Home Blog Page 2

Apa Boleh Bohong Agar Teman Tidak Menyontek? 

0

Apa Boleh Bohong Agar Teman Tidak Menyontek?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang apa boleh bohong agar teman tidak menyontek.
selamat membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla selalu menjaga ustadz dan keluarga.

Saya ingin bertanya apa hukumnya bila berbohong supaya teman tidak menyontek? Misal teman bertanya “coba lihat jawaban nomer 1?” Kemudian saya menjawab “saya juga belum mengerjakan(padahal sudah)”.

(Disampaikan oleh Fulanah, sahabat belajar grup WA Bimbingan Islam – BiAS)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Kedustaan itu adalah termasuk dosa yang jelek, dan aib yang buruk, dalam hadist Nabi bersabda:

إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُونَ صِدِّيقًا . وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

“Sesungguhnya ash-shidq (kejujuran) itu menunjukkan kepada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan itu menunjukkan ke surga, dan sesungguhnya seorang bermaksud untuk jujur sehingga dicatatlah di sisi Allah sebagai seorang yang jujur.
Dan sesungguhnya kedustaan itu menunjukkan kepada kejahatan dan sesungguhnya kejahatan itu menunjukkan kepada neraka. Sesungguhnya seorang itu bermaksud untuk berdusta sehingga dicatatlah di sisi Allah sebagai seorang yang suka berdusta.”

(Muttafaq ‘alaih)

Namun ada dalil yang lain memberikan pengecualian atas haramnya berdusta dalam beberapa keadaan dan kondisi, diantara dalil tersebut adalah:

عن أُمّ كُلْثُومٍ بِنْتَ عُقْبَةَ بْنِ أَبِي مُعَيْطٍ أَخْبَرَتْهُ أَنَّهَا سَمِعَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقُولُ لَيْسَ الْكَذَّابُ الَّذِي يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ وَيَقُولُ خَيْرًا وَيَنْمِي خَيْرًا – رواه مسلم

“Dari Ummu Kultsum bin ‘Uqbah bin Abu Mu’aith rodiyallahu anha bahwasanya ia mendengar Rasulullah SAW bersabda:
“Bukanlah termasuk pendusta: orang yang mendamaikan pihak-pihak yang sedang bertikai, orang yang berkata demi kebaikan, dan orang yang membangkitkan (mengingatkan) kebaikan.”

(HR. Muslim, Hadits No 4717)

Dari dua hadist di atas paling tidak para ulama menyimpulkan beberapa point berikut:
1. Kedustaan itu sejatinya tidak haram secara dzatnya (secara perbuatan dusta itu sendiri), namun dia menjadi haram karena dampak buruk yang ditimbulkannya.
2. Jika dengan berdusta bisa menangkal mafsadat yang lebih besar, atau menarik maslahat yang lebih besar, ketika itu dusta menjadi diperbolehkan.
3. Namun jika ada yang bisa mencukupkan diri dengan tidak berdusta, diganti dengan permainan kata-kata, atau ungkapan-ungkapan tersirat, tentu itu lebih baik.

Umar bin khattab rodiyallahu anhu pernah mengatakan:

إن في معاريض الكلام ما يغني الرجل عن الكذبر

“Sesungguhnya dengan ma’aridi al-kalam bisa mencukupkan seseorang dengan tidak berkata dusta”.
(H.R Baihaqy di al-Sunan al-Kubro 10/199)

Ma’aridi al-kalam: maksudnya adalah pembicara memberi ungkapan dengan maksud tertentu, namun pendengar menganggapnya sesuatu hal yang lain.

Contohnya: misal ada raja yang bengis punya kebiasaan merampas setiap perempuan cantik yang bersuami jika melewati kerajaannya.
Kemudian anda melewati kerajaan itu bersama istri anda, raja tidak tahu bahwa perempuan itu adalah istri anda, kalau dia tahu bahwa dia istri anda, pasti akan dirampas, kemudian raja bertanya: siapa dia?
Anda jawab: dia saudari saya.
Raja menganggap dia adalah saudari anda sedarah, padahal anda memaksudkan bahwa dia adalah saudari anda seagama.
Perkataan “saudari saya” inilah yang namanya ma’aridi al-kalam.

Berkata Abu Hamid al-Ghazali rohimahullah:

اعلم أن الكذب ليس حراماً لعينه ، بل لما فيه من الضرر على المخاطب أو على غيره ، فإن أقلَّ درجاته أن يعتقد المخبَر الشيء على خلاف ما هو عليه فيكون جاهلاً ، وقد يتعلق به ضرر غيره.
ورب جهل فيه منفعة ومصلحة ، فالكذب محصل لذلك الجهل ، فيكون مأذوناً فيه ، وربما كان واجبا.ً

“Ketahuilah bahwa kedustaan itu tidaklah haram secara dzat perbuatannya, namun dia haram karena mengandung mudhorrot yang menimpa pihak yang diajak bicara atau pihak yang lain, dan derajat minimal dusta adalah ketika orang yang diberi kabar meyakini/memahami sesuatu hal dengan pemahaman tertentu yang sejatinya berbeda dari realitanya, maka jadilah ia seorang yang jahil, dan bisa jadi kedustaan tersebut berkaitan dengan mudhorot untuk pihak lain.
Dan betapa banyak ketidaktahuan itu bisa membawa manfaat dan maslahat, kedustaanlah yang menghasilkan ketidaktahuan, akhirnya dalam hal ini dusta menjadi boleh, bahkan bisa jadi wajib dalam satu kondisi”.
(Ihya ulumi al-din 3/136)

Intinya, dusta itu tidak mutlak langsung haram, harus dilihat konsekuensi dan hasil yang ditimbulkan apa, jika dampaknya bisa menarik maslahat dan menangkal mudhorrot seperti adanya kecurangan dalam ujian, pencontekan, sebagaimana kondisi yang anda sampaikan, maka ketika itu boleh bagi anda berdusta, walaupun sejatinya jika masih ada opsi lain yang bisa anda lakukan dengan tidak berdusta tentu lebih baik, mengikuti wejangan yang diutarakan oleh Umar bin khattab di atas, misalnya dengan anda menggunakan permainan kata, atau lafadz-lafadz ambigu kepada teman anda ketika hendak mencontek, agar dia tidak jadi mencontek.

Demikian yang kami tahu, wallahu a’lam.

Dijawab oleh:
Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Senin, 13 Jumadil Ula 1442 H/ 28 Desember 2020 M



Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Beliau adalah Alumnus S1 Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta dan S2 Hukum Islam di Universitas Muhammadiyah Surakarta
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله 
klik disini

Apakah Dengan Menjalani Manhaj Salaf, Akan Menghapus Dosa Terdahulu?

0

Apakah Dengan Menjalani Manhaj Salaf, Akan Menghapus Dosa Terdahulu?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang Apakah dengan menjalani manhaj salaf akan menghapus dosa yang telah lalu.
selamat membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla selalu menjaga ustadz dan keluarga.

Saya mau bertanya ustadz. Apakah dengan menjalani manhaj salaf akan menghapus dosa yang telah lalu seperti muallaf?
Jazaakallaahu khairan wa baarakallaahu fiik..

(Disampaikan oleh Fulan, sahabat belajar grup WA Bimbingan Islam – BiAS)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Mengikuti manhaj salaf (metoda orang sholeh terdahulu) maksudnya adalah meniti jalan dan metode mereka dalam memahami agama dan menerapkannya dalam setiap aspeknya, berpegang teguh dengan cara mereka ketika berinteraksi dengan al-Quran maupun Hadist Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dan orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah memuji perbuatan mereka dalam al-Quran :

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”.
(QS Al-Taubah:100)

Syaikh abdurrahman ibnu nashir al-Sa’dy rohimahullah mengatakan:

وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ – بالاعتقادات والأقوال والأعمال، فهؤلاء، هم الذين سلموا من الذم، وحصل لهم نهاية المدح، وأفضل الكرامات من الله

“Dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik: maksudnya mengikuti sisi ideologi mereka (para sahabat), perkataan mereka dan perbuatannya, maka mereka itulah yang selamat dari celaan, mereka mendapatkan pujian dan sebaik-baik kemuliaan dari Allah ta’ala”.
(Taisiru al-karimi al-rahman hal:349)

Dari sedikit paparan di atas, kita menjadi tahu bahwa mengikuti manhaj salaf dalam memahami agama adalah perkara yang terpuji dan diridoi oleh Allah ta’ala, ketika dia adalah perkara yang Allah ridoi, maka ia adalah bagian dari ibadah dan amal solih, karena definisi ibadah itu kata Ibnu Taimiyyah rohimahullah adalah:

اسم جامع لكل ما يحبه الله ويرضاه من الأقوال والأعمال الباطنة والظاهرة

“Satu nama yang mencakup segala apa saja yang Allah cintai dan ridoi dari perkataan, perbuatan, amal baik yang batin/tersembunyi, maupun yang lahir/tampak”

Ketika mengikuti manhaj salaf adalah bagian dari amal solih dan ibadah, tentunya dengan mempraktekkannya bisa menghapuskan dosa-dosa kita dan kesalahan kita yang telah lalu, berikut beberapa dalil yang mengabarkan perihal penghapusan dosa karena melakukan amal solih, diantaranya firman Allah:

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّاكِرِينَ

“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah)”.
(QS. Hud : 114).

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rohimahullah menyatakan :

فهذه الصلوات الخمس، وما ألحق بها من التطوعات من أكبر الحسنات، وهي: مع أنها حسنات تقرب إلى الله، وتوجب الثواب، فإنها تذهب السيئات وتمحوها، والمراد بذلك: الصغائر

“Shalat lima waktu yang lima ini serta semua hal yang dikategorikan ke dalamnya berupa amal-amal sunnah. Adalah termasuk kebaikan yang paling besar. Di samping kebaikan yang mendekatkan kepada Allah, menghasilkan pahala, ia juga menghilangkan keburukan dan menghapuskannya. Keburukan yang dihapuskan adalah dosa-dosa kecil.”
(Taisiru al-karimi al-rahman hal:391).

Sabda nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam :

اتق الله حيثما كنت ، وأتبع السيئة الحسنة تمحها، وخالق الناس بخلق حسن

“Bertakwalah kepada Allah di manapun anda berada. Iringilah perbuatan dosa dengan amal kebaikan, karena kebaikan itu dapat menghapusnya. Serta bergaulah dengan orang lain dengan akhlak yang baik.”
(HR. Ahmad : 21354, Tirmidzi : 1987, ia berkata : ‘hadits ini hasan shahih).

Namun apakah mengikuti manhaj salaf tersebut kemudian bisa menghapuskan seluruh dosa sebagaimana seorang muallaf ketika baru masuk islam?

Jawabannya adalah tidak, yang dihapuskan adalah dosa-dosa kecil saja, sebagaimana disampaikan oleh syaikh al-Sa’dy dalam tafsir ayat 114 surat hud di atas.
Adapun dosa-dosa besar, dibutuhkan taubat secara khusus dan tersendiri, dikatakan dalam fatwa dari islamweb.com :

لكن الجمهور على أن هذا في الصغائر المتعلقة بحق الله تعالى، أما الكبائر فلا بد لها من توبة، كما أن الذنوب المتعلقة بحقوق العباد لا بد فيها من استحلال أصحابها، فالكبائر لا تكفرها الأعمال الصالحة، ولا بد لها من تخصيص التوبة بها

“Namun mayoritas ulama mengatakan bahwa penghapusan dosa karena amal solih ini hanyalah pada dosa-dosa kecil yang berkaitan dengan hak Allah ta’ala, adapun dosa besar mewajibkan harus adanya taubat agar terhapuskan, sebagaimana dosa-dosa lain yang ada kaitannya dengan hak hamba (sesama) dipersyaratkan harus dihalalkan pada yang bersangkutan, dosa besar tidak dihapuskan dengan amal soleh, dan harus ada pertaubatan secara khusus”.
Lihat: fatwa Islamweb

Demikian yang kami tahu, wallahu a’lam.

Dijawab oleh:
Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Senin, 13 Jumadil Ula 1442 H/ 28 Desember 2020 M



Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Beliau adalah Alumnus S1 Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta dan S2 Hukum Islam di Universitas Muhammadiyah Surakarta
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله 
klik disini

Memisahkan Diri dari Jamaah Ketika Imam Tidak Thuma’ninah

0

Memisahkan Diri dari Jamaah Ketika Imam Tidak Thuma’ninah

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang memisahkan diri dari jamaah ketika imam tidak thuma’ninah.
selamat membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla selalu menjaga ustadz dan keluarga. Saya mau bertanya ustadz.

Ijin bertanya ustadz, boleh tidak memisahkan diri dari sholat berjamaah dan memilih solat sendiri karena imamnya tidak tuma’ninah dan tergesa-gesa dalam sholatnya?
Mohon jawabannya, jazakallahu khoiron.

(Disampaikan oleh Fulan, sahabat belajar grup WA Bimbingan Islam – BiAS)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Tuma’ninah adalah salah satu rukun dalam solat, rukun artinya sesuatu yang wajib yang tidak boleh tertinggal baik lupa maupun sengaja, yang dengannya berpengaruh pada keabsahan solat.

Ini adalah pendapat mayoritas ulama, bahwa tuma’ninah adalah bagian dari rukun solat, dikatakan dalam kitab Al-Mausuah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah:

ذَهَبَ الشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ وَأَبُو يُوسُفَ مِنَ الْحَنَفِيَّةِ وَابْنُ الْحَاجِبِ مِنَ الْمَالِكِيَّةِ إِلَى أَنَّ الطُّمَأْنِينَةَ رُكْنٌ مِنْ أَرْكَانِ الصَّلاَةِ، لِحَدِيثِ الْمُسِيءِ صَلاَتَه

“Syafiiyah dan Hanabilah, juga Abu yusuf dari kalangan Hanafiah, serta Ibnu al-Hajib dari kalangan Malikiah bahwa tuma’ninah termasuk bagian dari rukun solat, pendapat ini berdasarkan pada hadist orang yang jelek solatnya”.
(Al-Mausuah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah juz:29, hal:89)

Tuma’ninah maknanya adalah: tenangnya anggota badan dari gerakan-gerakan walaupun hanya sejenak, dan menurut definisi ulama yang lain, tuma’ninah adalah jangka waktu yang mencukupi untuk membaca bacaan wajib pada suatu gerakan tertentu.

Jadi misalnya seseorang ketika merendahkan tubuhnya untuk rukuk, dan dia sempat untuk tenang walaupun sejenak, dan anggota tubuhnya tenang untuk tidak bergerak, dengan demikian ia telah mendapatkan tuma’ninah.

Jika sedikit memanjangkan ketenangan walau hanya sejenak, sampai ia mampu membaca “subhana robbiyal adzim” walau sekali, dia juga telah dikatakan mendapatkan tuma’ninah menurut definisi yang kedua yang mengatakan bahwa tuma’ninah itu adalah waktu yang cukup untuk membaca dzikir wajib dalam gerakan tersebut, karena ketika rukuk, bacaan yang wajib adalah “subhana robbiyal adzim” sekali, adapun sampai tiga kali itu hukumnya sunnah.

Jadi ketika anda sudah bisa mendapatkan itu bersama imam, sejatinya ini sudah dikatakan mendapatkan tuma’ninah, namun jika bacaan wajib tidak terbaca sempurna, juga tubuh belum tenang dalam posisi tertentu kemudian sudah berpindah pada posisi lain, yang demikian anda belum mendapat tuma’ninah bersama imam.

Jika anda mendapati kondisi demikian, boleh bagi anda untuk memisahkan diri dari jamaah dan solat sendiri, karena jika anda lanjut bersama imam, solat anda tidak sah karena tidak sempurnanya rukun solat, dikatakan dalam kitab Mausuatu al-Fiqh al-Islamy:

للمأموم أن ينفرد عن الإمام فيما يلي:
إذا أطال الإمام إطالة خارجة عن السنة، أو إذا أسرع الإمام في صلاته، انفصل عن الإمام وأتم صلاته

“Bagi makmum boleh untuk menyendiri berpisah dari imam dalam keadaan berikut:
Jika imam memperpanjang solat dengan kepanjangan yang keluar dari sunnah (berlebihan), atau jika imam melakukan solat sangat cepat, boleh ia memisahkan diri dari imam dan menyempurnakan sendiri solatnya”.
(Al-Mausuatu al-Fiqh al-Islamy juz:2, hal: 506)

Dan alangkah lebih baik, jika kondisi ini berkelanjutan, bagi anda untuk memberi masukan dan nasehat kepada imam tersebut, bahwa apa yang beliau lakukan menyelisihi aturan yang ada, dan bisa berkonsekuensi membatalkan solat yang dilakukan, semoga Allah memberi taufiq kepada semuanya.

Wallahu a’lam

Dijawab oleh:
Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Senin, 13 Jumadil Ula 1442 H/ 28 Desember 2020 M



Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Beliau adalah Alumnus S1 Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta dan S2 Hukum Islam di Universitas Muhammadiyah Surakarta
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله 
klik disini

Apa Boleh Merutinkan Sholat Taubat Setiap Hari?

0

Apa Boleh Merutinkan Sholat Taubat Setiap Hari?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang apakah boleh merutinkan sholat taubat setiap hari?
selamat membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla selalu menjaga ustadz dan keluarga. Saya mau bertanya ustadz.

Izin bertanya ustadz, apakah boleh merutinkan sholat taubat setiap hari, karna mengingat dosa-dosa yang dilakukan di waktu yang lalu?
Jazaakallahu khairan wa fiik barakalloh ustadz

(Disampaikan oleh Fulan, sahabat belajar grup WA Bimbingan Islam – BiAS)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Ada pertanyaan yang hampir serupa pernah diutarakan kepada mufti saudi arabia yang lalu, syaikh Abdul Aziz ibnu Baz rohimahullah, bunyinya demikian:

Penanya: wahai syaikh yang mulia, aku melakukan sholat taubat dua rakaat setiap malam sebelum tidur atas dosa yang aku lakukan, saya memohon ampun kepada Allah dan saya berdoa pada-Nya untuk mengampuni setiap kesalahanku, apakah perbuatan saya ini benar ataukah salah wahai syaikh?

الجواب: هذا طيب، هذا عمل طيب ومن أسباب التوبة. نعم، وسواء في آخر الليل أو في وسط الليل أو في الضحى أو في الظهر أو في أي وقت غير أوقات النهي، نعم
هي هذه، كما رواها علي بن أبي طالب أمير المؤمنين عن الصديق أبي بكر ، عن النبي ﷺ أنه قال: (ما من عبد يتطهر فيحسن الطهور ثم يصلي ركعتين ثم يتوب إلى الله من ذنب إلا غفر الله له)

Syaikh menjawab:
Ini bagus, perbuatan yang bagus, dan bisa menjadi sebab taubat, boleh dilakukan di akhir malam, atau pertengahannya, atau di kala dhuha, waktu dhuhur, atau di waktu kapan saja selain waktu-waktu terlarang untuk sholat.
Sholat ini seperti yang diriwayatkan oleh Ali bin abi thalib amirul mukminin dari Abu bakr al-Shiddiq, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam beliau bersabda:
“Tidaklah ada seorang hamba yang bersuci dengan memperbagus thaharahnya, kemudian ia melakukan solat dua rakaat, kemudian bertaubat kepada Allah atas dosa yang ia lakukan, melainkan Allah pasti akan mengampuninya”.

Demikian jawaban syaikh, bisa dilihat di link berikut: Fatwa Syaikh bin Baz

Jadi, selagi ada dosa yang dilakukan, maka itu menjadi faktor bolehnya seseorang melakukan solat taubat. Dan dalam fatwa di atas Syaikh Bin baz membolehkan dan membenarkan apa yang disampaikan oleh penanya, semoga Allah mengampuni dan menerima taubat kita semua, Wallahu a’lam.

Wallahu a’lam

Dijawab oleh:
Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Jum’at, 10 Jumadil Ula 1442 H/ 25 Desember 2020 M



Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Beliau adalah Alumnus S1 Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta dan S2 Hukum Islam di Universitas Muhammadiyah Surakarta
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله 
klik disini

Status Harta Warisan yang Bercampur Riba, Apakah Halal?

0

Status Harta Warisan yang Bercampur Riba, Apakah Halal?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang status harta warisan yang bercampur dengan riba, apakah halal?
selamat membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga ustadz selalu dalam lindungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Afwan menanyakan apabila ada seseorang meninggal dunia lalu meninggalkan harta baik dari:
1. Harta dari berhutang secara Riba;
2. Harta yang kecampur dengan harta dari berhutang riba.

Yang saya tanyakan;
1. Bagaimana harta warisan dari berhutang secara Riba tersebut buat ahli warisnya apakah halal atau tidak maksudnya boleh diambil atau tidak?
2. Harta yang tercampur dengan harta dari berhutang secara Riba apakah sama boleh diambil atau tidak?

Terimakasih Ustadz mohon pencerahannya.

(Disampaikan oleh Fulanah, Member grup WA BiAS)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Alhamdulillāh wa shalātu wa salāmu ‘alā rasūlillāh.

Apakah maksudnya orang yang meninggal ini berhutang secara riba ataukah memberi pinjaman riba?

Kalau dia sebagai pihak yang berhutang (debitur), maka tidak ada pengaruh kepada hartanya, karena dia adalah pemberi makan riba bukan pemakan riba. Dia memberikan harta untuk menjadi riba yang dimakan si pemberi hutang (kreditur). Maka harta yang ada padanya jika didapatkan dengan cara yang halal, maka halal untuk dimakan.

Adapun jika dimaksud penanya adalah dia ini sebagai pihak yang memberikan pinjaman (kreditur), sehingga dia mendapatkan harta riba dari orang lain, disinilah timbul masalah.
Apakah boleh harta riba tersebut diambil dan dimanfaatkan oleh ahli waris, baik harta tersebut tercampur atau tidak?

Para ulama berselisih pendapat dalam menanggapi masalah ini, namun yang dirajihkan oleh syaikh utsaimin adalah pendapat bahwa harta tersebut boleh dimanfaatkan oleh ahli waris, karena mereka mendapatkan harta tersebut lewat warisan yang dibolehkan, adapun dosanya hanya ditanggung oleh pelaku riba.

Syaikh Utsaimin berkata:

بحق ؛ إذ هو عنده مال وليس عندكم مال ، فأنتم تأخذونه بحق ، وإن كان عناؤه وغرمه وإثمه على أبيكم فلا يهمكم ، فها هو النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم قبل الهدية من اليهود ، وأكل طعام اليهود ، واشترى من اليهود ، مع أن اليهود معروفون بالربا وأكل السحت ، لكن الرسول عليه الصلاة والسلام يأكل بطريق مباح ، فإذا ملك بطريق مباح فلا بأس

“Aku katakan ambillah nafkah dari ayah kalian, nikmat bagi kalian dan siksa bagi ayah kalian (pelaku riba). Karena kalian mengambil harta dari ayah kalian dengan cara yang benar. Ayah kalian memiliki harta dan kalian tak punya harta. Dan kalian mengambilnya dengan cara yang benar.
Meski siksanya, tanggungannya dan dosanya menjadi tanggung jawab ayah kalian jangan kalian risaukan. Ini dia Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menerima hadiah dari Yahudi, memakan makanan Yahudi, beliau juga membeli dari Yahudi. Padahal Yahudi dikenal dengan praktek riba serta kecurangan.
Akan tetapi Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam memakannya dengan cara yang boleh. Apabila seseorang memiliki harta itu dengan cara yang boleh maka tidak mengapa.”
(Al-Liqa’ Asy-Syahri : 16/45).

Silahkan membaca :

Apakah Anak Berdosa, Jika Menerima Nafkah dari Harta Riba?

Wallahu a’lam

Dijawab oleh :
Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله
Kamis, 07 Jumadil Ula 1442 H / 24 Desember 2020 M



Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى 
klik disini

Solusi Dari Berbagai Macam Fitnah (Bagian Kedua)

0

Solusi Dari Berbagai Macam Fitnah (Bagian Kedua)

Hidup di dunia fana ini adalah ujian dan cobaan. Setiap likunya tidak mungkin bisa dipisahkan dalam hidup manusia. Setiap orang pasti mengalaminya. Fitnah berarti setiap ujian yang bisa mempengaruhi keutuhan iman seseorang.

Karena itulah, Nabi kita yang mulia, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kepada umatnya untuk rajin-rajin memohon perlindungan dari bahaya fitnah. Beliau bersabda kepada para sahabat,

تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ

Berlindunglah kepada Allah dari setiap fitnah, yang nampak maupun yang tidak nampak.
(HR. Muslim, no. 7392)

Di antara solusi jitu dari berbagai macam fitnah di dunia ini adalah bersabar. Bersabar dan kuatkanlah lagi kesabaran itu dalam menghadapi aneka ujian kehidupan.
Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.
(QS. Ali Imran: 200).

1. Bersabar dalam menahan lisan

Petaka lisan pada masa berkobarnya fitnah sangat buruk. Wajib hukumnya bagi setiap muslim memperhatikan apa yang dikatakan oleh lisannya, karena bisa jadi seseorang menganggap suatu perkataan hanyalah kata-kata yang ringan dan sepele namun ternyata hal itu merupakan sesuatu yang mendatangkan murka Allah Ta’ala dan bahkan sampai pada tingkat membahayakan kehidupan umat manusia di atas muka bumi ini.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يَا نَبِىَّ اللَّهِ وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ فَقَالَ ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِى النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ

“Wahai Rasulullah, apakah kita diazab karena apa yang kita ucapkan?” Muadz bin Jabal bertanya.
Maka Rasulullah bersabda, “Bagaimana engkau ini wahai Muadz, bukankah seorang tertelungkup dalam neraka di atas wajahnya tidak lain karena sebab lisannya?”

(HR. At-Tirmidzi, no. 2616)

Di zaman modern dan era digital ini, maka sebagian ahli ilmu memberikan 3 syarat minimal ketika seorang hendak bicara, membuat status atau berkomentar di dunia nyata maupun dunia maya;

Pertama:
Baiknya niat sebelum berbicara

Kedua:
Baiknya cara penyampaian semisal mengetahui hal-hal yang layak disampaikan di khalayak ramai dan hal yang hanya layak dibicarakan dalam forum khusus atau terbatas.

Ketiga:
Baiknya dampak dengan melihat maslahat dan mudharat dari apa yang keluar dari lisan. Kata-kata tersebut tidak berdampak kegaduhan, membuat keributan, permusuhan, dan sebagainya. (faedah dari ceramah Syaikh Prof. Dr. Sulaiman Ruhaily).

2. Bersabar dalam beribadah kepada Allah Ta’ala

Dalam sebuah hadits yang datang dari jalur sahabat Al-‘Irbadh bin Sariyah radhiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

إِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ ..

“Sesungguhnya orang yang hidup di antara kalian sepeninggalku, maka dia akan melihat perselisihan yang banyak. Wajib bagi kalian mengikuti sunnahku dan sunnah Al-Khulafa-ur-Rasyidîn yang telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah dia dengan gigi-gigi geraham kalian. Jauhilah oleh kalian hal-hal yang baru. Sesungguhnya hal-hal yang baru tersebut adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat.”
(HR. Abu Dawud no. 4607, At-Tirmidzi, no. 2676, Ibnu Majah, no. 42. Syaikh Al-Albani menilai derajat haditsnya ‘shahih’ dalam kitab Shahih Sunan Abi Daud, no. 3851).

Ibadah di zaman fitnah memiliki keutamaan yang banyak karena rata-rata manusia lalai dari urusan ibadah dan sibuk dengan urusan yang lain. Hanya sedikit saja yang benar-benar mengisi waktunya dengan ibadah. Oleh karena itu terdapat sebuah riwayat dari sahabat mulia Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

“Bersegeralah melakukan amalan shalih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari berubah dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari ia berubah dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia”
(HR. Muslim no. 118).

Menjalankan perintah Allah setelah mendengar nasehat merupakan jalan-jalan ketegaran iman. Allah Ta’ala berfirman :

وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًا

“Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka)”
(QS. An-Nisaa’: 66)

Sebaliknya meninggalkan amal setelah mengilmuinya dan setelah mendengar nasehat adalah sebab kehinaan dan kesesatan.

3. Bersabar dengan bersikap tenang dan tidak tergesa-gesa dalam setiap urusan

Orang yang tergesa-gesa, tidak bersikap tenang dan tidak berpikir matang dalam menangani urusan, maka dia akan membuka untuk dirinya dan orang lain suatu pintu keburukan dan mala petaka. Dia telah berbuat dosa dan akan mengakibatkan bahaya besar bagi masyarakat luas.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berpesan dalam sabdanya yang mulia;

إِنَّ مِنْ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ ، وَإِنَّ مِنْ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلشَّرِّ مَغَالِيقَ لِلْخَيْرِ ، فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ ، وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الشَّرِّ عَلَى يَدَيْه

“Sesungguhnya di antara manusia ada kunci-kunci (pembuka pintu) kebaikan dan gembok-gembok (penutup pintu) keburukan. Dan di antara manusia ada kunci-kunci (pembuka pintu) keburukan dan gembok-gembok (penutup pintu) kebaikan. Beruntunglah orang yang Allah jadikan kunci-kunci kebaikan tersebut di kedua tangannya. Dan celakalah orang yang Allah jadikan kunci-kunci keburukan di kedua tangannya.”
(HR. Ibnu Majah, no. 237. Syaikh Al-Albani menilai derajat haditsnya ‘hasan’ dalan kitab Shahih Sunan Ibnu Majah, no 193).

Tidaklah akan terkumpulkan antara ketergesaan dan kesabaran, karena kesabaran mewujudkan tujuan, sementara ketergesaan (sikap terburu-buru) mewujudkan kegagalan dan keterbalikan. Allah Yang Maha Bijaksana berfirman:

فاصبر كما صبر أولوا العزم من الرسل ولا تستعجل لهم

“Bersabarlah (wahai Nabi) sebagaimana kesabaran para rasul ulul azmi dan janganlah engkau tergesa-gesa/terburu-buru bagi mereka (kaum mu)”
(QS Al-Ahqof: 35).

Sampai sahabat mulia Abdullah Bin Mas’ud berkata:

إِنَّهَا سَتَكُوْنُ أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَات فَعَلَيْكُمْ بِالتُّؤَدَةِ ، فَإنَّكَ أَنْ تَكُوْنَ تَابِعًا فِي الْخَيْرِ، خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَكُوْنَ رَأْسًا فِي الشَّرِّ

“Sesungguhnya akan ada hal-hal syubhat (samar). Wajib bagi kalian untuk berlahan-lahan. Sungguh, apabila engkau menjadi pengikut suatu kebaikan, itu lebih baik daripada engkau menjadi pemimpin suatu keburukan.”
(lihat makalah Dhawabit litajannubil fitan oleh Syaikh Prof. Dr. Abdurrazaq dalam situs www.al-badr.net).

4. Bersabar tidak berselisih dan selalu mengusahakan berjama’ah dengan kaum muslimin

Di antara pelajaran penting dari poin ini adalah menyerahkan urusan kepada ahlinya. Urusan ilmu serahkan kepada para ulama, urusan pemerintahan serahkan kepada pemerintah, jangan ikut campur dalam masalah yang bukan menjadi hakmu, jauhi perselisihan dan selalu menasehati untuk bersatu di atas agama Allah Ta’ala, niscaya akibatnya akan jauh lebih baik.

Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا

“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalaulah mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil-amri (orang yang memegang urusan) di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil-amri). Kalaulah bukan karena karunia dan rahmat Allah kepada kalian, tentulah kalian mengikut setan, kecuali sebagian kecil saja (di antara kalian).”
(QS. An-Nisa’: 83).

Perpecahan adalah suatu keburukan, sedangkan persatuan adalah rahmat. Dengan berjamaah, maka akan menghasilkan kesatuan, kekuatan ikatan dan ketinggian wibawa kaum muslimin.

Dari sahabat mulia An-Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhuma, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ ، وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ

“Jamaah adalah rahmat (kasih sayang), sedangkan perpecahan adalah azab.”
(HR. Ahmad, 4/278). Syaikh Al-Albani menilai derajat haditsnya ‘hasan’ dalam kitab Shahihul Al-Jami,’ no. 3109).

Hadits lain juga berasal dari sahabat mulia ‘Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, bahwasanya
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

لَا تَخْتَلِفُوا فَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ اخْتَلَفُوا فَهَلَكُوا

“Janganlah kalian berselisih pendapat. Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah berselisih pendapat, sehingga mereka pun binasa.”
(HR. Al-Bukhari, no. 2410).

Wallahu Ta’ala A’lam.

Referensi Tambahan: ‘Dhawabithu Litajannubil-Fitan’ Oleh Prof. Abdurrazzaq Al Badr

Disusun oleh:
Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Selasa, 23 Rabiul Akhir 1442 H / 08 Desember 2020 M



Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik disini

Solusi Dari Berbagai Macam Fitnah (Bagian Pertama)

0

Solusi Dari Berbagai Macam Fitnah (Bagian Pertama)

Jika ada orang yang tidak mengetahui fitnah dan dampak buruknya, maka sangat mungkin jatuh ke dalam suatu fitnah dan bahkan bergelimang dengannya. Hal ini sangat membahayakan hidupnya, namun ia tidak menyadarinya. Jika terus demikian maka dia akan menyesal. Tapi apalah daya, sesal kemudian tiada guna. Oleh karena itu, sebagai muslim yang baik, dia akan berusaha untuk mencari jalan keluar dari berbagai macam fitnah tersebut.

Sahabat mulia Al-Miqdad bin Al-Aswad radhiallahu ‘anhu meriwayatkan hadits dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda:

إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنَ

“Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah.”
(HR. Abu Daud, no. 4263. Ahli Hadits Syaikh Albani rahimahullah menilai derajat hadits ini ‘shahih’ dalam kitabnya Shahih Sunan Abi Daud).

1. Definisi Fitnah

Ulama ahli bahasa, Ibnu Faris rahimahullah pernah berkata,

الفاء والتاء والنون أصل صحيح يدل على الابتلاء والاختبار

“Huruf Fa`, Ta`, dan Nun adalah huruf dasar yang shahih menunjukkan kepada cobaan dan ujian”
(Maqayisul Lughah, 4/472).

Ahli bahasa lainnya, semisal Al-Azhari rahimahullah juga mengatakan, “Inti makna fitnah di dalam bahasa Arab terkumpul pada makna Cobaan dan ujian

الابتلاء، والامتحان

(lihat Tahdziibul Lughah, 14/296).

Adapun makna secara umumnya bermakna ujian atau musibah yang bisa merusak agama bahkan dunia seseorang.

Dan yang perlu kita ketahui, ada berbagai macam variasi dari makna fitnah.

قال ابن القيم رحمه الله : ” وأما الفتنة التي يضيفها الله سبحانه إلى نفسه أو يضيفها رسوله إليه كقوله: ( وكذلك فتنا بعضهم ببعض ) وقول موسى : ( إن هي إلا فتنتك تضل بها من تشاء وتهدي من تشاء ) فتلك بمعنى آخر وهي بمعنى الامتحان والاختبار والابتلاء من الله لعباده بالخير والشر بالنعم والمصائب فهذه لون وفتنة المشركين لون ، وفتنة المؤمن في ماله وولده وجاره لون آخر ، والفتنة التي يوقعها بين أهل الإسلام كالفتنة التي أوقعها بين أصحاب علي ومعاوية وبين أهل الجمل ، وبين المسلمين حتى يتقاتلوا و يتهاجروا لون آخر . زاد المعاد ج: 3 ص: 170

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata, “Dan adapun kata fitnah yang Allah Subhanahu wa ta’ala sandarkan kepada diri-Nya atau Rasul-Nya sandarkan kepada-Nya, seperti firman Allah

وَكَذَٰلِكَ فَتَنَّا بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ

“Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka dengan sebahagian mereka yang lain”
(QS. Al-An’aam: 53).

Dan perkataan Nabi Musa ‘alaihis salam,

إِنْ هِيَ إِلَّا فِتْنَتُكَ تُضِلُّ بِهَا مَنْ تَشَاءُ وَتَهْدِي مَنْ تَشَاءُ

“Itu hanyalah cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki”
(QS. Al-A’raaf: 155).

Maka (fitnah dalam konteks tersebut) berfaedah (bermakna) lain, yaitu bermakna ujian dan cobaan dari Allah bagi hamba-hamba-Nya, baik berupa kebaikan maupun keburukan, dengan diberi kenikmatan ataupun ditimpa musibah, maka ini memiliki makna tersendiri.
Fitnah kaum musyrikin juga memiliki makna tersendiri, fitnah seorang mukmin pada hartanya, anaknya, dan tetangganya pun memiliki makna tersendiri. Fitnah yang Allah takdirkan terjadi diantara kaum muslimin, sepertti fitnah yang Dia takdirkan terjadi diantara pengikut Ali dan Mu’awiyah dengan Ahlul (pasukan perang) Jamal dan (fitnah yang terjadi) di antara kaum muslimin hingga saling memerangi dan saling memboikot, ini juga memiliki makna tersendiri
(lihat Zaadul Ma’aad, 3/170).

Kata ‘Fitnah’ Menurut KBBI

Berbeda dengan bahasa Indonesia, kata fitnah lebih sempit maknanya, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), fitnah adalah perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang (seperti menodai nama baik, merugikan kehormatan orang), sikap ini adalah perbuatan yang tidak terpuji.
(lihat https://kbbi.web.id/fitnah).

Salah Paham Yang Harus Diluruskan

Di negeri kita, banyak yang salah paham, jika ada orang berkata seperti:

“Jangan asal fitnah ya, Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan”

Jika maksudnya potongan ayat Al-Quran, maka TIDAK tepat, ayatnya adalah:

ﻭَﺍﻟْﻔِﺘْﻨَﺔُ ﺃَﺷَﺪُّ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻘَﺘْﻞِ ‏

“… dan fitnah (kesyirikan) itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan “.
(QS. Al-Baqarah: 191)

Karena fitnah yang dimaksud dalam ayat di atas adalah kesyirikan, sebagaimana penjelasan para ulama pakar tafsir.

Imam At-Thabari rahimahullah juga membawakan perkataan Abu Ja’far, bahwa makna Fitnah dalam ayat tersebut adalah kesyirikan.

ﻭﺍﻟﺸﺮﻙ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﺃﺷﺪُّ ﻣﻦ ﺍﻟﻘﺘﻞ

”Syirik (menyekutukan) Allah lebih bahaya daripada pembunuhan” (lihat Tafsir At-Thabari tentang ayat ini). Hal yang sama juga ditafsirkan oleh ayat yang lain;

Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman:

ﻭَﻗَﺎﺗِﻠُﻮﻫُﻢْ ﺣَﺘَّﻰ ﻟَﺎ ﺗَﻜُﻮﻥَ ﻓِﺘْﻨَﺔٌ ﻭَﻳَﻜُﻮﻥَ ﺍﻟﺪِّﻳﻦُ ﻟِﻠَّﻪِ ﻓَﺈِﻥِ ﺍﻧْﺘَﻬَﻮْﺍ ﻓَﻠَﺎ ﻋُﺪْﻭَﺍﻥَ ﺇِﻟَّﺎ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻈَّﺎﻟِﻤِﻴﻦَ ‏

“Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah
(Syirik) lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.”
(Q.S. Al- Baqarah: 193).

2. Jenis Fitnah Beserta Solusinya

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah pernah berkata,

وأصل كل فتنة إنما هو من تقديم الرأي على الشرع، والهوى على العقل

“Sumber segala fitnah (keburukan) adalah
a. mendahulukan akal pikiran daripada syariat,
b. mendahulukan hawa nafsu daripada akal sehat.

فالأول : أصل فتنة الشبهة، والثاني: أصل فتنة الشهوة

Adapun yang pertama adalah sumber fitnah syubhat (kerancuan berpikir dalam agama) dan yang kedua adalah sumber fitnah syahwat.

ففتنة الشبهات تدفع باليقين، وفتنة الشهوات تدفع بالصبر، ولذلك جعل سبحانه إمامة الدين منوطة بهذين الأمرين،

Fitnah syubhat bisa ditepis dengan keyakinan (ilmu), sedangkan fitnah syahwat bisa ditepis dengan kesabaran. Oleh karena itu, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikan kepemimpinan dalam agama ini di atas dua hal ini.

Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman,

وجعلنا منهم أئمة يهدون بأمرنا لما صبروا وكانوا بآياتنا يوقنون

‘Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, ketika mereka sabar dan yakin dengan ayat-ayat Kami.’

فدل علي أنه بالصبر واليقين تنال الإمامة في الدين.

Ini menunjukkan bahwa dengan kesabaran dan keyakinan, akan diperoleh kepemimpinan dalam agama ini.”
(lihat Ighatsatu al-Lahafan, 1/167)

3. Membendung Dan Menghindar Dari Berbagai Macam Fitnah

– Dengan Keyakinan

Keyakinan itu dari ilmu, dan ilmu itu diambil dan bersumberkan dari wahyu Al-Qur’an dan As-Sunnah serta berpegang teguh dengan keduanya.

Sesungguhnya berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah jalan menuju kemuliaan, keselamatan dan keberuntungan hidup di dunia dan akhirat.

Imam Malik rahimahullah (Imam Daril-Hijrah di kota Madinah Nabawiyah) pernah berkata:

اَلسُّنَّةُ سَفِيْنَةُ نُوْحٍ, فَمَنْ رَكِبَهَا نَجَا وَمَنْ تَرَكَهَا هَلَكَ وَغَرِقَ

“As-Sunnah adalah perahu (Nabi) Nuh. Barang siapa yang menaikinya maka akan selamat. Barang siapa yang meninggalkannya, maka dia akan binasa dan tenggelam.”
(lihat Dzammu al-Kalam, oleh al-Harawy, 4/124).

Dan perlu kita ketahui bahwa ilmu itu diambil dari ahlinya, yaitu mengambil ilmu dari para ulama yang mendalam ilmunya dan para imam peneliti (pakar) serta tidak mengambil ilmu dari orang-orang muda yang baru belajar ilmu dan hanya sebentar mencarinya.

Dari sahabat mulia Abdullah Bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الْبَرَكَةُ مَعَ أَكَابِرِكُمْ

“Keberkahan ada bersama orang-orang tua di antara kalian.”
(HR. Ibnu Hibban no. 559. Ahli hadits Syaikh Al-Albani menghukumi derajat hadits ini ‘shahih’ dalam kitabnya Ash-Shahihah, no. 1778).

Keberkahan ada bersama pada orang-orang tua di antara kalian yang “kaki-kaki” mereka telah “tertancap” pada ilmu, yang masa belajarnya sangat lama untuk mendapatkannya, sehingga mereka memiliki kedudukan tinggi di antara umat, atas apa-apa yang Allah Ta’ala berikan kepada mereka berupa ilmu, hikmah, ketegaran, ketenangan dan kejelian dalam melihat akibat-akibat yang akan terjadi. Dan dari merekalah kita diperintahkan untuk mengambil ilmu.

Keyakinan ini juga disertai dengan doa penuh harap kepada Allah Yang Maha Kuasa, ditanganNya lah segala urusan para hamba. Doa yang dibarengi dengan rasa yakin adalah kunci dari setiap kebaikan di dunia dan akhirat. Terlebih lagi, permohonan kepada Allah ‘Azza Wa Jalla agar kaum muslimin dijauhkan dari fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Berlindung kepada-Nya subhanahu wa ta’ala dari fitnah-fitnah yang menyesatkan.

Sesungguhnya, siapa saja yang meminta perlindungan kepada Allah Yang Maha Melindungi, maka Allah akan melindunginya. Siapa yang memohon kepada-Nya, maka Allah akan mengabulkannya. Sesungguhnya Allah Yang Maha Adil Dan Bijaksana tidak akan mengecewakan seorang hamba yang berdoa kepada-Nya dan tidak akan menolak seorang hamba yang memanggil-Nya. Dia Yang Maha Pemurah adalah yang berkata:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Oleh karena itu, hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”
(QS. Al-Baqarah: 186).

Pada akhirnya, kita akan selalu butuh dan berdoa kepada Allah Yang Maha Kuasa,

رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

“Ya Tuhan kami, janganlah engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi kaum yang zalim.”
(QS. Yunus: 85).

رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami, ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkau Mahaperkasa lagi Maha Bijaksana.”
(QS. Al Mumtahanah: 5)

Wallahu Ta’ala A’lam.

Referensi Tambahan: ‘Dhawabithu Litajannubil-Fitan’ Oleh Prof. Abdurrazzaq Al Badr

Disusun oleh:
Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Selasa, 23 Rabiul Akhir 1442 H / 08 Desember 2020 M



Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik disini