Merasa Diri Tidak Berdosa, Pantaskah?

Merasa Diri Tidak Berdosa, Pantaskah?

Banyak dari kita merasa diri tidak berdosa. Hal itu tercermin dari perkataan sebagian kita: Ya Allah, apa dosaku? hingga Engkau memberi ujian seberat ini?

Merasa Diri Tidak Berdosa, Pantaskah?

Adakah anda sudah sadar bahwa kita adalah pendosa!? dan sejelek-jelek perasaan adalah merasa tidak berdosa!? Saudaraku ketahuilah sungguh perasaan tidak merasa berdosa adalah kain kafan yang membungkus hati yang mati. Hati yang mati tak akan merasakan lagi perasaan bersalah. Semoga Allah menganugerahi kita hati yang peka terhadap nasehat dan dosa-dosa kita.

Teladan dalam menyikapi dosa

Saudaraku, orang-orang shalih dahulu, yaitu salafus shalih, begitu peka terhadap dosa-dosanya. Sampai ada yang berkata: “Tikus-tikus yang menganggu di rumahku ini adalah karena dosa-dosaku.”

Sufyan Ats Tsauri berkata: “Aku pernah tidak bisa shalat malam selama lima bulan karena satu dosa yang aku lakukan.” Temannya bertanya, “Dosa apa itu?” “Aku melihat seseorang menangis dan dalam hati aku berkata, ‘Orang itu menangis hanya untuk dipuji saja,’” jelas Sufyan.

Subhanallah, beliau saja tahu dosa yang dilakukan dan tahu dengan pasti akibatnya terhadap diri. Sebaliknya, di zaman ini pelakunya tidak bisa mengenalinya. Tidak peka atas apa yang menimpanya. Itulah sebabnya muncul perkataan, “Ya Allah, apa dosaku? hingga Engkau memberi ujian seberat ini?”

Nasehat dari para Ulama

Perasaan mendongkol akibat tak peka dan tak merasa diri berdosa itulah yang menggerogoti kalbu anak Adam zaman sekarang. Na’udzu billahi min dzalik. Seharusnya seorang mukmin selalu mengolah hatinya dan menyadari hatinya itu fakir. Ibnul Qayyim (seorang alim pakar hati) rahimahullah berkata: “Di dalam hati itu terdapat kefakiran, yang tidak dapat ditutup kecuali dengan rasa cinta dan kembali kepada Allâh, senantiasa berdzikir, dan ikhlas dengan sebenar- benarnya keikhlasan. Karena sekalipun dunia beserta isinya diberikan kepadanya, tidaklah akan menutupi kefakiran di dalam hatinya untuk selamanya.” (Madârijus Sâlikîn karya Imam Ibnul Qayyim, 3/156.)

Saudaraku rasa takut yang tidak berefek pada putus asa, namun mengantarkannya untuk menjauh dari dosa, bertaubat darinya dan bermujahadah (bersemangat) dalam segala lini kebaikan. Semangat ini yang mestinya kita tiru dan jaga. Jikalau kita belum merasa memiliki banyak salah, cobalah kita renungkan berapa banyak jenis kewajiban yang harus kita tunaikan, kita tidak tahu persisnya, bagaimana bisa kita merasa sudah melakukan semuanya, sehingga tidak menyisakan dosa. Berkata Ibnu Hazm rahimahullah:

وإذا رأيتم من يعتقد أنه لا ذنب له فاعلموا أنه قد هلك ، وإن العُجْب من أعظم الذنوب وأمحقها للأعمال ، فتحفظوا حفظنا الله وإياكم من العُجب والرياء

Dan jika kalian melihat seorang yang berkeyakinan bahwa ia tidak berdosa, maka ketahuilah sesungguhnya ia telah binasa. Dan sungguh ‘ujub adalah dosa besar dan paling menghancurkan amalan, maka jagalah, semoga Allah menjaga kita semua dari sifat ‘ujub dan riya’. (At Talkhis Li Wujuhit Takhlish: 1/163.)

Saudaraku, jangan pernah terbersit pikiran bahwa melakukan dosa atau maksiat tidak akan mendapatkan hukuman. Terlebih merasa bangga dengan berkata: “Itu buktinya, mereka bermaksiat tapi rezeki mereka tetap saja lancar. Meraka tidak pernah ibadah, eh hidupnya damai-damai saja.”

Saudaraku, tidaklah seorang hamba mendapatkan hukuman yang lebih berat daripada hati yang keras dan jauh dari Allah. Lalu adakah yang lebih bahaya dari hukuman semacam ini, Astaghfirullah waatubu ilaih.

Penutup

Saudaraku sebagai penutup jadilah kita semua sebagai orang yang selalu peka terhadap dosa-dosa. Kembalilah kepada Allah dengan jalan taubat. Bukankah ampunan Allah itu bisa menenggelamkan dosa-dosa seluruhnya? Dan camkanlah baik-baik, bagaimana dengan keridhaan Allah? Tentu keridhaan Allah itu bisa memenuhi semua harapan, bukan cuma harapan palsu yang selalu anda dengungkan. Wallahu a’lam.

Ditulis Oleh:
Ustadz Abu Ruwaifi’ Saryanto, S.Pd.I. حفظه الله
(Kontributor Bimbinganislam.com)



Ustadz Abu Ruwaifi Saryanto, S.Pd.I.
Da’i mukim Yayasan Tebar Da’i Mukim di Bandungan, Alumni STAI Ali Bin Abi Thalib,
Mahasiswa Magister Hukum Islam di Universitas Muhammadiyah Surakarta
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Abu Ruwaifi 
klik disini

CATEGORIES
Share This

COMMENTS