Konsultasi

Minta Di Rukyah Karena Jahil, Bisakah Masuk Surga Tanpa Hisab? Hukum Dan Penjelasannya

Pendaftaran Grup WA Madeenah

Minta Di Rukyah Karena Jahil, Bisakah Masuk Surga Tanpa Hisab? Hukum Dan Penjelasannya

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang Minta Di Rukyah Karena Jahil, Bisakah Masuk Surga Tanpa Hisab? Hukum Dan Penjelasannya selamat membaca.

Pertanyaan:

Bismillaah Ahsanallaahu ilaikum Ustadz, ana ijin bertanya ustadz. Jika ada seseorang yang dulu saat masih bersekolah di bangku SMA pernah mengikuti ruqyah masal yang diadakan oleh guru agama disekolahnya.

Dia mengikutinya karena penasaran dan memang karena kebodohannya belum mengetahui tentang hukum minta diruqyah. apakah masih ada kesempatan baginya masuk surga tanpa hisab dan adzab ustadz ? Jazaakumullaahu khayraa wa baarakallaahu fiikum ustadz.

Ditanyakan oleh Santri Mahad Bimbingan Islam


Jawaban:

Semoga Allah membaguskan diri kita semua untuk terus mencari keridhoaaNya dalam setiap amal yang kita lakukan.

Sungguh besar niat baik anda untuk mendapatkan surga yang Allah janjikan, semoga Allah mudahkan jalan kita semua menuju surgaNya. Memang tidak mudah mendapatkan apa yang diinginkan, perjuangan berat dan panjang dari orang orang yang dikhususkan bagi mereka yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab, terlebih jumlah sangat terbatas.

Siapakah kita, pantaskah untuk masuk di dalamnya? dari mereka para hamba yang sangat spesial, terlebih dengan apa yang sudah kita lakukan dari ibadah dan pengorbanan, bisa jadi jauh dari standart.

Namun bukan berarti tidak bisa, terlebih merasa jalan terlihat tertutup karena ada sifat/halangan yang telah kita lakukan di masa silam, karena kejahilan yang tidak kita tahu, seakan tertutup semuanya. Teteplah optimis untuk bisa mendapatkan apa yang diharapkan, jalan masih terbuka, insyaallah.

Karena banyak nash-nash yang menyatakan bahwa amalan yang dilakukan karena kejahilan, sehingga larangan dan kewajiban seringkali tergantung dengan ilmu yang ada dalam diri seseorang.

Berharap, Allah akan memaafkan karena kewajiban dari suatu ketetapan datang setelah adanya ilmu, sebagaimana kaedah yang disampaikan oleh Syaikhu Islam Ibnu Taimiyah. Beliau rahimahullah mengatakan,

أَنَّ الْحُكْمَ لَا يَثْبُتُ إلَّا مَعَ التَّمَكُّنِ مِنْ الْعِلْمِ

“Hukum tidaklah ditetapkan kecuali setelah sampainya ilmu.” (Majmu’ Al Fatawa, 19: 226).

Beliau juga mengatakan yang maksudnya sama,

وَلَا يَثْبُتُ الْخِطَابُ إلَّا بَعْدَ الْبَلَاغِ

“Tidaklah ditetapkan hukum melainkan setelah sampainya ilmu.” (Majmu’ Al Fatawa, 22: 41).

Yang perlu kita lakukan sekarang adalah terus membaguskan amalan kita, baik dengan hisab ataupun tidak, sangat berharap Allah mengampuni kita dan memasukkan diri kita ke dalam surganya, tetaplah optimis dengan apa yang ingin kita dapatkan , berdoa dan berusaha serta berprasangka baik kepadaNya harus selalu di jaga.

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasalam ,”

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : [1] مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat).” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 6970 dan Muslim, no. 2675]

Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Sebagian ulama mengatakan bahwa maknanya adalah Allah akan memberi ampunan jika hamba meminta ampunan. Allah akan menerima taubat jika hamba bertaubat. Allah akan mengabulkan doa jika hamba meminta. Allah akan beri kecukupan jika hamba meminta kecukupan. Ulama lainnya berkata maknanya adalah berharap pada Allah (raja’) dan meminta ampunannya” (Syarh Shahih Muslim, 17:3).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اُدْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ

“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi, no. 3479. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Dengan semua pintu surga yang bisa di dapatkan, dihisab ataupun tidak, bila Allah perkenankan seorang hamba untuk bisa menginjakkan kakinya di dalam surganya walaupun tahapan berliku harus dilakukan maka hal itu telah menjadi karunia yang sangat besar sekali dalam kehidupan abadi seorang manusia yang terus berjuang.

Walaupun, bisa jadi harus dengan hisab yang sangat melelahkan ataupun harus dengan siksa terlebih dahulu walau benar benar tidak kita inginkan, semoga Allah melindungi kita semua dari setiap siksanya.

Karena terlalu banyak fitnah dan kesalahan yang melanda, berkali-kali terjebak di dalam kubangan dosa yang seringkali menggoda bila tidak sangat berhati-hati, maka cita dan keinginan untuk masuk surga atau bahkan masuk surga tanpa hisab sulit kita wujudkan.

Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata,”

المؤمنُ جَمَعَ إِحسانًا وشَفَقَـةً، والمنافقُ جَمَعَ إساءةً وأمنًا، ثم تلا الحسن: إِنَّ ٱلَّذِينَ هُم مِّنۡ خَشۡيَةِ رَبِّهِم مُّشۡفِقُونَ

“Seorang mukmin (adalah orang) yang mengumpulkan (dua hal dalam dirinya, yaitu): beramal yang berkualitas, dan (di sisi lain) khawatir (amalnya tidak diterima). (Sedangkan) orang munafik menggabungkan (dua hal pada dirinya, yaitu): buruk (amalannya) dan merasa aman (dari siksa Allah). Kemudian Hasan Al-Bashri membacakan (ayat), “Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka.” (Tafsir Ath-Athabari, 68: 17)

Sebagaimana kasih sayang Allah Ta’ala adalah sesuatu yang menggiring orang beriman untuk menambah hal-hal yang bermanfaat dan amal-amal yang mendekatkannya pada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,

أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ يَبۡتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ ٱلۡوَسِيلَةَ أَيُّهُمۡ أَقۡرَبُ وَيَرۡجُونَ رَحۡمَتَهُۥ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُۥٓۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحۡذُورٗا

“Orang-orang (shalih) yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” (QS. Al-Isra’: 57)

Maka seorang ‘ibadurrahman memanjatkan doa dalam diri mereka,

رَبَّنَا ٱصۡرِفۡ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَۖ

“Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berdoa,

اللّهمّ إٍني أَسْأَلُكَ الْجَنَّـةَ، وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِن قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ النَّارِ، وَمَا قَـرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قولٍ أَوْ عَمَلٍ

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu surga, dan apa-apa yang mendekatkan aku kepadanya (surga) baik berupa perkataan maupun perbuatan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka, dan apa-apa yang mendekatkan kepadanya (neraka), baik berupa perkataan maupun perbuatan.”

(HR. Ibnu Majah no. 3846, dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Silsilatu Ash-Shahiihah no. 1542)

Semoga Allah mudahkan semua untuk selalu meniti jalan yang diperintahkan, Allah masukkan surga dan Allah lindungi kita semua dari siksaNya. Aamiin.

Wallahu a`lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله

Kamis, 21 Jumadil Awal 1444H / 15 Desember 2022 M 


Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi BimbinganIslam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله klik di sini

  1. يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي ، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ، ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي ، وَإِنْ ذَكَرنِي فِي مَلَأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ

Ustadz Mu’tasim, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid

Related Articles

Back to top button