Mu’aamalatul Hukkam (8)

Mu’aamalatul Hukkam (8)

Kaidah Kelima : Para Pemimpin/Imam yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Perintahkan kepada Kita untuk Mentaatinya adalah Para Pemimpin yang Keberadaannya Diketahui, Mempunyai Kekuatan dan Kekuasaan

Adapun imam yang tidak ada wujudnya atau tidak mempunyai kekuasaan sedikitpun, maka ia tidak masuk dalam perintah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk mentaatinya.

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu ta’ala berkata :

أن النبي صلى الله عليه وسلم أمر بطاعة الأئمة الموجودين المعلومين، الذين لهم سلطان يقدرون به على سياسة الناس، لا بطاعة معدوم ولا مجهول ولا من ليس له سلطان ولا قدرة على شيء أصلاً

“Bahwasannya Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan untuk mentaati para pemimpin/penguasa yang keberadaannya diketahui, yang mempunyai kekuatan sehingga ia mampu/berkuasa untuk mengatur urusan orang-orang (yang di bawah kekuasaannya). Bukan mentaati pemimpin yang tidak ada wujudnya, tidak diketahui, tidak mempunyai kekuatan dan kekuasaan sama sekali.”

(Minhajus Sunnah An-Nabawiyyah : 1/115)

Tujuan dari kepemimpinan sebagaimana diatur oleh syari’at adalah untuk menegakkan keadilan di tengah-tengah manusia, menampakkan syi’ar-syi’ar Allah ta’ala, menegakkan huduud, dan yang semisalnya. Hal itu tidak mungkin dilakukan oleh imam yang tidak ada lagi tidak diketahui.

Urusan tersebut hanya dapat ditegakkan oleh imam yang ada wujudnya yang diketahui oleh kaum muslimin secara umum, baik ulamanya atau orang awamnya, baik kalangan muda atau orang tua, baik laki-laki maupun perempuan; yang ia mempunyai kekuasaan untuk kelangsungan tujuan-tujuan kepemimpinan (imamah) yang ia emban.

Apabila ia memerintahkan untuk menolak kedhaliman dipenuhi, apabila menghukum dengan satuhadd ditegakkan, apabila menghukum ta’zir dilaksanakan hukuman tersebut pada rakyatnya, dan yang semisalnya dari fenomena kekuasaan dan kepemerintahan.

Inilah perkara yang Allah wujudkan pada kedua tangannya kemaslahatan kaum muslimin, amannya jalan-jalan, terwujudnya persatuan, dan terjaga kemuliaan orang-orang Islam.

Barangsiapa memproklamirkan dirinya punya kedudukan sebagai penguasa yang memiliki kekuatan dan kekuasaan dalam mengatur manusia, lalu menyeru sekelompok orang untuk mendengar dan taat kepadanya, atau jama’ah/kelompok orang tersebut membai’atnya sehingga mereka mendengar dan taat kepadanya dengan inisitaif dan kesadaran sendiri, dan yang semisalnya; padahal penguasa yang sah masih berkuasa dengan jelas, maka orang tersebut telah menentang Allah dan Rasul-Nya, menyelisihi hukum syari’at, dan keluar dari jama’ah.

Maka, tidak wajib mentaatinya, bahkan diharamkan. Tidak diperbolehkan mengadukan kepadanya perkara (untuk diputuskan) dan tidak boleh menjalankan hukumnya. Barangsiapa yang membantu atau menolongnya dengan harta, perkataan, atau yang lebih rendah dari itu, sungguh ia (pada hakekatnya) telah memberikan pertolongan untuk merobohkan bangunan Islam, memerangi kaum muslimin, dan menyebarkan kerusakan di muka bumi – sedangkan Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan (di muka bumi).

Wallahu a’lam

CATEGORIES
Share This

COMMENTS