Mu’aamalatul Hukkaam (6)

Mu’aamalatul Hukkaam (6)

Kaidah Ketiga : Apabila Tidak Berkumpul Syarat-Syarat Imamah pada Penguasa Baru, Akan Tetapi Kekuasaannya Kokoh dan Urusan Negara Berjalan di Tangannya, Maka Tetap Wajib Taat kepadanya dan Tidak Boleh Menentangnya
Al-Ghazali berkata :

لو تعذر وجود الورع والعلم فيمن يتصدى للإمامة – بأن يغلب عليها جاهل بالأحكام، أو فاسق – وكان في صرفه عنها إثارة فتنة لا تطاق، حكمنا بانعقاد إمامته.
لأنا بين أن نحرك فتنة بالاستبدال، فما يلقي المسلمون فيه – أي: في هذا الاستبدال – من الضرر يزيد على ما يفوتهم من نقصان هذه الشروط التي أثبتت لمزية المصلحة.
فلا يهدم أصل المصلحة شغفاً بمزاياها، كالذي يبني قصر ويهدم مصراً.
وبين أن نحكم بخلو البلاد عن الإمام، وبفساد الأقضية وذلك محال.
ونحن نقضي بنفوذ قضاء أهل البغي في بلادهم لمسيس حاجتهم، فكيف لا نقضي بصحة الإمامة عند الحاجة والضرورة ؟ !

“Meskipun terdapat kekurangan dalam hal ke-wara’-an dan ilmu dari orang yang merebut kekuasaan karena dirinya jahil/bodoh terhadap hukum atau bahkan fasiq, dimana jika ia diturunkan akan menimbulkan fitnah yang tidak bisa diatasi, maka kita hukumi kekuasaannya itu sah.

Karena, jika kita mengobarkan fitnah dengan usaha penggantian (kekuasaan), maka yang didapatkan kaum muslimin padanya  adalah semakin bertambah buruknya keadaan daripada sebelumnya. Walaupun kurang dalam hal persyaratan, akan tetapi kemaslahatan yang ada di dalamnya telah dapat dipastikan.

Oleh karena itu, tidak boleh merobohkan/menghilangkan asal kemaslahatan ini begitu saja, karena akan merusak keistimewaan yang terkandung di dalamnya. Perbuatan ini seperti membangun istana dengan meruntuhkan kotanya.
Suatu hal yang mustahil jika kita ingin berhukum (dengan hukum syar’i) sedangkan negara dalam keadaan kosong dari keberadaan imam dan rusaknya aturan perundang-undangan.

Kita tetap memutuskan terlaksananya hukum dari ahlul baghyi (pemberontak yang berhasil merebut kekuasaan) pada negeri mereka dikarenakan kebutuhan mereka akan keberadaan imam. Bagaimana kita tidak memutuskan keabsahan imamah karena alasan kebutuhan dan darurat ?”

Asy-Syathibi menukil perkataan Al-Ghazali yang semisal dengan ini dalam Al-I’tisham dalam contoh kasus Mashalihul Mursalah :

أما إذا انعقدت الإمامة بالبيعة، أو تولية العهد لمنفك عن رتبة الاجتهاد وقامت له الشوكة، وأذعنت له الرقاب، بأن خلا الزمان عن قرشي مجتهد مستجمع جميع الشروط وجب الاستمرار [على الإمامة المعقودة إن قامت له الشوكة].
وإن قدر حضور قرشي مجتهد مستجمع للورع والكفاية وجميع شرائط الإمامة واحتاج المسلمون في خلع الأول إلى تعرض لإثارة فتن، واضطراب الأمور، لم يجز لهم خلعه والاستبدال به، بل تجب عليهم الطاعة له، والحكم بنفوذ ولايته وصحةإمامته….

“Adapun jika imamah telah resmi ditetapkan dengan baiat atau ia berkuasa berdasarkan ijtihad yang ia tempuh. Kemudian (setelah berijtihad) ia mengumpulkan kekuatan, dan akhirnya manusia tunduk kepadanya, padahal jaman itu tidak ada seorang pun dari tokoh mujtahid Quraisy yang terhimpun padanya syarat (kepemimpinan), maka wajib dipertahankan [kepemimpinan resmi tersebut jika memang kekuasaan ia pegang/kendalikan].

Dan jika waktu itu ditakdirkan muncul seorang mujtahid dari Quraisy yang terkumpul padanya sifat wara’, ilmu yang cukup, dan terkumpulnya semua syarat-syarat kepemimpinan, kemudian kaum muslimin ketika hendak menggulingkan penguasa sebelumnya dihadapkan kepastian timbulnya fitnah dan kekacauan berbagai urusan (kehidupan manusia), maka dalam hal ini tidak diperbolehkan untuk menggulingkan dan menggantikannya. Bahkan wajib bagi mereka untuk tetap mentaatinya serta berhukum dengan kekuasaan pemerintah dan keabsahan kepemimpinannya….”

Kemudian Asy-Syathibi membawakan riwayat dari Malik bin Anas, lalu berkata :

فظاهر هذه الرواية أنه إذا خيف عند خلع غير المستحق وإقامة المستحق أن تقع فتنة وما لا يصلح، فالمصلحة الترك.
وروي البخاري عن نافع، قال :
لما خلع أهل المدينة يزيد بن معاوية، جمع بن عمر حشمه وولده، فقال : إني سمعت رسول الله ( يقول : (( ينصب لكل غادر لواء يوم القيامة ))، وإنا قد بايعنا هذا الرجل على بيعة الله ورسوله، وأني لا أعلم أحد منكم خلعه ولا تابع في هذا الأمر إلا كانت الفيصل بيني وبينه
قال بن العربي :
وقد قال ابن الخياط أن بيعة عبد الله لزيد كانت
كرها، وأين يزيد من ابن عمر ؟ ولكن رأى بدينه وعلمه التسليم لأمر الله، والفرار من التعرض لفتنة فيها من ذهاب الأموال والأنفس ما لا يفي بخلع يزيد، لو تحقق أن الأمر يعود في نصابه، فكيف ولا يعلم ذلك ؟
قال وهذا أصل عظيم فتفهموه والزموه، ترشدوا – إن شاء الله –

“Dzahir riwayat ini adalah bahwa jika dikhawatirkan ketika menggulingkan/mencopot orang yang tidak berhak dan menggantikannya dengan orang yang lebih berhak menimbulkan fitnah sertahal-hal yang tidak diinginkan, maka maslahat (yang hendak diraih) tersebut ditinggalkan.

Bukhari meriwayatkan dari Nafi’, ia berkata : Ketika penduduk Madinah memberontak kepada Yazid bin Mu’awiyah, Ibnu ‘Umar mengumpulkan keluarga dan anak-anaknya, dan berkata : “Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

‘Akan ditancapkan bendera bagi setiap pengkhianat pada hari kiamat kelak’. Dan sesungguhnya kami telah berbaiat kepada laki-laki ini di atas baiat Allah dan Rasul-Nya. Dan aku tidak tahu salah seorang diantara kalian jika melepaskan baiatnya, atau tidak pula ia mengikuti urusan ini (yaitu berbaiat), akan menjadi pemisah antara aku dengan dirinya.”

Ibnul Arabi berkata : “Ibnul Khayath berkata : ‘Bahwasannya bai’at Abdullah bin Umar kepada Yazid dilakukan karena terpaksa’. Dimana kedudukan Yazid dibandingkan Ibnu Umar (sehingga dikatakan baiatnya dilakukan secara terpaksa) ?

Akan tetapi, Ibnu Umar melakukannya karena pandangan agamanya, ilmunya, ketundukannya terhadap perintah Allah, serta menghindari timbulnya fitnah padanya dari hilangnya harta dan jiwa atas usaha pemberontakan terhadap Yazid, seandainya pun dapat dipastikan perkara (imamah) dapat kembali kepada yang lebih berhak. (Lantas), bagaimana halnya jika hal itu tidak dapat dipastikan ? (tentu lebih tidak diperbolehkan lagi).

Ini satu pokok yang sangat besar (dalam permasalahan ini), maka pahamilah dan tetapilah ia yang dengannya kalian dibimbing insya Allah.

(Mu’aamalatul Hukkaam : 29-32).

CATEGORIES
Share This

COMMENTS