Keluarga

Orang Tua Sering Bertengkar, Bagaimana Sikap Anak Dan Solusinya?

Orang Tua Sering Bertengkar, Bagaimana Sikap Anak Dan Solusinya?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan orang tua sering bertengkar, bagaimana sikap anak dan solusinya? Selamat membaca.


Pertanyaan:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ustadz, bagaimana menyikapi orang tua yang setiap hari terus bertengkar karena qadarullah ana memang lahir di keluarga broken home. Alhamdulillah ‘ala kulli haal, nyaris setiap hari keadaan rumah selalu penuh oleh pertengkaran/perdebatan orang tua.

Dan terkadang, ana dimintai bersikap kasar/keras pada ayah oleh ibu ana. Kiranya apa yang harus ana lakukan, Ustadz?

Mohon pencerahannya. Terkadang, di sisi lain ibu ana juga sering marah-marah pada anak-anaknya tetapi bersikap baik pada suaminya (ayah ana). Ana bingung, Ustadz. Setiap hari mental selalu tertekan karena masalah ini.

Mohon doanya juga Ustadz, semoga Allah memberkahi keluarga ana, memberikan hidayah pada orang tua ana dan memberi kedamaian serta kebahagiaan pada kehidupan kami baik di dunia maupun di akhirat kelak. Aamiin Yaa Mujiibas Saa’iliin.

Syukran sebelumnya. Jazaakumullahu khayran katsiran.

(Ditanyakan oleh Santri Akademi Shalihah)


Jawaban:

Wa alaikumussalaam warahmatullah wabarakatuhu..

Ada asap pasti ada api, ketika ada semut pasti ada yang menariknya, gula atau lainnya. Maksudnya adalah tidaklah ada permasalahan melainkan ada akar dan pemicu permasalahan tersebut, ini yang harus dicari.

Setelah ketemu permasalahannya, maka Anda pelajari, Anda tanyakan kepada orang yang berilmu dan berpengalaman bagaimana memecahkan masalah tersebut. Jika Anda sudah memiliki ilmunya, maka Anda pecahkan masalah yang ada di tengah keluarga Anda.

Terjadinya pertengkaran di rumah tangga juga salah satu sebabnya adalah kejahilan/ketidaktahuan akan hak dan kewajiban suami istri, kenapa ayah dan ibu sering bertengkar, pasti salah satunya adalah karena minimnya mereka akan adab dan norma berumah tangga menurut perspektif agama maupun urf yang ada.

Jika mereka paham, tentu akan ada sikap saling menghormati dan menghargai. Jika memang pengetahuan itu minim, maka Anda upayakan untuk mengajari, memberi masukan dan arahan terkait hak dan kewajiban suami istri, bisa lewat Anda secara langsung, atau kalau tidak mampu dengan mengajak supaya ikut pengajian yang menyampaikan terkait hak dan kewajiban suami istri.

Jika Anda diminta ibu untuk keras, bersikap buruk kepada ayah, maka jangan langsung ditaati, jika perintah itu tanpa alasan, dan dekat kepada kemaksiatan, maka tidak boleh untuk ditaati, Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

« لاَ طَاعَةَ فِى مَعْصِيَةِ اللَّهِ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوفِ ».

Artinya: “tidak ada ketaatan di dalam kemaksiatan kepada allah sesungguhnya ketaatan hanya di dalam hal yang ma’ruf.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dan perlu juga diketahui, selain faktor internal yang menyebabkan adanya percekcokan adalah terkadang adanya faktor eksternal yang menyulut pertengkaran, yakni tipu daya, gangguan dan bisikan setan.

Karena termasuk prestasi setan adalah ketika mereka bisa menjadikan keluarga seorang muslim tidak harmonis dan berujung kepada perceraian, dari Jabir radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ إِبْلِيْسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا فَيَقُوْلُ مَا صَنَعْتَ شَيْئًا قَالَ ثُمَّ يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ قَالَ فَيُدْنِيْهِ مِنْهُ وَيَقُوْلُ نِعْمَ أَنْتَ

Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air (laut) kemudian ia mengutus bala tentaranya. Maka yang paling dekat dengannya adalah yang paling besar fitnahnya. Datanglah salah seorang dari bala tentaranya dan berkata, “Aku telah melakukan begini dan begitu”. Iblis berkata, “Engkau sama sekali tidak melakukan sesuatu pun”. Kemudian datang yang lain lagi dan berkata, “Aku tidak meninggalkannya (untuk digoda) hingga aku berhasil memisahkan antara dia dan istrinya. Maka Iblis pun mendekatinya dan berkata, “Sungguh hebat (setan) seperti engkau.”

(HR Muslim IV/2167 no 2813)

Jadi, untuk mengantisipasi dan menangkal, atau menghilangkan gangguan makhluk halus seperti ini, maka rutinkanlah bacaan zikir pagi dan petang, jangan kosongkan rumah dari ibadah (shalat sunnah, baca al-Quran), karena syetan akan pergi dari rumah yang dibacakan surat al-Baqarah, Rasul sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنْ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ

Jangan jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan. Sesungguhnya setan itu akan lari dari rumah yang dibacakan surat Al-Baqarah di dalamnya.” (HR. Muslim no. 780)

Dalam hadis lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan,

إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ سَنَامًا وَسَنَامُ الْقُرْآنِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ، وَإِنَّ الشَّيْطَانَ إِذَا سَمِعَ سُورَةَ الْبَقَرَةِ تُقْرَأُ خَرَجَ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي يُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ

Sesungguhnya segala sesuatu punya puncak, dan puncak Al-Qur’an adalah surah Al-Baqarah, dan sesungguhnya setan jika mendengar surah Al-Baqarah dibaca maka ia akan keluar dari rumah yang dibaca di dalamnya surah Al Baqarah.”

(HR. Hakim, dinilai Hasan oleh Syaikh Albani).

Poin terakhir supaya Allah memberikan keharmonisan kepada keluarga Anda adalah dengan berdoa, meminta kepada Allah untuk memberikan kelembutan dan kesabaran kepada orang tua Anda dan seluruh personel keluarga Anda, Allah maha mampu mengubah itu, dan Allah maha bisa menjadikan keluarga Anda bahagia.

Demikian saran dan masukan yang bisa kami sampaikan, semoga Allah memberikan taufiq pada semuanya.

Wallahu a’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Kamis, 25 Dzulqo’dah 1443 H/ 24 Juni 2022 M


Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Beliau adalah Alumnus S1 Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta dan S2 Hukum Islam di Universitas Muhammadiyah Surakarta
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله klik di sini

Baca Juga:  Tentang Hak Asuh Anak Setelah Perceraian

Ustadz Setiawan Tugiyono, B.A., M.HI

Beliau adalah Alumni D2 Mahad Aly bin Abi Thalib Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Bahasa Arab 2010 - 2012 , S1 LIPIA Jakarta Syariah 2012 - 2017, S2 Universitas Muhammadiyah Surakarta Hukum Islam 2018 - 2020 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah, Dauroh Masyayikh Ummul Quro Mekkah di PP Riyadush-shalihin Banten, Daurah Syaikh Ali Hasan Al-Halaby, Syaikh Musa Alu Nasr, Syaikh Ziyad, Dauroh-dauroh lain dengan beberapa masyayikh yaman dll | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Belajar bersama dengan kawan-kawan di kampuz jalanan Bantul

Related Articles

Back to top button