Muamalatul Hukkam Bagian 19

Muamalatul Hukkam Bagian 19

Muamalatul Hukkam Bagian 19

Anjuran untuk Mengingkari Kemungkaran & Tata Cara Mengingkari Penguasa

Amar ma’ruf nahi munkar adalah merupakan salah satu prinsip di antara prinsip-prinsip agama, dengannya maka kebenaran akan menjadi tampak dan menyebar, dan kebatilan akan menjadi lemah dan hilang.
Allāh Subhānahu wa Ta’āla membedakan antara kaum mukmin dan munafik dengan amar makruf nahi munkar, ini menjadi tanda bahwa bahwa di antara ciri khusus orang yang beriman adalah amar makruf nahi munkar.
Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman :

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar.”
(QS At-Taubah : 71).

Metode Mengingkari Terhadap Penguasa

Jika engkau bertanya tentang metode syariat di dalam mengingkari terhadap penguasa, maka ia telah diterangkan di dalam kitab-kitab sunnah dan kitab lain yang ditulis oleh para ahli ilmu.

1). Nukilan yang pertama

ولا ينكر أحد على سلطان إلا وعظاً له وتخويفاً، أو تحذيراً من العاقبة في الدنيا والآخرة؛ فإنه يجب، ويحرم بغير ذلك، ذكره القاضي، وغيره. والمراد: ولم يَخَف منه بالتخويف والتحذير، وإلا سقط، وكان حكم ذلك كغيره

قال ابن الجوزي: الجائز من الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر مع السلاطين: التعريف والوعظ، فأما تخشين القول؛ نحو: يا ظالم! يا من لا يخاف الله! فإن كان ذلك يحرّك فتنة يتعدّى شررها إلى الغير؛ لم يجز، وإن لم يخف إلا على نفسه؛ فهو جائز عند جمهور العلماء. قال: والذي أراه المنع من ذلك 

“Tidak boleh seorangpun mengingkari terhadap penguasa kecuali berupa nasehat, kepadanya, berupa menakuti, dan memperingati akan munculnya akibat di dunia dan akhirat maka ini wajib dan haram menggunakan cara lainnya. Ini disebutkan oleh Al-Qadhi yang ulama lain.

Imam Ibnul Jauzi berkata ; Yang diperbolehkan dalam amar makruf nahi mungkar terhadap penguasa adalah memberi tahu dan menasehati, adapun menggunakan ungkapan kasar seperti ; Wahai Si Zalim, wahai orang yang tidak takut terhadap Allah. Jika hal itu mengakibatkan munculnya fitnah yang bahayanya mengancam orang lain maka tidak boleh, jika ia hanya mengkhawatirkan, kecuali dirinya sendiri maka boleh menurut mayoritas ulama.

Kemudian beliau berkata lagi ; Pendapat yang aku lihat benar adalah hal itu tidak diperbolehkan.”
(Al-Adab Asy-Syar’iyyah : 1/195-197).

2). Nukilan kedua

Imam Ibnu Nuhas menyatakan :

ويختار الكلام مع السلطان في الخلوة على الكلام معه على رؤوس الأشهاد، بل يودّ لو كلّمه سرّاً، ونصحه خفية؛ من غير ثالث لهما

“Berbicara/menasehati penguasa dengan privasi lebih dipilih dari pada menasehatinya di hadapan khalayak, bahkan disukai kalau ia menasehatinya dengan pelan, serta menasehatinya dengan sembunyi-sembunyi dengan tanpa ada kehadiran orang ketiga.”
(Tanbihul Ghafilin ‘An A’malil Jahilin : 64).

Sikap salafush shalih ketika menyaksikan kemungkaran yang dilakukan oleh penguasa adalah sikap pertengahan di antara dua kelompok sesat :

a). Kelompok khawarij dan mu’tazilah yang berpendapat untuk memberontak kepada penguasa jika penguasa melakukan kemungkaran.

b). Kelompok rafidhah yang menyematkan kepada penguasanya kesucian hingga mencapai derajat kemaksuman.

Sikap kedua kelompok ini menyimpang dari kebenaran serta melenceng dari Al-Kitab dan As-Sunnah yang shahih. Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan taufik kepada ahlus sunnah wal jama’ah menuju kepada petunjuk dan kebenaran. Hingga mereka berpandangan wajibnya mengingkari kemungkaran akan tetapi dengan tetap memperhatikan batasan syariat yang telah diterangkan oleh sunnah dan diamalkan oleh para salafush shalih.
Wallahu a’lam

Disusun oleh:
Ustadz Abul Aswad al Bayati حفظه الله
(Dewan Konsultasi Bimbinganislam.com)



Ustadz Abul Aswad al Bayati, BA حفظه الله
Beliau adalah Alumni Mediu, Dewan konsultasi Bimbingan Islam, dan da’i di kota Klaten.
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Abul Aswad al Bayati, BA حفظه الله
klik disini

CATEGORIES
Share This

COMMENTS