Nazar Yang Diperbolehkan Dalam Syariat Islam

Nazar Yang Diperbolehkan Dalam Syariat Islam

Nazar Yang Diperbolehkan Dalam Syariat Islam

Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ahsanallāhu ilaikum ustadz.
Saya izin menyampaikan pertanyaan teman.

Tentang tata cara nadzar yang diperbolehkan sesuai syariah Islam, apakah cukup dengan niat (dalam bahasa Indonesia) misal: ’saya bernadzar wajib bagi saya berpuasa 5 hari untuk Allah Ta’ala bila terlaksana hajat saya (misal: dimudahkan suatu urusan).’
Dan setelah hajat terlaksana, melaksanakan puasa tersebut dengan niat wajib karena nadzar untuk Allah Ta’ala ?

Mohon penjelasannya, Ustadz.
Jazaakallāhu khairan wa Baarakallāhu fiik ustadz.

(Disampaikan oleh Admin T08 G-20)


Jawaban :

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.

Bismillaah
Alhamdulillah wash shalaatu wassalaamu ‘alaa rasulillah wa’ala aalihi wa ash-haabihi waman tabi’ahum bi ihsaanin ilaa yaumiddin, amma ba’du.

[Nadzar Tidak Cukup Dengan Niat Saja, Harus Diucapkan Dengan Lisan]

Imam An-Nawawi –rahimahullah– menjelaskan perkataan Abu Ishaq Asy-Syirazi (pemilik kitab Al-Muhadzab) :

ولا يصح النذر الا بالقول

“Nadzar tidak sah kecuali jika diucapkan”

(maksudnya adalah tidak cukup niat dalam hati bagi seorang yang akan bernadzar -pen)

Ketika menjelaskan perkataan ini, Imam An-Nawawi berkata :

“Para ulama kami dari kalangan Syafi’iyyah mengatakan nadzar itu sah ketika diucapkan, walaupun saat itu tidak meniatkannya.

Sebagaimana sahnya waqaf, pembebasan budak dengan ucapan, walaupun ketika itu sebenarnya tidak ingin. “

Lalu beliau menjelaskan, bahwa nadzar tidak sah jika hanya niat dalam hati saja.

Maksud ucapan beliau di atas adalah nadzar yang dianggap adalah nadzar yang terucap bukan nadzar yang terniatkan.
wallahu a’lam

(Lihat Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, Karya Imam An-Nawawi 8/451)

Sehingga jawaban dari pertanyaan di atas adalah nadzar tidak sah dengan niat saja, harus diucapkan atau di-ikrar-kan.

[Hukum Bernadzar]

Bernadzar hukumnya makruh, dibenci untuk dilakukan oleh seorang muslim. Karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

لَا تَنْذِرُوا، فَإِنَّ النَّذْرَ لَا يُغْنِي مِنَ الْقَدَرِ شَيْئًا، وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنَ الْبَخِيلِ

“Kalian jangan bernadzar, karena nadzar itu tidak akan mengubah takdir sedikitpun. Nadzar itu biasanya dipakai oleh orang yang bakhil”
(HR. Muslim 1640)

Kenapa nadzar itu dipakai oleh seorang yang bakhil ?
Karena jika ia tidak bakhil harusnya ia tetap melaksanakan amalan tersebut tanpa nadzar.

Dan dia bakhil, karena seakan-akan ia ingin melakukan transaksi tukar menukar dengan Allah.

Jika ada seorang yang bertanya ?
Lalu kenapa Allah memuji orang yang bernadzar di dalam Al-Qur’an ?! Bukankah Allah berfirman :

يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا

“Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana.”
(QS. Al-Insan : 7)

Para ulama menjawab : yang dipuji disini adalah seorang yang bernadzar tanpa harus menggantungkannya dengan kebaikan yang akan ia dapat.

Misalkan mengatakan : saya bernadzar untuk puasa hari ini. (titik) tanpa embel-embel apapun.

Dan nadzar baik dengan embel-embel atau tanpa embel-embel ini suatu hal yang makruh, dibenci untuk dilakukan oleh seorang muslim. j6ika ingin beramal shalih cukup lakukan saja amalan tersebut tanpa harus menggantungkan dengan embel-embel lainnya.

[Jika Ingin Dikabulkan Keinginan]

Bagi seorang yang ingin dikabulkan keinginannya, maka dengan cara berdoa, dengan bersedekah di awal, dengan beramal shalih, dan lain-lain. Lalu menggunakannya untuk bertawassul kepada Allah. Bukan dengan nadzar

Semoga mendapatkan pencerahan.

Wallahu A’lam
Wabillahit taufiq

Dijawab dengan ringkas oleh :
👤 Team Tanya Jawab Bimbingan Islam
📆 Selasa, 7 Jumadil Akhir 1440 H / 12 Februari 2019 M

CATEGORIES
Share This

COMMENTS