Meraih Keberkahan Ilmu Agama bimbingan islam
Meraih Keberkahan Ilmu Agama bimbingan islam

Meraih Keberkahan Ilmu Agama

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang pembahasan meraih keberkahan ilmu agama.
selamat membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla selalu menjaga ustadz dan keluarga. Saya mau bertanya ustadz.

Ana mau bertanya apa saja yang menyebabkan ilmu seseorang itu menjadi berkah agar mudah untuk ia amalkan. Karena ana sudah mengetahui beberapa hal namun belum mampu untuk mengamalkannya karena kelemahan iman, jadi bagaimana caranya agar setiap ilmu yang didapatkan kita bisa mengamalkannya tanpa perasaan yang berat?
Jazaakallaahu khairan katsiiraa

(Disampaikan oleh Fulan, Santri Kuliah Islam Online Mahad BIAS)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Semoga Allah berikan kepada anda dan kita semua ilmu yang berkah dan bermanfaat.

Dengan apa yang telah di tanyakan, dan adanya rasa keinginantahuan dari keberkahan dari ilmu yang selama ini di dapat, berharap ini sebagai pintu kebaikan untuk terus memperbaiki kehidupan kita dengan ilmu dan bisa menjalankannya dengan baik, sehingga kebahagiaan di dunia dan di akhirat dapat dihasilkan.

Makna Keberkahan Ilmu

Syekh Abdul Malik al-qasim menjelaskan makna barokah secara umum dengan mengatakan,
”Bahwa manusia di kehidupan dunia ini menginginkan tambahan kebaikan baik dari waktu, umur, harta, anak dan semua apa yang disuka, dari segala hal yang dianggap sebagai sumber kebahagiaan dalam kehidupannya. Seorang muslim akan berdoa kepada Allah agar diberi keberkahan untuknya sebagaimana Nabi juga meminta kepada Allah untuk diberikan keberkahan dalam banyak perkara.

Berokah adalah kebaikan Allah yang Dia sematkan kepada sesuatu. Barokah itu bila melekat pada sesuatu yang terlihat sedikit, maka Allah jadikan banyak/cukupkan dengannya kebutuhannya, bila diberikan kepada yang banyak ia mendatangkan manfaat, dan paling besarnya dari apa yang dirasakan dari buah keberkahan dalam suatu perkara adalah tatkala sesuatu yang berkah itu dapat menghantarkan pemiliknya kepada jalan ketaatan kepada Allah azza wa jalla.

Syekh Al-qasimi juga menjelaskan terkait dengan keberkahan ilmu, ia berkata,
“Berkahnya suatu ilmu itu dapat terlihat/dirasakan dengan jelas. Tidak banyak dari manusia yang telah Allah berikan untuk membersihkan dirinya dengan ilmu, dimana Allah berikan manfaat kepadanya dengan menjadi seorang guru, menjadi dai ataupun pegawai atapun selainnya (dari orang yang dapat memberikan manfaat kepada umat dari ilmu yang ia miliki). Bahkan sebaliknya, Banyak yang telah Allah berikan ilmu , namun ternyata tidak banyak orang yang mengambil manfaat darinya.

Baca:  Bagaimana Bentuk Shodaqohnya Seorang Ibu Rumah Tangga?

Keberkahan bila Allah turunkan, lingkupannya mencakup semua perkara. Baik dalam hartanya, anaknya, waktunya, pekerjaannya, hasil produksinya, istrinya, ilmunya, dakwahnya, tunggangannya, rumahnya, akalnya, tubuhnya, temannya. Karenanya, pembahasan tentang masalah barokah ini adalah sesuatu yang sangat penting dan sangat krusial untuk diketahui.”

Di dalam beberapa keadaan berbeda, syekh Utsaimin memberikan penjelasan terkait dengan makna keberkahan pada suatu ilmu dan pemiliknya, beliau berkata,
“Barokah yang Allah berikan kepada manusia ada beberapa ragam, diantaranya barokah pada ilmunya. Dimana, ia tidaklah duduk di suatu tempat kecuali manusia mengambil manfaat dengan ilmunya. Tidak diragukan lagi bahwa keberkahan dalam diri manusia ketika ia semangat di dalam menyebarkan ilmu, meniti jalan untuk terus melaju dan mengembangkan ilmunya dengan berbagai cara ia lakukan, untuk menjadikan manusia antusias terhadap ilmu yang sedang di cari, sehingga ia tidak menjadikan manusia sekitarnya menjadi bosan dengan ilmu.”

Sebagaimana yang di nasihatkan oleh syekh Ibnu Utsaimin dalam beberapa kesempatan, ketika beliau berbicara tentang barokah ilmu, beliau mengatakan,
”Semestinya seseorang itu menjadi berkah dengan ilmunya, dengan ilmu yang dimiliki ia dapat mengambil manfaat dan beribadah kepada Allah. Juga di antara keberkahan ilmu yaitu dengan cara menyebarkan dan mengajarkan ilmunya di tengah umat, atau dengan mengarang dan menuliskannya. Lihatlah keberkahan ulama terdahulu yang telah menulis dan mengarang (kitab), bagaimana umat mengambil manfaat pada saat ini dan sampai waktu yang Allah kehendaki, sehingga dengan ilmu, ia mempunyai keberkahan yang besar buat manusia.

Kebanyakan, bila seseorang yang berdakwah untuk dirinya -dan semoga Allah melindungi kita semua-  maka ilmunya menjadi tidak barokah. Dan orang yang menginginkan kebenaran, Allah akan berikan keberkahan dengan ilmunya. Walaupun ketika ia berbicara/mengajar kepada orang yang mempunyai tingkatan ilmu rendah (baru belajar, ia tetap bisa mengambil manfaat darinya). Kita banyak dapatkan orang orang yang mempunyai niat dan tujuan mulia, bila berbicara, mereka menjelaskan dengan ungkapan yang mudah, walaupun kepada orang yang baru belajar. Disebabkan dalam diri mereka pengaruh kuat dari niat yang benar dan kekuatan dalam menjelaskan kebenaran.”

Banyak faktor yang mempengaruhi keberkahan dan kemanfaatan ilmu  yang kita pelajari dan kita miliki. banyak para ulama yang memberikan nasihat dalam hal ini, silahkan bisa membuka kembali kitab adab dalam mencari ilmu atau siroh para ulama dalam mencari dan mengajarkan ilmu, bagaimana keberkahan ada dalam ilmu dan amal mereka.

Sedikit mencoba untuk meringkaskan apa yang pernah di dapatkan dalam usaha mendapatkan keberkahan dalam mencari ilmu, sehingga benar benar ilmu yang didapakan mempunyai pengaruh dalam amal ibadah nyata dan kebahagiaan di dalam kehidupan kita dan masyarakat kita.

Baca:  Hukum Makan Dan Minum di Majelis Ilmu

Diantara lain yang perlu di perhatikan dalam usaha mencari keberkahan:

1. Meminta ampun dengan segala kekurangan dan perbuatan kita. Baik dalam mencari ilmu atau dalam menjalankan amal ibadah yang lainnya. Ilmu adalah cahaya, sulit untuk mendapatkan keberkahan cahaya tersebut, bila kita merasa tahu dari dzat yang Maha Tahu dan merasa sempurna dari amalan yang jauh dari kata sempurna. Karena keberkahan ilmu itu juga sangat di tentukan dengan beberapa hal :

A. Keikhlasan dan tujuan kita dalam kita mencari ilmu.

B. Adab yang dilakukan ketika dulu/sedang mencari ilmu. Bila tanpa adab atau kurang adabnya dalam memuliakan ilmu, guru atau majelis ilmu, bisa jadi akan menyebabkan ilmu yang di dapat tanpa banyak menghasilkan manfaat.

C. Materi dan tahapan belajar yang kurang tepat, tidak sesuai dengan tingkatannya dan lompat dari kemampuan yang dimilikinya, sehingga ia tidak paham atau salah paham atau bahkan cepat berputus asa dalam mencari dan mengamalkan ilmu.

D. Jauh dari qudwah bagaimana para ulama salaf dalam belajar dan beramal. Merasa pintar, zaman modern tidak sama dengan zaman terdahulu, tidak perlu talaqqi/duduk di majelis ilmu, mencukupkan diri dengan kecanggihan elektronik dan sebagainya dari sikap yang tidak mau mengikuti bagaimana para ulama belajar dan mendapatkan ilmu.

2. Teman dan komunitas yang baik dan kondusif, yang bisa mendorong untuk terus belajar dan beramal dengan ilmu yang di pelajari. Bila orang orang yang di sekeliling kita tidak mendukung, biasanya malah akan mundur ke belakang, hasilpun tidak bisa maksimal.

Menukitkan point penting dengan apa yang di sebutkan oleh syekh Abdul Malik alqasimi ketika menjelaskan cara mendapatkan keberkahan dalam harta dan usaha kita, ada beberapa yang bisa kita sebutkan secara singkat dan bisa kita terapkan dalam mencari keberkahan, baik dalam bekerja ataupun dalam usaha mencari ilmu.

Diantara point yang beliau sebutkan terkait bagaimana dan cara mendatangkan keberkahan :

Pertama: dengan bertaqwa kepada Allah. Sebagaimana firmanNya:

 ولو أن أهل القرى آمنوا واتقوا لفتحنا عليهم بركات من السماء والأرض – الأعراف:96
وقال تعالى : { ومن يتق الله يجعل له مخرجا ، ويرزقه من حيث لا يحتسب } – الطلاق: 2 – 3

Kedua : Membaca alquran. Karena alquran yang penuh berkah, memberikan manfaat kepada hati dan anggota tubuh kita. Sehingga dalam seluruh perkara kehidupan kita, tidak akan bisa terlepas dari pengaruh keberkahan alquran. Karenanya dalam tahapan menuntut ilmu, para ulama mengedepankan untuk mempelajari terlebih dahulu dengan alquran, baik dalam membaca, menghafal dan mengamalkan isi alquran.

Baca:  Hukum Meminjam Identitas Teman Dalam Hutang Ribawi

Ketiga: berdoa, untuk diberikan kemudahan dan keberkahan dengan rizki dan ilmu yang di cari.

Keempat: Tidak pelit dengan apa yang dimiliki dari harta dan sedikit ilmu untuk ditularkan/diberikan, serta juga ia baguskan cara dalam mewujudkan target keberhasilan.
Kelima: Menjaga kejujuran dalam bermuamalah dan usaha mewujudkan keberhasilan.

Keenam: Tidak menunda dan segera dalam berusaha (bekerja dan belajar), seawal dan sesegara mungkin, tanpa banyak menunda waktu bila ada kesempatan.

ketujuh: berusaha mengikuti dan mengamalkan sunnah nabi dalam banyak hal.

kedelapan: memperbagus cara bertawakkal kepada Allah. Karena orang yang bertawakal kepada Allah, Allah berjanji akan mencukupkan kebutuhannya.

kesembilan: Istikharah kepada Allah dalam banyak hal, dalam berusaha dan beramal. Sehingga Allah berikan kemantapan pilihan yang tepat dan di diridhoi-Nya.

kesepuluh : Tidak mengemis manusia dalam mencari rizki, pun juga dalam mencari ilmu, ia akan berusaha mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk mendapatkannya.

Kesebelas: Berinfak dan bershadaqah, karena akan mendatangkan rizki dan ilmu yang lainnya. Shadaqahnya ilmu dengan cara menyebarkan dan mengajarkannya.

Keduabelas: menjauhkan diri dari segala bentuk cara dan harta yang haram. Terutama dalam berjual beli dan bermuamalah serta dalam mencari keberhasilan nilai nilai yang menghiasi raport/ijasah.

ketigabelas: Bersyukur dan selalu memuji Allah dengan segala pemberian-Nya. Berharap Allah meridhoi dan menambah lebih baik dari rizki yang telah diberikan.

Keempatbelas: menjaga Kewajiban, terutama sholat lima waktu, karena mengesampingkan kewajiban terutama sholat lima waktu, adalah kemaksiatan yang dapat menyirnakan keberkahan dalam diri manusia.

Kelima belas : selalu banyak beristighfar dan meminta ampun dari segala kekurangan. Atas kelalaian kita dalam berjuang dan memanfaatkan peluang.

Tiada salahnya terus belajar, dan memperbaiki sistem belajar dengan duduk bersama para ulama untuk memberikan arah bagaimana kita belajar dan beramal, sehingga keberkahan, kebenaran dan kebahagiaan dalam mencari ilmu benar benar kita wujudkan., untuk menghantarkan kita semua ke dalam surga Allah ta’ala.

اللهم بارك لنا فيما أعطيتنا واجعله عونا على طاعتك، وصلى الله وسلم على نبينا وآله وصحبه أجمعين
Sumber : Alukah البركة 
Saaid البركة 

Wallahu ta’ala a’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh :
Ustadz Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله
Kamis, 26 Rabiul Awwal 1442 H/ 12 November 2020 M



Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi Bimbingan Islam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله 
klik disini