Nasehat Bagi Mahasiswa Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam bimbingan islam
Nasehat Bagi Mahasiswa Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam bimbingan islam

Nasehat Bagi Mahasiswa Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam

Para pembaca Bimbinganislam.com yang mencintai Allah ta’ala berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang nasehat bagi mahasiswa jurusan aqidah dan filsafat islam.
selamat membaca.


Pertanyaan :

بسم اللّه الرحمن الر حيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Semoga Allah ta’ala melindungi ustadz dan tim bimbingan Islam.

Saya baru diterima di sebuah universitas islam, dengan jurusan Aqidah dan Filsafat Islam.
Ustadz yang saya hormati. Saya ingin bertanya. Apa pesan Ustadz untuk para mahasiswa baru?
Jazakumullah khair katsiran.

(Disampaikan oleh Fulanah, Sahabat BiAS)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Kami menganjurkan dan sangat menganjurkan sekali agar para mahasiswa membaca dan menelaah dengan tekun dan teliti kitab-kitab aqidah ahlissunnah wal jamaah. Kami sebutkan diantaranya Kitab Usulussunnah Imam Ahmad bin Hanbal. Kitab ini sangat ringkas dan sudah banyak sekali diberikan penjelasaan oleh para ulama.

Ada Aqidatussalaf Ashabil Hadits milik Imam Abu Utsaman Ash-Shabuni, Aqidah Ar-Raziaini milik Imam Abu Hatim Ar-Razi dan Imam Abu Zur’ah Ar-Razi.

Kemudian kitab Syarhussunnah Imam Al-Barbahari, kitab ini juga sudah banyak diberikan penjelasan oleh para ulama. KItab Syarhussunnah Al-Muzani.

Kemudian Al-Aqidah Al-Wasitiyah, Aqidah Ath-Thahawiyah, dan masing-masing kitab tersebut sudah banyak beredar versi syarah atau penjelasan lengkapnya. Banyak beredar pula rekaman daurah terhadap kitab-kitab tersebut.

Agar para mahasiswa memiliki pondasi aqidah yang kuat, dan tidak mudah digoyahkan dengan berbagai syubhat yang barangkali saja mereka temui selama proses study berlangsung.

Imam Ibnu Abil Izz Al-Hanafi menyatakan :

إنه لما كان علم أصول الدين أشرف العلوم؛ إذ شرف العلم بشرف المعلوم، وهو الفقه الأكبر بالنسبة إلى فقه الفروع، ولهذا سمى الإمام أبو حنيفة رحمة الله عليه ما قاله وجمعه في أوراق من أصول الدين (الفقه الأكبر)، وحاجة عباد الله إليه فوق كل حاجة، وضرورتهم إليه فوق كل ضرورة، لأنه لا حياة للقلوب ولا نعيم ولا طمأنينة إلا بأن تعرف ربها، ومعبودها، وفاطرها بأسمائه وصفاته وأفعاله، ويكون مع ذلك كله أحب إليها مما سوا

“Tatkala ilmu Aqidah adalah merupakan ilmu yang paling mulia, yang demikian karena kemuliaan suatu ilmu berbanding lurus dengan kemuliaan obyek yang dipelajari. Dan ilmu aqidah ini adalah fiqih yang besar jika dibandingkan dengan ilmu furu’ (cabang agama). Maka dari itu Imam Abu Hanifah memberi nama kitab aqidah yang beliau karang dengan Fiqhul Akbar.

Kebutuhan hamba Allah terhadap ilmu aqidah ini mengalahkan kebutuhannya terhadap apapun. Dan daruaratnya mereka terhadap ilmu aqidah ini melebihi darurat mereka terhadap apapun juga.

Karena tidak ada kehidupan bagi hati, tidak ada kenikmatan dan kebahagiaan bagi hati kecuali dengan mengenal Tuhannya, sesembahannya serta penciptanya dengan cara mengenal nama-nama, sifat-sifat serta perilaku Allah ta’ala. Dan itu lebih dicintai dari apapun juga.”
(Syarah Aqidah Thahawiyah : 1/5).

Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menjelaskan betapa pentingnya mempelajari aqidah ini untuk membentengi hati dari berbagai syubhat, beliau berkata :

هذا لضعف علمه، وقلة بصـيرته إذا وردت على قلبه أدنى شبهة قدحت فيه الشك والريب، بخلاف الراسخ في العلم لو وردت عليه من الشبه بعدد أمواج البحر ما أزالت يقينه ولا قدحت فيه شكاً؛ لأنه قد رسخ في العلم، فلا تستفزه الشبهات بل إذا وردت عليه ردها حرس العلم وجيشه مغلولة مغلوبة

والشبهة وارد يرد على القلب يحول بينه وبين انكشاف الحق له فمتى باشـر القلب حقيقة العلم لم تؤثر تلك الشبهة فيه، بل يقوى علمه ويقينه بردها، ومعرفة بطلانها، ومتى لم يباشـر حقيقة العلم بالحق قلبه قدحت فيه الشك بأول وهلة؛ فإن تداركها وإلا تتابعت على قلبه أمثالها حتى يصـير شاكاً مرتاباً

“Ini disebabkan oleh lemahnya ilmu yang ia miliki, dan sedikitnya bashirah yang ia miliki. Sehingga tatkala datang syubhat yang paling kecil saja di kali pertama, akan menyebabkan ia menjadi ragu.

Berbeda kondisinya dengan seorang yang kokoh ilmunya seandainya datang syubhat kepadanya sebanyak ombak di lautan. Tidak akan sirna keyakinannya dan tidak akan menimbulkan keraguan, karena ia telah kokoh di dalam ilmu sehingga ia tidak bisa ditumbangkan oleh syubhat.

Bahkan jika datang syubhat maka para pemikul ilmu dan bala tentaranya akan mengalahkannya dengan telak.

Syubhat itu menancap dihati dan akan menghalangi dari terangnya cahaya kebenaran. Maka kapan saja cahaya ilmu menerangi hatinya, maka syubhat tidak bisa mempengaruhinya. Bahkan kekuatan ilmu dan keyakinannya akan mampu membantah serta menguas kebatilan syubhat itu.

Kapan saja hakikat ilmu tidak merasuk ke dalam hatinya, maka syubhat akan menimbulkan keraguan di dalam hatinya pada benturan yang pertama, jika ia bisa menanggulanginya jika tidak maka syubat berikutnya akan masuk lagi sehingga ia menjadi seorang yang ragu lagi kebingungan.”
(Miftah Daris Sa’adah : 1/394).

Kami juga menganjurkan agar para mahasiswa memilih teman bergaul dari kalangan penuntut ilmu yang shalih/shalihah lagi berkahlak mulia dan beraqidah yang lurus. Karena teman adalah salah satu faktor yang sangat mempengaruhi aqidah dan akhlak seseorang. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَثَلُ الْـجَلِيْسِ الصَّالـِحِ وَالسُّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيْرِ. فَحَامِلُ الْـمِسْكِ إِمَّا أَنْ يَحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيْحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيْرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيْحًا خَبِيْثَةً

“Permisalan teman duduk yang baik dan teman duduk yang jelek seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. (Duduk dengan) penjual minyak wangi bisa jadi ia akan memberimu minyak wanginya, bisa jadi engkau membeli darinya dan bisa jadi engkau akan dapati darinya aroma yang wangi.
Sementara (duduk dengan) pandai besi, bisa jadi ia akan membakar pakaianmu dan bisa jadi engkau dapati darinya bau yang tak sedap.”
(HR Bukhari Muslim).

Semoga bermanfaat,
Wallahu ta’ala a’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh :
Ustadz Abul Aswad Al Bayati حفظه الله
Kamis, 20 Muharram 1442 H/ 10 September 2020 M



Ustadz Abul Aswad Al-Bayati, BA.
Dewan konsultasi Bimbingan Islam (BIAS), alumni MEDIU, dai asal klaten
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Abul Aswad Al-Bayati حفظه الله  
klik disini