Home Blog Page 3

Cara Menasehati Orang Tua yang Sering Menyebar Hadits Palsu

0

Cara Menasehati Orang Tua yang Sering Menyebar Hadits Palsu

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang cara menasehati orang tua yang sering menyebar hadits palsu.
selamat membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga ustadz selalu dalam lindungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Izin bertanya Ustadz. Bagaimana sikap yang harus kita ambil apabila kita mendapati orang tua kita terjatuh dalam dosa besar (sering menyebarkan hadist palsu),
beberapa kali sudah di ingatkan mengenai larangannya juga ancamannya disampaikan dengan dalil juga, tetapi qadarullah masih sering menyebarkan hadist2 palsu.

Sebagai bentuk rasa sayang dan tanggung jawab sebagai seorang anak, sudah berusaha sehikmah dan selembut mungkin dalam mendakwahi, namun sering di salah artikan dan malah tersinggung, di anggap mendikte orang tua sampai2 sang anak di anggap durhaka dan tidak di tegur sapa sampai beberapa waktu

Apakah bentuk akhlak yang buruk bila anak menyarankan untuk menghapus atau mengklarifikasi bahwa hadist yang telah terlanjur di sebarkan merupakan hadist palsu.
(anak sudah tabayyun dan memberitahu status hadist tersebut palsu)

Apakah ini bentuk kedurhakaan?
dan sikap apa yang harusnya di ambil dalam masalah ini?

(Disampaikan oleh Fulanah, Member grup WA BiAS)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Alhamdulillāh wa shalātu wa salāmu ‘alā rasūlillāh.

Nasihat dan mengingkari kemungkaran yang dilakukan orang tua bukanlah bentuk kedurhakaan seorang anak kepada mereka, malahan hal tersebut merupakan bentuk kebaktian seorang anak dan ketaatan kepada Allah dan rasulNya.

Namun bentuk dakwah yang akan berkesan dari seorang anak kepada orang tuanya adalah dengan memperbaiki akhlak. Perbaiki akhlak, jika sudah baik tingkatkan lagi. karena sejatinya akhlak yang baik lebih mengena di hati orang tua daripada seribu dalil. Dan betapa banyak kita lihat bertambah jauhnya orang tua dari kebenaran karena akhlak yang buruk.

Sebesar apapun dosa orang tua, tidak akan merubah kedudukan seorang anak, anak tetaplah anak, kewajiban berbakti tetap ada. Allah berfirman:

وإنْ جاهَداكَ عَلى أنْ تُشْرِكَ بِي ما لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلا تُطِعْهُما وصاحِبْهُما فِي الدُّنْيا مَعْرُوفًا

“Apabila mereka berdua menyuruhmu untuk menyekutukanku dengan sesuatu yang tidak engkau ilmui, maka jangan taati mereka berdua. Namun, pergaulilah mereka berdua di dunia dengan baik”
(QS. Lukman 15).

Kemudian, ingatlah kewajiban kita hanya menyampaikan, bahkan rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun hanya bisa sebatas menyampaikan dan mendakwahkan, adapun masalah hidayah adalah hak prerogatif Allah semata. Maka jangan sampai kita masuk kedalam wewenang Allah tersebut. Allah berfirman:

إنَّكَ لا تَهْدِي مَن أحْبَبْتَ ولَكِنَّ اللهَ يَهْدِي مَن يَشاءُ

“Sesungguhnya engkau ya rasulullah, tidak bisa memberikan hidayah kepada orang yang engkau cintai, akan tetapi Allah memberikan hidayah kepada siapa yang Ia kehendaki.”
(Al-Qashash : 56).

Berdakwahlah dengan adab dan akhlak, sabar serta memperbanyak doa untuk mereka.

Wallahu a’lam

Dijawab oleh :
Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله
Kamis, 07 Jumadil Ula 1442 H / 24 Desember 2020 M



Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى 
klik disini

Rapat Kerja Tahunan Bimbingan Islam dan Cinta Sedekah – Desember 2020

0

Alhamdulillah atas izin Allah Ta’ala, Yayasan Bimbingan Islam bersama Yayasan CInta Sedekah telah mengadakan kegiatan Rapat Kerja Bersama pada hari Ahad – Selas tanggal 20-22 Desember 2020 / 6-8 Jumadal Awwal 1442 H, dengan tujuan Mewujudkan Tim Kerja yang Profesional, Solid, dan Amanah

Pada kesempatan tersebut dihadiri oleh Pembina, Pengurus, Staf karyawan BIAS-CS. Agenda rapat kerja meliputi evaluasi visi dan misi Yayasan BIAS dan Cinta Sedekah, Laporan dan Evaluasi Kinerja BIAS-CS, dan Pelatihan Manajemen Penilaian Kinerja.

Pembina Yayasan Ustadz Fauzan Abdullah menyampaikan nasihat bagi seluruh karyawan untuk senantiasa tulus ikhlas dalam bekerja, profesional, amanah dan berkarya secara maksimal sesuai bidang kerja masing-masing.

Diharapkan seusai rapat kerja tahunan ini, performa kinerja Yayasan semakin baik, amanah, profesional, dan sesuai dengan tuntunan syariat.

Barakallahu fikum
Tim Donasi Bimbingan Islam
wa.me/+6287881458000

Hukum Bayar Zakat Sebelum Jatuh Tempo (Haul)

0

Hukum Bayar Zakat Sebelum Jatuh Tempo (Haul)

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang hukum bayar zakat sebelum haul (jatuh tempo)
selamat membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga ustadz selalu dalam lindungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Mohon petunjuk, bagaimana jika zakat dibayarkan sebelum jatuh tempo dan dibayarkan tiap bulan ke mustahik untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Apakah dibolehkan untuk tidak membayarkannya sekaligus di awal atau di akhir?
Jazakumullahu khairan kathiran.

(Disampaikan oleh Fulanah, Member grup WA BiAS)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Alhamdulillāh wa shalātu wa salāmu ‘alā rasūlillāh.

Zakat diwajibkan atas seorang muslim jika sudah terpenuhi dua syarat:
1. Mencapai nishob, yaitu kadar minimal harta yang dimiliki.
2. Nishab di atas telah mencapai setahun.

Jika kedua syarat tersebut terpenuhi harta seseorang maka wajib untuk dikeluarkan zakatnya.

Adapun masalah menyegerakan zakat sebelum diwajibkan, butuh kepada rincian:

1. Jika dikeluarkan sebelum harta mencapai nishab, maka tidak sah berdasarkan kesepakatan para ulama. Imam Nawawi berkata:

زكاةُ الماشية والنَّقد والتِّجارة، فلا يجوزُ تعجيلُ الزكاة فيه قَبل مِلك النِّصاب، بلا خلافٍ

“Zakat hewan ternak, uang dan perdagangan, maka tidak boleh disegerakan sebelum mencapai nishabnya tanpa ada perselisihan di kalangan ulama.”
(Al-Majmu’ syarh muhadzzab : 6/146).

2. Jika dikeluarkan setelah harta mencapai nishab namun belum lewat satu haul (satu tahun hijiryyah). Mayoritas ulama membolehkan hal tersebut. Imam Tirmidzy berkata:

قال أكثرُ أهلِ العِلم: إنْ عجَّلَها قبل مَحَلِّها أجزأتْ عنه، وبه يقولُ الشافعيُّ، وأحمدُ، وإسحاقُ

“Mayoritas ulama berkata: Jika seseorang menyegerakan zakat sebelum jatuh tempo, sah zakatnya. dan ini adalah perkataan Syafi’i, Ahmad, dan Ishaq”
(Sunan Tirmidzy: 2/57).

Jadi, boleh mengeluarkan zakat sebelum jatuh tempo dengan syarat harta telah mencapai nishab (misal : jika uang setara dengan 85 gr emas). Baik dengan cara langsung maupun dengan cara dicicil perbulannya.
Ketika telah mencapai satu haul, maka dihitung jumlah hartanya, dan dilihat apakah zakat yang dikeluarkan setiap bulan sudah pas atau belum, jika masih kurang maka keluarkan sisanya.

Wallahu a’lam

Dijawab oleh :
Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله
Kamis, 07 Jumadil Ula 1442 H / 24 Desember 2020 M



Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى 
klik disini

Wanita Haid Bolehkah Masuk dan Berlama-lama di Masjid?

0

Wanita Haid Bolehkah Masuk dan Berlama-lama di Masjid?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang wanita haid bolehkah masuk dan berlama-lama di masjid.
selamat membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla selalu menjaga ustadz dan keluarga. Saya mau bertanya ustadz.

Saya mau bertanya, apakah wanita haid boleh berlama-lama di dalam masjid misalnya duduk di dalam untuk mendengar kajian?
atau hanya diperbolehkan untuk tidak berlama lama (misalnya, mengambil barang dan langsung keluar)?

(Disampaikan oleh Fulan, sahabat belajar grup WA Bimbingan Islam – BiAS)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Ini adalah masalah yang di perselisihkan oleh para ulama. Imam Ahmad, Al-Muzani, Ibnu Hazm, Abu Dawud termasuk ulama yang memilih pendapat bolehnya seorang wanita hadis berdiam diri di masjid untuk mendengarkan pengajian selama memang aman dari darah yang tercecer. Demikian pula Syaikh Al-Albani juga memilih pendapat ini. Syaikh Muhammad Ali Al-Farkus pula menyatakan :

م يَرِدْ دليلٌ ثابتٌ صريحٌ يمنع الحائضَ مِنْ دخول المسجد، والأصلُ عدَمُ المنع

“Tidak ada dalil shahih dan tegas yang melarang wanita haid masuk masjid. Dan hukum asal seorang hamba itu tidak dibebani larangan.”
(Fatawa Syaikh Farkus no. 35).

Diantara dalil yang mendasarinya adalah sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada Aisyah radhiyallahu anha :

فَافْعَلِي مَا يَفْعَلُ الحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لَا تَطُوفِي بِالبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِي

“Lakukanlah semua yang dilakukan oleh seorang yang berhaji hanya saja kamu jangan melakukan thawaf di ka’bah sampai kamu suci dari haidh.”
(HR Bukhari : 305, Muslim : 1211).

Dalam riwayat ini Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak melarang Aisyah dari memasuki dan berdiam diri di masjid. Yang dilarang oleh beliau hanya melakukan thawaf.

Semoga bermanfaat,
Wallahu ta’ala a’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh :
Ustadz Abul Aswad Al Bayati حفظه الله
Kamis, 07 Jumadil Ula 1442 H/ 24 Desember 2020 M



Ustadz Abul Aswad Al-Bayati, BA.
Dewan konsultasi Bimbingan Islam (BIAS), alumni MEDIU, dai asal klaten
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Abul Aswad Al-Bayati حفظه الله  
klik disini

Apa Benar Garam Bisa Mengusir Jin dan Sihir?

0

Apa Benar Garam Bisa Mengusir Jin dan Sihir?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang apa benar garam bisa mengusir jin dan sihir?
selamat membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla selalu menjaga ustadz dan keluarga. Saya mau bertanya ustadz.

Ustadz Apakah benar garam dapat mengusir sihir atau jin atau makhluk halus ?
Jazakallahu khoyron atas jawabannya.

(Disampaikan oleh Fulan, sahabat belajar grup WA Bimbingan Islam – BiAS)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Tidak benar ucapan yang menyatakan bahwa garam bisa mengusir jin. Karena ini adalah pembicaraan tentang hal ghaib, yang seharusnya disandarkan kepada wahyu. Selama tidak ada dalil yang mendasarinya, tidak ada pula tajribah/penelitian yang mendasarinya, tak ada pula amalan salaf dalam masalah tersebut. Maka ucapan ini tidak benar dan tidak boleh diyakini. Allah ta’ala menyatakan :

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ ۚ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ

“Katakanlah : “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara ghaib kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan”
(An-an’am : 65).

Disebutkan dalam salah satu redaksi fatwa :

فلا نعلم ما يفيد من ناحية الشرع أو العقل أو التجربة كون الملح يفيد في طرد الحسد والشياطين، وقد قرر أهل العلم أنه لا يجوز للمسلم أن يجعل شيئاً سبباً لجلب نفع أو دفع ضر إلا ما ثبت شرعاً أو حساً أنه كذلك، قال الشيخ صالح آل الشيخ: اعتقادات الناس في دفع العين لا حصر لها، والجامع لذلك أن كل شيء يفعله الناس بما يعتقدونه سببا وليس هو بسبب شرعي ولا قدري فإنه لا يجوز اتخاذه.

“Kami belum mendapatkan keterangan dari sisi syariat, akal maupun penelitian yang menjelaskan bahwa garam itu bisa mengusir pandangan mata jahat dan syaithan.

Para ulama telah menetapkan bahwa seorang muslim tidak boleh menjadikan sesuatu sebagai sebuah sebab untuk menghasilkan manfaat atau menolak madharat. Kecuali apa-apa yang telah ditetapkan oleh syariat ataupun riset kebenaran teori tersebut.

Syaikh Shalih Ali Syaikh menyatakan : “Keyakinan manusia di dalam mengantisipasi ‘Ain (pandangan mata jahat) tidak bisa dihitung, Patokan dalam masalah itu adalah bahwa semua hal yang dilakukan oleh manusia yang ia yakini sebagai sebuah sebab padahal ia bukan sebab baik secara syar’i maupun qadari maka tidak boleh dilakukan.”
(Fatawa Islamweb no. 178657).

Semoga bermanfaat,
Wallahu ta’ala a’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh :
Ustadz Abul Aswad Al Bayati حفظه الله
Kamis, 07 Jumadil Ula 1442 H/ 24 Desember 2020 M



Ustadz Abul Aswad Al-Bayati, BA.
Dewan konsultasi Bimbingan Islam (BIAS), alumni MEDIU, dai asal klaten
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Abul Aswad Al-Bayati حفظه الله  
klik disini

Apakah Memakai Niqob Atau Cadar Bisa Menggugurkan Dosa?

0

Apakah Memakai Niqob Atau Cadar Bisa Menggugurkan Dosa?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki adab dan akhlak yang luhur berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang apakah memakai niqab atau cadar bisa menggugurkan dosa?
Silahkan membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Allah Azza wa Jalla selalu menjaga Ustadz & keluarga.

Apakah dengan mengamalkan dengan memakai niqab atau cadar dapat menjadi salah satu penggugur dosa?

(Disampaikan oleh Fulanah, Member grup WA BiAS)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Para ulama kita berselisih pendapat tentang hukum menggunakan niqab/ cadar. Sebagian menyatakan wajib sebagian lagi menyatakan sunnah.

Akan tetapi para ulama bersepakat bahwa mengenakan Niqab adalah bagian dari amal shalih dan kebaikan. Dan kebaikan secara umum itu bisa menggugurkan dosa serta keburukan. Allah ta’ala menyatakan :

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّاكِرِينَ

“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah)”
(QS. Hud : 114).

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menyatakan :

فهذه الصلوات الخمس، وما ألحق بها من التطوعات من أكبر الحسنات، وهي: مع أنها حسنات تقرب إلى الله، وتوجب الثواب، فإنها تذهب السيئات وتمحوها، والمراد بذلك: الصغائر

“Shalat lima waktu yang lima ini serta semua hal yang dikategorikan ke dalamnya berupa amal-amal sunnah. Adalah termasuk kebaikan yang paling besar. Di samping kebaikan yang mendekatkan kepada Allah, menghasilkan pahala, ia juga menghilangkan keburukan dan menghapuskannya. Keburukan yang dihapuskan adalah dosa-dosa kecil.”
(Tafsir As-Sa’di : 1/391).

Dan masih ada sepuluh ayat lain yang semakna dengan ayat ini, semisal firman Allah ta’ala :

لِيُكَفِّرَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَسْوَأَ الَّذِي عَمِلُوا وَيَجْزِيَهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ الَّذِي كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Agar Allah akan menutupi (mengampuni) bagi mereka perbuatan yang paling buruk yang mereka kerjakan dan membalas mereka dengan upah yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”
(QS Az-Zumar : 35).

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

اتق الله حيثما كنت ، وأتبع السيئة الحسنة تمحها، وخالق الناس بخلق حسن

“Bertakwalah kepada Allah di manapun anda berada. Iringilah perbuatan dosa dengan amal kebaikan, karena kebaikan itu dapat menghapusnya. Serta bergaulah dengan orang lain dengan akhlak yang baik.”
(HR. Ahmad : 21354, Tirmidzi : 1987, ia berkata : ‘hadits ini hasan shahih).

Semoga bermanfaat,
Wallahu ta’ala a’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh :
Ustadz Abul Aswad Al Bayati حفظه الله
Jum’at, 03 Jumadil Ula 1442 H/ 18 Desember 2020 M



Ustadz Abul Aswad Al-Bayati, BA.
Dewan konsultasi Bimbingan Islam (BIAS), alumni MEDIU, dai asal klaten
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Abul Aswad Al-Bayati حفظه الله  
klik disini

Senang Tatkala Dipuji, Bolehkah?

0

Senang Tatkala Dipuji, Bolehkah?

Senang tatkala dipuji merupakan hal biasa bagi seorang manusia. Apakah hal tersebut terlarang?
Jawabannya bisa terlarang atau tidak, terkadang rasa seng tersebut bisa membawa kepada hal yang positif yang dicintai Allah, namun terkadang bisa menjerumuskan kepada kemurkaan Allah ﷻ.

Dalam sebuah hadits  diceritakan ada salah seorang sahabat rasulullah ﷺ bertanya kepada beliau:

أرَأيْتَ الرَّجُلَ يَعْمَلُ العَمَلَ مِنَ الخَيْرِ، ويَحْمَدُهُ النّاسُ عَلَيْهِ –ويحبه الناس-  ؟

“Bagaimana menurutmu jika seseorang melakukan sebuah kebaikan, sehingga membuat manusia memujinya, -dalam riwayat lain disebutkan- sehingga manusia pun mencintainya?”

Rasulullah ﷺ pun bersabda:

تِلْكَ عاجِلُ بُشْرى المُؤْمِنِ

“Itu adalah kabar gembira yang disegerakan untuk seorang mukmin”
(HR. Muslim : 2642 dan Ahmad : 1161).

Dalam hadits tersebut rasulullah ﷺ tidak mencela orang yang dipuji maupun manusia yang memuji karena amal sholeh yang dilakukan, malahan rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa hal tersebut tidak mengapa karena merupakan kabar gembira yang Allah ﷻ berikan kepada seorang mukmin yang melakukan kebaikan.

Syaikh As – Sa’dy rahimahullah berkata :

إذا عمل العبد عملًا من أعمال الخير وخصوصًا الآثار الصالحة والمشاريع الخيرية العامة النفع، وترتب على ذلك محبة الناس له، وثناؤهم عليه، ودعاؤهم له- كان هذا من البشرى أن هذا العمل من الأعمال المقبولة، التي جعل الله فيها خيرًا وبركة

“Apabila seorang hamba melakukan sebuah amalan kebaikan, terlebih pada amalan yang manfaatnya mencakup orang banyak, dan hal tersebut menimbulkan kecintaan dan pujian manusia lalu mereka pun mendoakannya, maka ini adalah kabar gembira bahwasanya amalan-amalan tersebut diterima oleh Allah, dan Allah menjadikan amal tersebut penuh kebaikan dan keberkahan.”
(Bahjah qulubil abrar : 214 – 215).

Sejatinya kecintaan manusia kepada seorang mukmin merupakan salah satu tanda bahwa amalannya diterima dan diridhoi Allah ﷻ, Rasulullah ﷺ bersabda:

إنَّ اللهَ إذا أحَبَّ عَبْدًا دَعا جِبْرِيلَ فَقالَ: إنِّي أُحِبُّ فُلانًا فَأحِبَّهُ، قالَ: فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ، ثُمَّ يُنادِي فِي السَّماءِ فَيَقُولُ: إنَّ اللهَ يُحِبُّ فُلانًا فَأحِبُّوهُ، فَيُحِبُّهُ أهْلُ السَّماءِ، قالَ ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ القَبُولُ فِي الأرْضِ

“Sesungguhnya Allah ﷻ jika mencintai seorang hamba, Dia akan memanggil Jibril sembari berfirman: Sesungguhnya Aku mencintai si fulan maka cintailah dia. Jibril pun mencintai orang tersebut. Kemudian Jibril menyeru penduduk langit: sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka kalian cintailah dia, sehingga para penduduk langitpun mencintainya. Setelah itu dia pun mendapatkan kedudukan di hati penduduk bumi”.
(HR. Muslim : 2637).

Tentu manusia atau penduduk bumi yang kita bahas disini adalah orang-orang sholih, karena orang yang ada penyakit di hatinya tidak akan menyukai kebaikan ataupun orang yang melakukan kebaikan.

Namun, apabila kesenangan tersebut menjadikannya ‘ujub, merendahkan orang lain serta melupakan bahwa kenikmatan yang ada pada dirinya merupakan pemberian Allah ﷻ, pada saat itulah senang pujian menjadi petaka yang akan menghancurkannya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

ثَلاثٌ مُهْلِكاتٌ: شُحٌّ مُطاعٌ، وهَوًى مُتَّبَعٌ، وإعْجابُ المَرْءِ بِنَفْسِهِ مِنَ الخُيَلاءِ

“3 perkara yang membinasakan : kekikiran yang dituruti, hawa nafsu yang diikuti, dan ‘ujubnya seseorang dengan dirinya karena kesombongan”.
(HR. At – Thabrani : 5452).

Inilah penyebab rasulullah ﷺ melarang dari berlebihan ketika memuji orang lain di hadapannya, karena hal tersebut bisa jadi menjadikannya lupa diri dan terjerumus ke dalam dosa. Dalam sebuah hadits rasulullah ﷺ bersabda  tatkala mendengar seseorang berlebihan dalam memuji:

أهْلَكْتُمْ، أوْ: قَطَعْتُمْ ظَهْرَ الرَّجُلِ

“Kalian telah membinasakan atau telah mematahkan punggung orang itu”.
(HR. Bukhari : 6060).

Dari keterangan di atas kita simpulkan bahwa senang terhadap pujian karena sebuah amalan, bisa menjadi kabar gembira bisa juga membawa petaka.
Jika rasa senang tersebut berlanjut kepada memuji Allah ﷻ yang telah menunjuki dan menguatkannya untuk beramal sholih, sehingga bertambah syukurnya yang tertuang dalam hati, lisan dan perbuatan maka ini tidak tercela.
Namun jika hal tersebut menjadikan dirinya gila pujian, ujub sehingga merendahkan orang lain, maka kecelakaanlah yang akan menimpa orang ini dunia dan akhirat.

Wallahu a’lam

Dijawab dengan ringkas oleh :
Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله
Jum’at, 03 Jumadil Ula 1442 H / 18 Desember 2020 M



Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى 
klik disini