berbangga-bangga, bermegah-megahan dengan perhiasan dunia. Dan sesungguhnya apa-apa yang disisi Allah rendah kedudukannya, maka wajib bagi siapa pun untuk zuhud padanya dan tidak berlomba-lomba dalam mengejarnya.”
(Syarah Shahih Bukhari Ibnu Bathol Juz.10 hal 212)

3. Yang ketiga, ketika seseorang berada di posisi atas maka hendaknya ia manfaatkan sebaik-baiknya untuk kebaikan akhiratnya. Ketika seseorang sedang dalam kondisi kaya, maka ia gunakan hartanya untuk kebaikan akhiratnya, sebelum datang masa miskinnya. Begitu juga ketika seseorang sedang dalam keadaan sehat, maka manfa’atkanlah masa sehatnya sebelum datang masa sakitnya. Inilah makna sabda Rasulullah ﷺ

اغتنم خمسا قبل خمس، شبابك قبل هرمك، وصحتك قبل سقمك، وغناك قبل فقرك، وفراغك قبل شغلك، وحياتك قبل موتك

“Manfaatkan yang lima sebelum datang yang lima. Masa mudamu sebelum masa tuamu. Masa sehatmu seblum masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu, masa luangmu sebelum masa sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.”
(Hadits shahih diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya, Al Hakim, Al Baihaqy dan dishahihkan oleh Al Albany di dalam Shahih Targhib no. 3355)

  1. Yang keempat, Perkataan Rasulullah, “……..dari dunia ……………..”

‌لَا ‌يَرْتَفِعَ شَيْءٌ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا وَضَعَهُ

Menunjukkan bahwasanya hanya perkara dunia saja yang akan Allah rendahkan dan Allah hinakan, adapun perkara akhirat maka tidak akan pernah Allah rendahkan dan Allah hinakan. Sebagaimana firman Allah

 (يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ) (المجادلة: ١١)

“Maka Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman dan berilmu di antara kalian dengan beberapa derajat.”

Selama seseorang memiliki sifat beriman dan berilmu, maka tidaklah mungkin Allah akan menjadikan rendah kedudukannya dan tidak juga menghinakanya, selamanya. Justru Allah akan angkat terus derajatnya, baik di dunia maupun di akhirat.

Wallahu ‘alam.

 

Ditulis Oleh:
Ustadz Kukuh Budi Setiawan, S.S., S.H., حفظه الله
(Kontributor bimbinganislam.com)



Ustadz Kukuh Budi Setiawan, S.S., S.H., حفظه الله
Beliau adalah Alumni UNS dan STDIIS, Pengajar di Ponpes Al Irsyad Tengaran dan Ponpes Muslim Merapi Boyolali
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Kukuh Budi Setiawan, S.S., S.H., حفظه الله  
klik disini

Baca Juga :  Cara Islami Menyikapi Resesi

Ustadz Kukuh Budi Setiawan, S.S., S.H.,

Beliau adalah Alumni UNS dan STDIIS, Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Sebagai Pengajar di Ponpes Al Irsyad Tengaran dan Ponpes Muslim Merapi Boyolali

Related Articles

Back to top button