Mu’aamalatul Hukkam (7)

Mu’aamalatul Hukkam (7)

Kaidah Keempat : Sah banyaknya Imam/Penguasa dalam Keadaan Darurat/Terpaksa, dan Menjadikan Setiap Imam di Wilayahnya Masing-Masing Dengan Hukum Sebagai Imam A’dham.

“Barangsiapa yang tidak membedakan antara keadaan tidak terpaksa dan terpaksa (darurat), maka ia adalah orang yang bodoh akal dan agamanya”.

(Al-Awashim Wal Qwashim Fi Dzabbi ‘An Sunnati Abil Qashim : 8/174).

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdil Wahhab  rahimahullaahu ta’ala  berkata :

الأئمة مجمعون من كل مذهب على أن من تغلب على بلد أو بلدان؛ له حكم الإمام في جميع الأشياء، ولولا هذا ما استقامت الدنيا. لأن الناس من زمن طويل قبل الإمام أحمد إلى يومنا هذا ما اجتمعوا على إمام واحد، ولا يعرفون أحداً من العلماء ذكر أن شيئاً من الأحكام لا يصلح إلا بالإمام الأعظم

”Para imam setiap madzhab telah bersepakat bahwa siapa saja yang menaklukkan suatu negara maka ia berhak menjadi imam (penguasa) dalam membawahi segala urusan. Jika tidak demikian, maka dunia tidak akan berjalan dengan baik. Hal itu disebabkan manusia selang beberapa lama, sejak sebelum zamannya Imam Ahmad sampai zaman sekarang ini, manusia tidak berkumpul di bawah satu imam, dan mereka tidak mengetahui ada seorang ulama pun yang menyebutkan bahwa : Suatu perkara hukum tidak sah kecuali dengan keputusan Al-Imam Al-A’dham (imam yang membawahi seluruh kaum muslimin di dunia).”

(Ad-Durar As-Saniyyah : 7/239).

Al-‘Allamah Ash-Shan’ani berkata ketika menjelaskan hadits yang berbunyi : ‘Barangsiapa keluar dari ketaatan dan memisahkan diri dari jama’ah, lalu mati maka kematiannya adalah kematian jahiliyyah’ (HR Muslim : 3/1476) :

قوله : ((عن الطاعة ))، أي : طاعة الخليفة الذي وقع الاجتماع عليه ،وكأن المراد خليفة أي قطر من الأقطار، إذ لم يجمع الناس على خليفة في جميع البلاد الإسلامية من أثناء الدولة العباسية بل استقل أهل كل إقليم بقائم بأمورهم، إذ لو حمل الحديث على خليفة أجتمع عليه أهل الإسلام، لقلت فائدته.
وقوله : (( وفارق الجماعة ))، أي : خرج عن الجماعة الذين اتفقوا على طاعة إمام انتظم به شملهم واجتمعت به كلمتهم وحاطهم عن عدوهم

“Sabda beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam : ‘keluar dari ketaatan’ ; maksudnya ketaatan kepada khalifah yang disepakati. Seolah-olah beliau maksudkan khalifah/pimpinan daerah manapun dari daerah-daerah yang ada, karena manusia (sejak) di masa daulah ‘Abbasiyyah tidak bersepakat pada satu orang khalifah di seluruh negeri Islam. Bahkan penduduk setiap daerah menyendiri dengan pimpinan yang mengurusi urusan mereka. Dimana kalau hadits itu dibawa/difahami kepada satu orang khalifah yang telah disepakati orang Islam (seluruhnya), maka faedah hadits itu tentu menjadi kecil.

Sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘dan memisahkan diri dari jama’ah’; maksudnya keluar dari jama’ah yang orang-orang bersepakat untuk mentaati pemimpin/imam yang mengatur urusan mereka, menggalang persatuan mereka, dan memelihara mereka dari musuh-musuhnya” [selesai].

(Subulussalam : 3/499).

Al-‘Allamah Asy-Syaukani rahimahullahu ta’ala berkata saat menjelaskan perkataan penulis kitab Al-Azhar : ‘Tidak sah ada dua imam/penguasa’ :

وأما بعد انتشار الإسلام واتساع رقعته وتباعد أطرافه، فمعلوم أنه قد صار في كل قطر – أو أقطار – الولاية إلى إمام أو سلطان، وفي القطر الآخر كذلك، ولا ينعقد لبعضهم أمر ولا نهي في قطر الآخر وأقطاره التي رجعت إلى ولايته.
فلا بأس بتعدد الأئمة والسلاطين ويجب الطاعة لكل واحد منهم بعد البيعة له على أهل القطر الذي ينفذ فيه أوامره ونواهيه، وكذلك صاحب القطر الآخر.
فإذا قام من ينازعه في القطر الذي ثبت فيه ولايته، وبايعه أهله، كان الحكم فيه أن يقتل إذا لم يتب.
ولا تجب على أهل القطر الآخر طاعته، ولا الدخول تحت ولايته، لتباعد الأقطار، فأنه قد لا يبلغ إلى ما تباعد منها خبر إمامها أو سلطانها، ولا يدري من قام منهم أو مات، فالتكليف بالطاعة والحال هذا تكليف بما لا يطاق.
وهذا معلوم لكل من له إطلاع على أحوال العباد والبلاد ….
فاعرف هذا، فإنه المناسب للقواعد الشرعية، والمطابق لما تدل عليه الأدلة، ودع عنك ما يقال في مخالفته، فإن الفرق بين ما كانت عليه الولاية الإسلامية في أول الإسلام وما هي عليه الآن أوضح من شمس النهار.
ومن أنكر هذا، فهو مباهت ولا يستحق أن يخاطب بالحجة لأنه لا يعقلها

”Adapun setelah tersebarnya Islam dan luasnya dunia Islam serta tempat-tempat saling berjauhan, maka telah dimaklumi bahwa setiap daerah/negara dipimpin seorang imam atau sulthan. Di wilayah negara lain pun seperti itu. Mereka tidak perlu melaksanakan perintah dan larangan (peraturan-peraturan) yang berlaku di daerah/negara lain, atau negara-negara yang tergabung dalam wilayah penguasa lain tersebut.

Maka banyaknya imam dan penguasa adalah tidak apa-apa. Setelah dibaiatnya seorang imam, maka wajib bagi setiap orang yang berada di bawah daerah kekuasaannya untuk mentaatinya, yaitu dengan melaksanakan perintah dan larangan-larangannya. Seperti itu pula negara-negara yang lainnya.

Apabila ada orang yang menentang/menyelisihi (imam/sulthan) di dalam suatu negara yang kekuasaan telah dipegangnya dan penduduk telah membaiatnya, maka hukuman bagi orang tersebut adalah dibunuh bila tidak mau bertaubat. Akan tetapi tidak wajib bagi penduduk negara lainnya untuk mentaatinya dan masuk di bawah kekuasannya; karena saling berjauhan kekuasannya. Kadangkala berita tentang imam atau pemimpin tidak sampai pada wilayah-wilayah yang berjauhan, dan dari sana tidak diketahui siapa yang masih hidup atau mati di antara penguasa itu. Maka pembebanan ketaatan dalam keadaan seperti ini adalah pembebanan di luar kemampuan.

Hal ini telah dipahami oleh setiap orang yang memiliki wawasan terhadap keadaan rakyat dan negara …. Maka pahamilah perkara ini, karena sesungguhnya hal ini sesuai dengan kaidah-kaidah syari’at dan bersesuaian dengan dalil. Dan tinggalkanlah pendapat yang menyelisihinya. Sesungguhnya perbedaan antara daerah kekuasaan pada awal permulaan Islam dengan yang ada sekarang ini adalah lebih jelas/terang daripada matahari di siang hari. Maka orang yang mengingkari masalah ini berarti seorang pendusta, ia tidak perlu diajak bicara dengan hujjah karena ia tidak memahaminya.”

(As-Sailul Jarar : 4/512).

Imam Ibnu Katsir mengatakan hal yang berbeda dalam permasalahan ini, dan ia menyebutkan pendapat jumhur ulama yang melarangnya (banyaknya imam dalam waktu yang sama), kemudian berkata :

وحكى إمام الحرمين عن الأستاذ أبي إسحاق أنه جوز نصب إمامين فأكثر إذا تباعدت الأقطار، واتسعت الأقاليم بينهما، وتردد إمام الحرمين في ذلك .
قلت : وهذا يشبه حال الخلفاء من بني العباس بالعراق والفاطميين بمصر والأمويين بالمغرب …

“Dan Imam Al-Haramain telah mengatakan dari Al-Ustadz Abu Ishaq bahwa ia memperbolehkan pengangkatan dua imam atau lebih apabila negeri-negeri saling berjauhan dan luasnya daerah (kekuasaan Islam) antara keduanya. Sedangkan Imam Al-Haramain bimbang/ragu-ragu dalam permasalahan tersebut.

Aku (Ibnu Katsir) katakan : Kondisi ini seperti kondisi para khalifah Bani Al-‘Abbas (‘Abbasiyyah) di ‘Iraq, Faathimiyyah di Mesir, dan Umawiyyah di Maghrib….”

(Tafsir Ibnu Katsir : 1/74).

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu ta’ala berkata :

والسنة أن يكون للمسلمين إمام واحد والباقون نوابه، فإذا فرض أن الأمة خرجت عن ذلك لمعصية من بعضها، وعجز من الباقين – فكان لها عدة أئمة، لكان يجب على كل إمام أن يقيم الحدود، ويستوفي الحقوق ….

“Yang menjadi sunnah adalah bahwa kaum muslimin itu hanya memiliki satu imam, dan yang lain adalah para wakilnya. Seandainya jika sebuah umat keluar/memisah darinya karena perbuatan maksiat dari sebagian umat itu, atau karena adanya kelemahan dari yang lain sehingga umat itu memiliki beberapa imam. Maka wajib atas setiap imam (pimpinan negara) untuk menegakkan hukum-hukum had dan memenuhi hak-hak (rakyatnya).

(Majmu’ Fatawa : 35/175-176).

CATEGORIES
Share This

COMMENTS