Ibadah

Pahala Dan Dosa Jariyah

Pahala Dan Dosa Jariyah

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan pahala dan dosa jariyah. Selamat membaca.


Pertanyaan:

Assalaamu’alaikum ustadz mau bertanya. Apakah seseorang yang telah mengetahui bahwa haramnya musik, namun ia pernah terjatuh dalam mendengarkan musik lagi dengan cara dia mengizinkan kepada aplikasi untuk menyimpan data tersebut.

Seperti jika ada seseorang yang ingin menginstal sesuatu di hpnya maka akan ada permintaan ijin begitu ustadz. Apakah ini perbuatan menghalalkan yang haram?

Karena berdasarkan kamus KBBI bahwa mengijinkan itu berarti membolehkan. Dan perlu diketahui bahwa file musik itu bercampur 1 file dengan audio ceramah apakah ini bukan mengolok-olok ajaran Islam? Padahal pelakunya tidak ada niat ke arah situ. Jazaakallaahu khairan katsiiraa

(Ditanyakan oleh Santri Kuliah Islam Online Mahad BIAS)


Jawaban:

Waalaikumsalam warahmatullah wabarokatuh. Saudara dan sahabat BiAS yang semoga Allah menjaga agama dan amalan kita semua.

Hendaknya kita mencoba mengoptimalkan usaha untuk menjauhi hal yang telah kita ketahui keharamannya, terlebih dengan kemaksiatan yang pernah kita terjebak di dalamnya.

Memang tidak mudah bagi kita untuk menghindari suasana musik dalam kehidupan masyarakat kita, hampir semua tempat dan kondisi memaksa kita untuk mendengarnya.

Baca Juga:  Tidak Perlu Tahlilan, Cukupkan Saja dengan Ajaran Nabi (ﷺ)

Selama ada usaha maksimal dan kita tidak sengaja mendengarkannya, tidak menjadi asyik dan menikmatinya, juga usaha menampakkan rasa hati untuk membencinya. Sehingga akan ada usaha dari kita untuk menjauhinya atau menghilangkannya dari lingkup kekuasaan kita.

Maka, lakukan yang bisa Anda lakukan sehingga kita tidak berdosa dengan apa yang pernah dilakukan, sekuatnya menghilangkan celah yang menyebabkan orang lain terjebak dari segala bentuk kemaksiatan yang dulu pernah kita lakukan, sehingga dosa jariyah tidak kita dapatkan. Sebagaimana sabda Rasulullah sallahu alaihi wasallam,”

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا، وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

Barangsiapa yang membuat sunnah hasanah ( contoh baik) dalam Islam maka dia akan memperoleh pahala dan pahala orang yang mengikutinya, dengan tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa yang membuat sunnah sayyi’ah( contoh buruk) dalam Islam maka ia akan mendapatkan dosa dan dosa orang yang mengikutinya, dengan tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun” (HR Muslim: 1017)

Baca Juga:  9 Sunnah dan Hukum Adzan Ketika Hujan

Berkata Syekh Utsaimin rahimahullah ta`ala ketika menjelaskan hadist di atas,”

فيه التحذير من السنن السيئة ، وأن من سن سنة سيئة فعليه وزرها ووزر من عمل بها إلى يوم القيامة ، حتى لو كانت في أول الأمر سهلة ثم توسعت فإن عليه وزر هذا التوسع ، مثل لو أن أحدا من الناس رخص لأحد في شيء من المباح الذي يكون ذريعة واضحة إلى المحرم وقريبا ، فإنه إذا توسع الأمر بسبب ما أفتى به الناس فإن عليه الوزر ، ووزر من عمل بها إلى يوم القيامة انتهى .

“Di dalamnya terdapat peringatan bagi orang yang memberikan contoh keburukan, barangsiapa yang memberikan contoh yang buruk maka ia akan mendapatkan dosa (atas keburukannya) dan juga dosa yang mengikuti keburukannya sampai hari kiamat (bila keburukan tersebut tetap dilakukan karena ajaran/contohnya). Jika pun terlihat di awalnya kecil, namun dosa akan terus mengalir bila semakin meluas.

Sebagai permisalan, ada seseorang yang bermudah-mudah kepada orang lain dengan sesuatu yang diperbolehkan, padahal kemungkinan kuat akan membawanya kepada yang haram dalam waktu cepat, begitu pula dari sebab fatwanya (yang salah) kepada manusia ia juga bisa mendapatkan dosa dan dosa yang mengikutinya sampai hari kiamat nanti. (Syahr Riyadh Shalihin hal 199)

Baca Juga:  Bagaimana Hukum Menjawab Suara Iqamah?

Karenanya lakukan secara maksimal untuk mencegah atau menghilangkan kemaksiatan tersebut, bila sudah berusaha maksimal, kita senantiasa berdoa dan meminta ampun kepada Allah dari apa yang pernah kita lakukan, semoga Allah ta`ala mengampuni kita semua.

Kemudian, apakah ada unsur mengolok-olok dalam perkara yang disebutkan di atas, semoga tidak ada bila dilihat dari apa yang diceritakan, bila memang ia tidak meniatkan dan tidak bermaksud menghalalkan yang diharamkan.

Sebisa mungkin menghilangkan hal atau file atau aplikasi yang berbau maksiat atau berpotensi maksiat untuk menyelamatkan kita dan agama kita dari fitnah dan kemaksiatan yang telah merajalela.

Semoga Allah selalu menjaga diri kita, keluarga dan sahabat kita serta kaum muslimin dari fitnah kehidupan ini.

Wallahu a`lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله
Selasa, 18 Muharram 1443 H/ 16 Agustus 2022 M


Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi BimbinganIslam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله klik disini

Ustadz Mu’tasim, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid
Back to top button