Mu’aamalatul Hukkaam Bagian 11

Mu’aamalatul Hukkaam Bagian 11

 

Pasal Kedua

Tentang Penjelasan Kedudukan Tinggi Penguasa Di Dalam Syariat Yang Suci

4). Syariat melarang kita dari mencela penguasa, dan syariat memperingatkan dengan keras bagi orang yang melakukannya.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata :

نَهَانَا كُبَرَاؤُنَا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , قَالَ : ” لا تَسُبُّوا أُمَرَاءَكُمْ ، وَلا تَغِشُّوهُمْ ، وَلا تَبْغَضُوهُمْ ، وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاصْبِرُوا ؛ فَإِنَّ الأَمْرَ قَرِيب

“Telah melarang kami para punggawa kami dari kalangan para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan berkata : Jangan kalian cela penguasa kalian, jangan kalian tipu mereka, dan jangan kalian benci mereka bertaqwalah kalian kepada Allah dan bersabarlah sesungguhnya kemenangan itu sudah dekat.” (HR Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah : 1049 dihasankan oleh Syaikh DR Basim Al-Jawabirah dalam Tahqiq beliau terhadap kitabus Sunnah : 2/693).

Al-Imam Al-Munawi berkata :

جعل الله – السلطان – معونة لخلقه، فيصان منصبه عن السب والامتهان ليكون احترامه سبباً لامتداد فيء الله ودوام معونة خلقه. وقد حذر السلف من الدعاء عليه فإنه يزداد شراً ويزاد البلاء على المسلمين

“Allah ta’ala menjadikan penguasa sebagai sarana untuk menolong makhluknya, sehingga kedudukan penguasa ini harus dijaga dari celaan dan penghinaan agar supaya penghormatan terhadap penguasa ini menjadi sebab berlangsungnya pertolongan Allah terhadap makhluk-Nya.

Dan para ulama’ salaf telah memperingatkan dengan keras dari mendoakan keburukan bagi penguasa
karena hal itu hanya akan semakin menambah keburukan dan semakin menambah musibah yang menimpa kaum muslimin. (Faidhul Qadir : 6/499).

5). Karena penguasa merupakan salah satu sarana Allah untuk menolong manusia.

Imam Badruddin Ibnu Jama’ah menukil dari Imam Ath-Thurthusi tentang tafsir firman Allah ta’ala :

وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَفَسَدَتِ الْأَرْضُ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْعَالَمِينَ

“Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.” (QS Al-Baqarah : 251). Beliau (Imam Aht-Thurthusi) berkata :

قيل فِي مَعْنَاهُ: لَوْلَا أَن الله تَعَالَى أَقَامَ السُّلْطَان فِي الأَرْض يدْفع الْقوي عَن الضَّعِيف، وينصف الْمَظْلُوم من ظالمه؛ لتواثب النَّاس بَعضهم على بعض، ثمَّ امتن الله تَعَالَى على عباده بِإِقَامَة السُّلْطَان لَهُم بقوله تَعَالَى: {وَلَكِن الله ذُو فضل على الْعَالمين}

“Dikatakan makna ayat ini adalah ; Seandainya Allah tidak menegakkan penguasa di atas bumi untuk menolong yang lemah dari yang kuat, dan menolong orang yang terzalimi dari orang yang menzaliminya. Maka manusia akan saling menerjang satu sama lain, kemudian Allah ta’ala menganugrahkan nikmat kepada hambanya dengan menegakkan penguasa atas mereka dengan firmannya ; Akan tetapi Allah itu memiliki keutamaan terhadap alam semesta.” (Tahrirul Ahkam Fi Tadbiri Ahlil Islam : 49).

Nikmat Allah berupa keberadaan penguasa di antara manusia merupakan dalil akan keutamaan penguasa. Karena Allah ta’ala menganugrahkan nikmat yang agung sebagai bentuk peringatan bagi selainnya dan sebagai bentuk penampakan keutamaan penguasa.

6). Ijma’/kesepakatan umat bahwa manusia tidak akan baik urusan agama dan dunianya melainkan dengan adanya penguasa.
Maka dari itu Imam Abu Abdillah Al-Qal’i Asy-Syafi’i berkata :

فَأَقُول نظام أَمر الدّين وَالدُّنْيَا مَقْصُود وَلَا يحصل ذَلِك إِلَّا بِإِمَام مَوْجُود

“Maka aku katakan bahwasanya penertiban urusan agama dan dunia adalah tujuan utama dan tiada akan bisa diwujudkan kecuali dengan adanya penguasa yang memiliki wujud.” (Tahdzibur Riyasah wa Tartibus Siyasah : 94).

7). Penguasa adalah merupakan manusia yang memiliki pahala paling besar jika ia adil dalam kekuasaannya.
Imam Al-Izz Ibnu Abdissalam berkata :

 

وَعَلَى الْجُمْلَةِ فَالْعَادِلُ مِنْ الْأَئِمَّةِ وَالْوُلَاةِ وَالْحُكَّامِ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنْ جَمِيعِ الْأَنَامِ بِإِجْمَاعِ أَهْلِ الْإِسْلَامِ، لِأَنَّهُمْ يَقُومُونَ بِجَلْبِ كُ
لِّ صَالِحٍ كَامِلٍ، وَدَرْءِ كُلِّ فَاسِدٍ شَامِلٍ فَإِذَا أَمَرَ الْإِمَامُ بِجَلْبِ الْمَصَالِحِ الْعَامَّةِ وَدَرْءِ الْمَفَاسِدِ الْعَامَّةِ، كَانَ لَهُ أَجْرٌ بِحَسَبِ مَا دَعَا إلَيْهِ مِنْ الْمَصَالِحِ الْعَامَّةِ، وَزَجَرَ عَنْهُ مِنْ الْمَفَاسِدِ وَلَوْ كَانَ ذَلِكَ بِكَلِمَةٍ وَاحِدَةٍ.

“Secara umum para penguasa yang adil adalah manusia yang paling besar pahalanya dibandingkan seluruh manusia berdasarkan kesepakatan umat Islam. Karena mereka mewujudkan seluruh kebaikan secara menyeluruh dan menolak kerusakan secara totalitas. Jika seorang penguasa memerintahkan untuk mewujudkan suatu kebaikan dan menolak keburukan secara luas, maka ia mendapatkan pahala sesuai dengan cakupan insturksinya tersebut meskipun hanya dengan menggunakan satu kalimat saja.” (Qawa’idul Ahkam Fa Mashalihil Anam : 1/104).
Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

Barangsiapa mengajak (manusia) kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa mengajak (manusia) kepada kesesatan maka ia mendapatkan dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (HR Muslim : 2674).

Demikianlah seandainya kita berpanjang lebar di dalam menjelaskan keutamaan kepemimpinan dalam Islam ini niscaya pembicaraan kita akan menjadi sangat panjang dana pa yang kami sebutkan mencukupi untuk menjadi isyarat bagi pembahasan ini,

wallahu a’lam.

Diterjemahkan Oleh :
Ustadz Abul Aswad Al-Bayati حفظه الله
(Dewan Konsultasi Bimbinganislam.com)

CATEGORIES
Share This

COMMENTS