Mu’aamalatul Hukkaam bag. 17 

Mu’aamalatul Hukkaam bag. 17 

Dalil-dalil Tentang Kewajiban Mentaati Penguasa

(1) Dalil yang pertama

Allah ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS An-Nisa’ : 59).

Imam Ibnu Athiyyah menafsirkan ayat ini beliau berkata :

تقدم في هذه إلي الرعية فأمر بطاعته عر زجل وهي امتثال أوامره ونواهيه وطاعة رسوله وطاعة الأمراء علي قول الحمهور أبي هريرة وابن عباس وابن زيد وغيرهم

“Telah berlalu bahwa perintah ini untuk rakyat, Allah memerintahkan mereka untuk mentaati Allah dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan, Allah juga memerintahkan untuk mentaati rasul-Nya dan mentaati penguasa berdasarkan pendapat mayoritas ulama seperti Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Ibnu Zaid dan lain-lain radhiyallahu anhum.” (Al-Muharrarul Wajiz : 4/158).

(2) Dalil kedua

عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ ، فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ ، مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ ، فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ

“Seorang muslim wajib mendengar dan taat dalam perkara yang dia sukai atau benci selama tidak diperintahkan untuk bermaksiat. Apabila diperintahkan untuk bermaksiat, maka tidak ada kewajiban mendengar dan taat.” (HR. Bukhari : 7144)

Imam Al-Mubarakfuri menukilkan ucapan Al-Muthahhar ketika menjelaskan makna hadits ini, beliau berkata :

أن سماع كلام الحاكم وطاعته واجب على كل مسلم، سواء أمره بما يوافق طبعه، أو لم يوافقه، بشرط أن لا يأمره بمعصية، فإن أمره بها فلا تجوز طاعته، ولكن لا يجوز له محاربة الإمام

“Bahwa mendengar ucapan penguasa dan mentaatinya wajib hukumnya bagi setiap muslim, sama saja apakah perintah penguasa itu sesuai dengan tabiatnya atau tidak. Dengan syarat penguasa tidak memerintahkan kemaksiatan, jika ia memerintahkan kemaksiatan maka tidak boleh ditaati akan tetapi tidak boleh bagi orang Islam untuk memerangi penguasa.” (Tuhfatul Ahwadzai : 5/365).

(3) Dalil Ketiga

عن أبي هريرةَ أنهُ قالَ قال رسول – الله صلى الله عليه وسلم – عليْكم السمع عليكَ السَّمع والطاعة في عُسرِك ويُسرِك ومنْشَطِك ومكْرَهِك وأثرة عليك.

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ; ‘Wajib bagi kalian untuk mendengar dan taat di kala susah maupun mudah, di kala suka maupun duka, dan dalam kondisi penguasa lebih mendahulukan kepentingan pribadi dari kepentingan rakyat.”(HR Muslim : 3/1468).

Imam Nawawi menyatakan menjelaskan makna hadits ini :

اسمعوا وأطيعوا وان اختص اﻻمراء بالدنيا ولم يوصلوكم حقكم مما عندهم

“Dengarlah oleh kalian dan taatilah oleh kalian meskipun penguasa lebih mengutamakan dirinya dengan dunia dan tidak memberikan hak-hak kalian.” (Syarah Shahih Muslim : 12/225).

(4) Dalil keempat

Salamah bin Yazid Al-Ju’fi bertanya kepada Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam-: “Wahai Nabi.. bagaimanakah pandangan tuan sekiranya datang pada kami para penguasa yang menuntut hak-haknya kepada kami, tetapi mengabaikan hak-hak kami atasnya, apakah kiranya titah tuan?.

Pada kali ke tiga Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pun menjawab:

اسمعوا وأطيعوا فإنما عليهم ما حملوا وعليكم ما حملتم

“Dengarkan dan patuhi, sesungguhnya mereka akan ditanyakan tentang apa yang mereka emban dan kalian akan pula ditanyakan atas apa yang kalian emban” (HR. Muslim : 3/1474).

(5) Dalil Kelima

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يكون بعدي أئمة لا يهتدون بهداي ولا يستنون بسنتي،وسيقوم فيهم رجال قلوبهم قلوب الشياطين في جثمان إنس

“Akan datang masanya kelak setelahku para penguasa yang tidak mengikuti petunjuk dan sunnahku, dan akan ada diantara mereka orang-orang yang berhati syetan dalam wujud manusia”

Maka Hudzaifah bertanya:” apa yang harus ku lakukan dikala itu wahai Rasulullah sekiranya aku ada di masa itu”?

Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab:

تسمع وتطيع للأمير وإن ضرب ظهرك وأخذ مالك فاسمع وأطع

“Dengar dan patuhi pemimpinmu sekalipun ia mempecut punggungmu dan mengambil hartamu, dengarkan dan patuhi”. (HR. Muslim : 3/1476).

Syaikh Abdussalam Al-Barjas menyatakan ketika mengomentari hadits ini :

هذا الحديث من أبلغ الأحاديث التي جاءت في هذا الباب؛ إذ قد وصف النبي – صلى الله عليه وسلم – هؤلاء الأئمة بأنهم لا يهتدون بهديه ولا يستنون بسنته، وذلك غاية الضلال والفساد، ونهاية الزيغ والعناد، فهم لا يهتدون بالهدي النبوي في أنفسهم ولا في أهليهم ولا في رعاياهم … ومع ذلك فقد أمر النبي – صلى الله عليه وسلم – بطاعتهم – في غير معصية الله – كما جاء مقيداً في حديث آخر – حتى لو بلغ الأمر إلي ضربك وأخذ مالك، فلا يحملنك ذلك على ترك طاعتهم وعدم سماع أوامرهم، فإن هذا الجرم عليهم وسيحاسبون ويجازون به يوم القيامة

“Hadits ini adalah hadits yang paling gamblang dari hadits-hadits yang dating dalam bab ini, karena Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam sampai mensifati para penguasa ini bahwa mereka tidak mengambil petunjuk beliau, tidak mengambil sunnah beliau. Ini adalah puncak kesesatan dan kerusakan, puncak penyimpangan dan pembangkangan.

Mereka tidak mengambil petunjuk Nabi dalam diri mereka dalam keluarga mereka dan rakyat mereka. Meski demikian nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mentaati mereka dalam selain kemaksiatan terhadap Allah sebagaimana diterangkan dalam hadits-hadits yang lain.

Hingga ketika para penguasa sampai pada batas memukul punggungmu, merampas hartamu, janganlah hal itu menjadi sebab untuk meninggalkan ketaatan kepada mereka dan mendengar ucapan mereka. Karena dosa criminal ini menjadi tanggungan mereka dan kelak mereka akan dihisab (dimintai pertanggung jawaban) dan akan disiksa kelak di hari kiamat.”

(Mu’amalatul Hukkam : 93).

Wallahu a’lam

Diterjemahkan Oleh :
Ustadz Abul Aswad Al-Bayati حفظه الله
(Dewan Konsultasi Bimbinganislam.com)



Ustadz Abul Aswad al Bayati, BA فظه الله
Beliau adalah Alumni Mediu, Dewan konsultasi Bimbingan Islam, dan da’i di kota Klaten.
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Abul Aswad al Bayati, BA فظه الله  
klik disini

CATEGORIES
Share This

COMMENTS