Opening Mahad BIAS
Adab & AkhlakKeluargaNikah

Orang Tua Memaksa Anak Tinggal Satu Atap

Orang Tua Memaksa Anak Tinggal Satu Atap

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan pembahasan tentang orang tua memaksa anak tinggal satu atap. Selamat membaca.


Pertanyaan:

Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh pak ustadz. Mohon maaf ganggu waktu-Nya tadz. Izin bertanya tadz. Saya seorang pria tadz dan saya ingin menikah dengan seorang akhwat tapi saya memiliki kedua orang tua maaf kurang baik dalam watak dan masih kurang dalam ilmu agama.

Saya memiliki ibu yang di mana ibu saya sangat enteng sekali dalam melontarkan perkataan yang kotor ketika marah dan ibuk saya mendesak saya untuk mencari seorang istri pekerja yang di mana dalam agama sebaik-baik wanita ialah yang berdiam diri di rumah.

Saya juga memiliki ayah yang di mana sifat ayah saya maaf suka ngomongin orang dan juga keras dengan pendiriannya dan gak bisa diajak bekerja sama. Ayah saya ini pak ustadz mendesak saya untuk tinggal satu atap dengan mereka. Saya bingung pak ustadz semalam sudah saya ajak berdiskusi dengan sebaik-baik diskusi bahwasanya lebih baik pisah rumah dikarenakan takut terjadinya gesekan antara rumah tangga tapi pendapat saya itu ditolak mentah-mentah bahkan telah saya kasih dalil pun juga ditolak padahal saya sudah menyampaikan dengan penyampaian yang lagi sopan.

Baca Juga:  5 Solusi Agar Suami Rajin Sholat 5 Waktu Di Masjid

Saya bingung pak ustadz bagaimana cara kasih mengerti kepada saya dan juga mereka agar tidak satu atap tapi mereka selalu menganggap anak sebagai anak kecil yang tidak bisa apa-apa padahal maaf kedewasaan seseorang itu dinilai dari pengendalian emosi bukan dari umur dan mereka selalu saja tidak mengerti padahal udah lama sekali saya jelasin hal itu. Kira-kira apa solusi terbaik buat kami pak ustadz.

Maksud tidak mengerti di atas yakni tinggal satu atap.

(Ditanyakan oleh Sahabat BIAS via Instagram Bimbingan Islam)


Jawaban:

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Berbakti pada orang tua atau birrul walidain merupakan kewajiban utama dalam ranah hablu minannaas (hubungan sesama Manusia).

Allah ‘Azza wa Jalla tegaskan hal itu setahap setelah kewajiban utama dalam ranah hablum minallah, dalam firman-Nya Yang Mulia;

وَٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُواْ بِهِۦ شَيۡ‍ٔٗاۖ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنٗا وَبِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah pada kedua orang tua, karib-kerabat…” (QS. An-Nisaa: 36)

Dengan tingkat kewajiban seperti itu, tentu saja bukan hal yang layak diremehkan, apalagi jika orang tua sudah berusia senja dan boleh jadi, Anda adalah anak lelaki satu-satunya atau anak yang dijadikan sandaran di hari tuanya.

Kompromi Tinggal Serumah Dengan Orang Tua

Coba dulu tinggal dengan orang tua, berbuat baiklah pada keduanya. Pahamkan istri tentang masalah Anda. Jika orang tua punya sikap dan karakter yang tidak baik, maka tetap ingatkan mereka dengan cara terbaik, tanpa bosan menunjukkan mereka pada hidayah. Ajak mereka ngaji bareng.

Jika ada kasus, misalkan ibu marah besar di rumah, maka bersabarlah sebagai anak dan menantu. Jangan balas emosi dengan emosi, jangan sumpahi dia, jangan mengutuk dia, jangan mendoakan dia dengan keburukan, karena ini semua adalah dosa besar yang sangat berbahaya.

Belajarlah dari akhlak orang Arab, ketika mereka marah pun, mereka berdoa dengan kebaikan.

Saat mereka marah, mereka mengatakan: Allah yahdik ! (Semoga Allah menunjukimu) …

Ketika ibu marah, maka sebagai anak, doakan dia dengan kebaikan : “semoga aku menjadi anak shalih, dan semoga ibu memaafkanku! dan seterusnya …” Mengalah untuk kebaikan yang agung.

Jika sudah berusaha berdamai dengan orang tua sebaik mungkin. Sudah menasihati, mengingatkan, dan lain-lain … dengan cara yang patut sebagai anak.

Namun orang tua masih dengan karakternya yang tidak baik, maka anda bisa memberikan masukan untuk pisah rumah pada keduanya, tapi sang anak dan menantu tetap tinggal di dekat rumah keduanya dengan muamalah yang baik.

Karena Hidayah di tangan Allah Ta’ala, dan manusia hanya bisa menyampaikan saja;

وما علينا إلا البلاغ

Kewajiban kita hanya menyampaikan saja…

Ingatlah, selalu doakan orang tua dengan hidayah dan kebaikan. Cari waktu-waktu mustajabah agar Allah Ta’ala membuka hati keduanya. Karena doa anak shaleh selalu diharapkan orang tuanya. Allah juga lah yang menggenggam hati anak Adam, dan Dia pula yang membolak-baliknya. Maka, mintalah kepada Allah Yang Maha Pemurah agar Allah Ta’ala memberikan hidayah kepada kedua orang tua.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Fadly Gugul S.Ag.
حفظه الله
Jumat, 25 Jumadil Akhir 1443 H/ 28 Januari 2022 M


Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik disini

Ustadz Fadly Gugul, S.Ag

Beliau adalah Alumni S1 STDI Imam Syafi’I Jember Ilmu Hadits 2012 – 2016 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Takhosus Ilmi di PP Al-Furqon Gresik Jawa Timur | Beliau juga pernah mengikuti Pengabdian santri selama satu tahun di kantor utama ICBB Yogyakarta (sebagai guru praktek tingkat SMP & SMA) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Dakwah masyarakat (kajian kitab), Kajian tematik offline & Khotib Jum’at

Related Articles

Back to top button