Mu’aamaltul Hukkaam (3)

Mu’aamaltul Hukkaam (3)

Diantara hal yang penting untuk kita ketahui, bahwa kaidah salaf dalam masalah “Prinsip Taat Pada Penguasa” adalah menambahkan porsi penjelasan tentang prinsisp ini manakala bertambah kebutuhan umat terhadapnya.

Ini dilakukan dalam rangka menutup pintu fitnah serta mengantisipasi munculnya gerakan pemberontakan terhadap penguasa yang menjadi sebab utama rusaknya dunia dan agama.

Kaidah ini telah membumi di dalam karya-karya Para Imam Dakwah Najdiyyah. Ketika pemikiran-pemikiran sesat telah mulai menyusup ke dalam tubuh jama’ah-jama’ah yang berusaha melakukan perbaikan.

Para imam dakwah telah memperbanyak penjelasan tentang prinsip ini, mengulang-ulangnya serta membantah berbagai syubhat yang muncul. Dan mereka tidak merasa cukup dengan satu penjelasan atau mencukupkan diri dengan penjelasan pribadi. Karena mereka mengetahui akan adanya resiko serta bahaya besar yang mengancam umat jika prinsip ini tidak difahami dengan baik.

Diantaranya adalah ucapan Imam Abdullatif bin Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh yang membantah syubhat dalam masalah ini serta membendung orang yang menyebarkannya, beliau menyatakan ;

“Dan orang-orang yang tertipu itu tidak mengetahui bahwa mayoritas penguasa kaum muslimin sejak masa Yazid bin Mu’awiyah kecuali Umar bin Abdul Aziz dan sebagian orang yang dikehendaki oleh Allah dari kalangan Bani Umayyah telah melakukan kejahatan, pembantaian besar serta kerusakan di wilayah kaum muslimin.

Meski demikian sikap para imam dan punggawa umat Islam sangat ma’ruf dan masyhur, mereka tidak mencabut ketaatan teradap penguasanya kala itu.” (Ad Durar As Saniyyah : 7/177).

Contoh nyata dalam hal ini adalah kasus Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi yang sangat terkenal suka sekali menumpahkan darah rakyatnya dari kalangan kaum muslimin, serta sering melanggar syariat Allah ta’ala hingga membunuh banyak sekali para ulama umat ini seperti Said bin Jubair serta Ibnu Zubair.

Dan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma diantara sahabat yang menemui masa kekuasaan hajjaj ini. Namun beliau tidak mencabut ketaatan kepadanya. Demikian pula para ulama dari kalangan tabi’in tidak mencabut ketaatan kepada Hajjaj, diantara mereka adalah Sa’id bin Al-Musayyab, Al-Hasan Al-Basri, Ibnu Sirin, Ibrahim At-Taimi, demikian pula para ulama tabi’in lainnya.

Demikianlah prinsip agung ini diwarisi oleh para ulama’ umat ini, mereka memerintahkan untuk mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya serta berjihad bersama penguasa mereka sebagaimana hal ini masyhur diketahui di dalam kitab-kitab Ushuluddin dan kitab-kitab aqidah.

Dan tidak diragukan bahwa masa kita hidup sekarang ini terkumpul di dalamnya dua musibah : kebodohan yang merata terhadap prinsip mendengar dan taat pada penguasa, serta menyusupnya pemikiran-pemikiran sesat ke dalam tubuh umat.

Maka wajib bagi para ulama dan para peuntut ilmu agar mengamalkan firman Allah ta’ala :

لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ

“Hendaknya kalian menjelaskannya kepada para manusia dan jangan menyembunyikannya.”

(QS Ali Imran : 187).

Hendaknya para ulama dan para penuntut ilmu menjelaskan kepada manusia prinsip ini dengan ikhlas serta mengaharap pahala dari Allah ta’ala dan jangan berhenti hanya Karena keberadaan syubhat seperti yang dikatakan oleh sebagian orang :

“Siapa yang mengambil keuntungan dari penjelasan prinsip mendengar dan taat pada penguasa ini ?”

Mereka mengisyaratkan bahwa yang paling banyak diuntungkan adalah para penguasa saja. Ini adalah kebodohan yang buruk serta kesesatan yang nyata. Penyebab timbulnya pemikiran ini adalah karena kebodohan mereka terhadap aqidah yang harus kita yakini terhadap penguasa yang baik maupun yang jahat.

Di sisi lain pihak yang banyak diuntungkan dari penjelasan ini sebenarnya adalah rakyat dan penguasa sekaligus sebagaimana hal ini tidak tersembunyi bagi para ahli ilmu. Bahkan terkadang rakyat menjadi pihak yang lebih banyak diuntungkan dari pada penguasa.

Termasuk syubhat yang banyak beredar ; “Bahwa penjelasan terhadap prinsip mendengar dan taat pada penguasa itu tidak tepat disampaikan di masa ini.”

Subhanallah ! jadi kapan waktunya jika demikian ? apakah ketika kepala-kepala sudah putus terpenggal beterbangan dan darah kaum muslimin sudah ditumpahkan ? atau apakah ketika kekacauan sudah menyebar kemana-mana dan rasa aman sudah hilang ?

Penyebab rusaknya manusia dalam memahami prinsip ini adalah terlalu mengikuti hawa nafsu serta mengedepankan akal dari pada dalil. Maka kitab ini berisi dalil-dalil syar’i serta nukilan-nukilan dari salaf mari pasang telinga dan penglihatan kita dengan baik semoga Allah ta’ala berkenan menganugrahkan taufik kepada kita semua serta menjauhkan kita dari kesesatan hawa nafsu serta fitnah yang buruk.

Wallahu a’lam

CATEGORIES
Share This

COMMENTS