Mu’aamalatul Hukkaam (9)

Mu’aamalatul Hukkaam (9)

Kaidah Keenam : Menampakkan Penghormatan dan Pengagungan kepada Penguasa Sebagaimana Hal itu Diperintahkan oleh Allah ta’ala

Al-Imam Ibnu Abi ‘Aashim membawakan satu bab dalam kitabnya As-Sunnah : ‘Bab Penyebutan Keutamaan Menguatkan (Kedudukan) Amir dan Menghormatinya’; yang kemudian membawakan hadits dengan sanadnya dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam :

خمس من فعل واحدة منهن كان ضامنا على الله عز وجل من عاد مريضا أو خرج مع جنازة أو خرج غازيا أو دخل على إمامه يريد تعزيزه وتوقيره أو قعد في بيته فسلم الناس منه وسلم من الناس

“Ada lima hal yang barangsiapa melakukan salah satu diantaranya, ia akan mendapatkan jaminan dari Allah ‘azza wa jalla : Orang yang menjenguk orang sakit, atau keluar mengantarkan jenazah (untuk dikebumikan), berperang (di jalan Allah), menemui pemimpinnya dengan tujuan untuk menguatkannya atau memuliakannya, atau duduk di rmahnya sehingga orang-orang selamat dari kejahatannya dan ia pun selamat dari kejahatan manusia”. (HR Ahmad : 5/241 dishahihkan oleh Imam Al-Albani dalam Dzilalul Jannah : 2/490-491).

Dan dengan sanadnya dari Abu Bakrah radliyallahu ‘anhu, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

السلطان ظل الله في الأرض فمن أكرمه أكرم الله ومن أهانه أهانه الله

“Sulthan/penguasa adalah naungan Allah di muka bumi. Maka barangsiapa yang memuliakannya, niscaya Allah akan memulaikannya juga. Dan barangsiapa yang menghinakannya, niscaya Allah akan menghinakannya pula”.(Hadits Hasan lihat halaman 126)

Semisal dengan Al-Imam Ibnu Abi ‘Aashim adalah Al-Imam Abul-Qaasim Al-Ashbahaaniy – yang mempunyai julkan Qawaamus-Sunnah – saat ia berkata dalam kitabnya Al-Hujjah fii Bayaanil-Mahajjah wa Syarh ‘Aqiidah Ahlis-Sunnah jilid 2. Hal 409 : ‘Pasal Keutamaan Menghormati Amir’; yang kemudian membawakan hadits Mu’adz radliyallahu anhu di atas.

Telah berkata Al-‘Allamah Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin :

فالله الله في فهم منهج السلف الصالح في التعامل مع السلطان، وأن لا يتخذ من أخطاء السلطان سبيلاً لإثارة الناس وإلي تنفير القلوب عن ولاة الأمور، فهذا عين المفسدة، وأحد الأسس التي تحصل بها الفتنة بين الناس.
كما أن ملء القلوب على ولاة الأمر يحدث الشر والفتنة والفوضى.
وكذا ملء القلوب على العلماء يحدث التقليل من شأن العلماء، وبالتالي التقليل من الشريعة التي يحملونها.
فإذا حاول أحد أن يقلل من هيبة العلماء وهيبة ولاة الأمر ضاع الشرع والأمن.
لأن الناس إن تكلم العلماء لم يثقوا بكلامهم وأن تكلم الأمراء تمردوا على كلامهم، فحصل الشر والفساد.
فالواجب أن ننظر ماذا سلك السلف تجاه ذوي السلطان وأن يضبط الإنسان نفسه وأن يعرف العواقب.
وليعلم أن من يثور إنما يخدم أعداء الإسلام، فليست العبرة بالثورة ولا بالانفعال، بل العبرة بالحكمة …

“Ingatlah Allah, ingatlah Allah dalam memahami manhaj as-salafush-shaalih dalam berinteraksi dengan penguasa/sulthaan. Tidak boleh menjadikan kesalahan-kesalahan penguasa sebagai alasan untuk memicu kerusuhan di kalangan manusia dan menjauhkan hati mereka dari penguasa. Karena hal itu merupakan inti kerusakan dan salah satu sumber penyebab fitnah/kekacauan di tengah-tengah manusia.

Sebagaimana halnya memenuhi hati (manusia) dengan (permusuhan/kebencian) terhadap penguasa menyebabkan kejelekan, demikian juga memenuhi hati mereka dengan (permusuhan/kebencian) terhadap para ulama menyebabkan diremehkannya kedudukan para ulama. Dan berikutnya bahkan akan meremehkan syari’at yang mereka bawa.

Jika ada seorang yang berupaya menjatuhkan kewibawaan para ulama dan penguasa, maka akan terlantarlah syari’at dan keamanan. Karena jika para ulama berbicara, manusiapun tidak lagi mempercayai ucapan mereka. Dan jika penguasa berbicara, mereka terus-menerus akan menentangnya. Akibatnya, timbullah kejelekan dan kerusakan.

Maka wajib bagi kita memperhatikan jejak salaf dalam menyikapi para penguasa. Wajib pula masing-masing manusia membenahi jiwanya dan mengetahui akibat-akibat dari segala yang diperbuat.

Hendaklah dimengerti bahwa barangsiapa yang memberontak, maka sesungguhnya ia telah membantu musuh-musuh Islam. Bukanlah dinamakan (sebagai) suatu perbaikan jika ditempuh dengan jalan revolusi atau emosi. Tetapi yang diharapkan dalam perbaikan segala urusan adalah dengan cara hikmah” (Dinukil dari kitab Huququr Ra’I War Ra’iyyah).
Semoga Allah merahmati Sahl bin ‘Abdillah At-Tustari saat ia berkata :

لا يزال الناس بخير ما عظموا السلطان والعلماء، فإن عظموا هذين : أصلح الله دنياهم وأخراهم، وإن استخفوا بهذين : أفسدوا دنياهم وأخراهم

“Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka mengagungkan sulthan/penguasa dan ulama. Apabila mereka mengagungkan keduanya, Allah akan memperbaiki dunia dan akhirat mereka. Dan jika mereka meremehkan keduanya, Allah akan merusak dunia dan akhirat mereka”(Tafsir Al-Qurthubi : 5/260).

Wallahu a’lam

CATEGORIES
Share This

COMMENTS